MEREKA YANG TIDAK TERPILIH

Kita berbaik sanghka  bahwa paramenteri yang saat ini tidak terpilih kembali untuk menjadi Menteri lagi, justru mereka akan merasa bersyukur karena dapat terbebas dari beban dan tanggung jawab besar yang selama ini dipikulnya. Biasnya orang awam hanya  dapat menduga bahwa menjadi pejabat itu enak dan mendapatkan berbagai fasilitas dan lainnya, namun bagi mereka yang sungguh sunghuh dalam mengabdi, sesungguhnya jabatan itu sungguh berat dan memerlukan pengorbanan, sehingga ketika saat ini tidak diminta lagi untuk membantu presiden sebagai Menteri, pastinya akan besyukir karena sudah  selesai yugas beratnya.

Barangkali hanya mereka yang gila jabatan sajalah yang merasa sedih dan bagai terbuang begitu saja, karena  yang dilihatnya hanya jabatan, bukan sebuah pengabdian dan tanggung jawab. Berbahagialah mereka yang merasakan kebahagiaan saat tidak lagi terpulih sebagai Menteri, karena akan semakin dapat focus keada keluarga atau mungkin kepada bisnis yang selama lima tahun ditinggalkannya untuj mengurusi negara. Namun kita dapat mengerti juga bahwa sifat manusia itu kebaynyakan akan mencintai sebuah jabatan dan harta, dan hanya sedikit saja mereka yang dapat menikmati masa setelah mengabdi karena dapat  beristirahat dan mengerjakan sesuatu yang menjadi kebutuhannya dan keinginannya sendiri.

Kita melihat ada beberapa Menteri yang diperkirakan oleh masyarakat bakal dipilih kembali menjadi Menteri karena prestasi kerjanya begitu bagis, namun dalam kenyataannya justru mal;ah tidak dipanggil untuk menjadi Menteri lagi. Sebut saja Menteri Susi Pujiastuti yang prestasi kerjanya mentereng dan  semua orang juga menduga dnegan pasti bahwa dia bakal dipanggil kembali untuk membantu presiden, namun setelah pengumuman cabinet, ternya namannya tidak tercantum dalam daftara yang dilantik. Mungkin  ada yang kecewa tetapi sangat mungkin juga banyak yang tertawa, karena  sepak terjang bu Susi begitu hebatnya sehingga banyak pihak yang merasa dirugikan dan sakit hati.

Namun sebagai warga bangsa yang menginginkan negeri kita menjadi lebih baik, tentu kita sedikit kecewa, tetap[I tentu presiden sudah memikirkannya sedmeikian trupa sehingga apa yang Sudha dijalankan oleh bu Susi tentu akan dapat dilanjutkan oleh penggantinya. Bagi bu Susi sendiri tentu tidak masuk dalam cabinet itu merupakan sebuah anugerah katena beliau akan mampu bergek denganbebas dalam menjalankanndan mengembangkan bisnisnya. Justru kalau boleh dinilang pada sata menjadi Menteri langkahnya menjadi sangat terbatas dan bisnisnya menjadi kurang berkembang. Jadi itu kesimpulan kita bahwa  ungtuk masalah Menteri ini jusru bu Susi menjadi sangat senang.

Pada lain pihak kita juga menyaksikan betapa banyaknya pihak yang berharap menjadi Menteri, dengan mengerahkan segala daya dan upaya untuk mendapatkan  hati di presiden, namun kenyataannya justru malah tidak disenggol, padahal dalam dunia maya  dan media social seolah iyu sudah pasti dan bagi pihak yang dmeikian tentu akan terasakan sakit dan kedewa yang sangat.  Bnayak pihak, baik perorangan, partai [olitik dna juga ormas yang berharap banyak dan saat pilpres juga sudah melakukan berbagai macam pembelaan yang liar biasa kepada presiden terpoilih, tetapi  setelah cabinet diumumkan ternyata  banyak diantara mereka yang kemudian kecewa berat.

Bagi kita saat ini justsru akan dapat enilai kepafa pihak pihak tertentu bahwa apa yang diupayakan beberapa wktu lalu ternyata bukan sebuah ketulusan, melainkan sebuah keinginan  mendapatkan jabatan, dan saat tidak didapatkannnya maka kemudian  negmbek dan bahkan mungkin melakukan perlawanan. Kita juga tahu banyak partai politik yang sangat kedcewa dengn komposisi cabinet sekarang ini. Demikian juga  ormas dana lainnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh projo yang kecewa karena tidak ada perwakilannya yang diakomodasi menjadi Menteri, lalu membubarkan diri dan lepas tangan untuk menjadi bemper presiden.

Demikian juga sebagian oknum dalam ormas tertentu juga mengutarakan kekecewaannya terhadap cabinet yang sudah dilantik  tersebut, karena tidak ada wakil dari  oraganisasi etrsebut.  Seharusnya  semua pihak menyadari bahwa Menteri itu merupakan hak prerogative presiden, sehingga apapun yang ditetapkan oleh presiden itulah yang dianggap  baik untuk dapat membbantunya dalam mengelola negara. Semua pihak boleh boleh saja mengusulkan untuk ditampung sebagai Menteri, tetapi keputusan akhir ada pada presisen. Jika kita berpikir positif dmeikian, tentu tidak ada lagi istilah ngambek atau kecewa dan sejenisnya.

Karena itu sekali lagi jika  bukan merupakan haknya sebaiknya tidak usah terlalu berharap untuk dapat memetiknya, karena pasti kalau tidak mampu, justru akan lebih kecewa dan sakit. Banyak pihak yang berupaya memikat preiden dengan berbagai cara yang memungkinkan untuk dilakukan,  dengan harapan nantinya akan dipilih menjadi menterinya, namun presiden tentu mempunyai pertimbangan tertentu setelah berdiskusi dnegan timnya uantuk memilih siapapun yang  diprediksi akan mampu membantunya dalm menjalankan roda pemerintahan untuk lima tahun ke depan. Jadi ininya tidak ada  satu pihak pun yang berhak untuk kecewa dan sakit hati karena itu merupakan hak presiden dan bukan hak pihak lain.

Atau mungkin untuk sedikit mengobati rasa kecewa yang ada  mungkin dapat melihat kepada pihak lain yang juga gtidak dipilih menjadi Menteri, karena kenyataan tersebut tengtu lebih banyak. Artinya mereka yang berharap menjadi Menteri dan terplih iyu sangat sedikit disbanding yang berharap lalu tidak terpilih. Nah, jika saling melihat kepada yang tidka terpilih, maka  akan sedikit menjadi obat baginya  karena ternyata dia tidak sendirian.  Smeua yang berharap tentu sudah brusaha melakukan banyak hal untuk emmikat hatui presiden, namun  tebakan memikat harti tersbeut ternyata tidak manjur, alias masih terkalahkan oleh keputusan presiden untuk memilih pembantunya.

Mudah mudahan kondisi tersebut akan segera kembali pulih sebagaimana  sebelumnya dan  bangsa ini akan dapat menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya. Hal yang penting ungtuk kita harapkan ialah para Menteri tersbeut akan segara dapat bekerja dan menjalankan kewajiban serta tanggung jawab agar  smeua hal dapat berjalan sebagaimana mestinya, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.