MENGAPA HARUS MENGINGKARI KENIKMATAN

Semua orang pasti juga mengakui bahwa Allah swt telah memberikan nikmat yang snagat luar biasa kepada seluruh makhluk Nya, baik yang diakui oleh mereka maupun yang tidak diakui atau bahkan diingkari oleh mereka. Namun  dmeikian Allah swt tidak p[e[rnah meminta balasan keada makhl;uk Nya untuk kenikmatan yang sudah diberikan Nya. Cuma memang ada sebuah kewejiban yang seharusnya dijalankan oleh makhluk yang berpikir dan merasa mendapatkan nik,at dari Allah swt. Kalaupun kemudian mereka tidak juga menjalankan kewajiban etrsebut Allah tidak akan terpengaruh sedikit pun karena memang Dia tidak emmbutuhkan ibadah makhluk Nya tersebut.

Justru makhluk itulah yang semestinya membutuhkan kepada Nya karena smeua hal di dunia ini pasti atas kehendak Nya dan juga ke[utusan Nya. Karena itu tidak ada satu pun makhluk yang dapat menentukan hidupnya sendiri, terkecuali dia itu sebagai orang yang sombong, padahal sama seakli tidak mempunyai kekuatan apapun dan tdk dapat menjalankan apapun tanpa aijin Nya. Memang di dunia ini Tuhan belum menunjukkan balasan ke[ada aamalan apapun dan siapa pun, karena dunia ini memang bukan tempat pembalasan, melainkan hanya tempat untuk menanam atau menjalankan sesuatu.

Namun pertanyaannya ialah bagaimana dengan  sesuatu yang terjadi ke[ada makhluk Allah swt, yang menurut kebanyakan orang adalah sebegai pembalasan atas perbuatannya. Sejatinya apa yang banyak disebut oleh orang  sebagai pembalasan dan adzb di dunia ini hanyalah sedikit saja  percobaan dan belum merupakan pembalasan atau adzab, karena kalau balaasn sudah disampaikan di dunia ini, akan banyak orang yang tidka mam[u menanggungnya, karena sakit hebatnya  dan sakitnya adzab tersebut. Barangkali diberikannya sebagai cobaan atas sedikt saja yang diti,pala kepada seseorang itu dnegan maksud agar orang tersbeut menyadari bahwa belum pembealasan saja sudah demikian hebatnya, apalagi kalau nanti benar benar ada pembalasan.

Di dunia ini yang ada a hanyalah kerunia dari Allah swt, yakni berupa kenikmatan, baik yang menurit mata manusia sebagai sebuah kebaikan sehingga disebut dengan nikmata majpun yang dalam pendangana manusia dianggap sebagai keburukan sehingga disebut sebagai sebuah musibah. Hanya orang orang yang tulus sajalah yang mampu membaca smeua kenikmatan tersbeut sebagai kenikmatan yang sebenarnya, karena belum pasti sesuatu yang menurut pandangan manjusia sebgaia buruk, ternyata dimaksudkan oleh Tuhan sebagai sebuah kebaikan bagi manusia dan begitu juga sebaliknya yang dianggap baik, ternyata malahan sebagai keburukan yang sejati.

Sikap manusia ayang terbik adalah mencoba mengenali seluruh kenikmatan  yang diberikan oleh Allah swt kepada kita dan kemudian mau mensyukurinya, bukan sebaliknya secara terus menerus  menghindar dari  syyukur dari nikmat yang ada. Bagi orang yang terbiasa mensyukuri nikmat, maka dia akan selalu berpandnagan positif terhadap apapun yang terjadi karena smeua itu hanyalah keputusan Allah swt, dan hal tersbeut jika disikapi dnegan tulus, maka justru akan menjadi sebuah kebahagiaan, dan jika kita menyikapinya dengan negative, maka justru akan menjadi sebuah melapetaka, atau sesuatu yang mneyakitkan.

Jangan smaai kita diingatkan oleh Allah swt karena kita sama sekali tidka mensyukuri naikmat Nya, bahkan malahan mengingkarinya. Allah swt sydah menyindir kita secara langsung bahwa kita ini ternyata banyak mendustakan nikmat nikmat Nya yang selalu disampaikan kepada para makhluk Nya sehingga kalau kemudian Allah  menurunkam sesuatau yang dirasakan tidak nyaman oleh manusia itu  sesungguhnya merupakan konsekwensi yang normal, meskipun Tuhan tidak demikian, melainkan selalu akan memberikan nikmat Nya kepada kita semua. Pernyataan Allah yang berbunyai “dan nikmat Tuahn yang mana lagi yang engkau dustakan?” tentu harus kita anggap sebauh sebuah tamparan kepada kita  para hamba Nya.

Dalam beberapa ayat lainnya di dalam alquran Tuhan juga sering menyatakan bahwa  kenikmatan Allah itu sungguh luar biasa yang dianugerahkan kepada kita, namun sekali lagi kebanyakan manusia tidka menyusyukurinya atau dngan Bahasa lain hanya sdikit saja manusia yang mau bersyukur. Seharusnya kkta merasakan ma;u yang luar biasa karena kita seperti pihak yang tidak tahu berterima kasih, karena sudah diberikan nikmat yang begitu banyak, tetapi hanya mengungkapkna teerima kasi saja tidak apalagi kalau kemudian mau melakukan sesuatu yang menyenangkan ihak yang memberi.

Coba kita remnungkan hidup kita sejak bayi dimana kita tidka membawa apa apa, lalu kita diberikan kepahaman terhadap sesuatu, koita diberikan kekuatan untuk dapat berjlan, meraih sesuatu, dberikan mata untuk melihat, diberikan kali untuk berjalan dan menendang dan diberikan tangan untuk mengambil sesuatu dan juga untuk makan dan lainnya.  Tentu masih banyak lagi nikmat Allah kepada kita yang meekat di dlama tubuh kita, s hanya saja  terjadang kebanyakan dari kota justru sepertinya tidak  mau mengerti dan bahkan seringakli malahan menentang keberadaan Allah itu sendiri.

Seteah dewasa kemudian kita juga diberikan kesempatan untuk berusaha dan bekerja sehingga akhirnya dapat mengumpulkan harta dan dijadikan sebagai  alat untuk menunaiakn ibadah kepaada Nya dan juga untuk hidup dan berbagai keperluan hidup, seperti papan, makan dna juga Pendidikan serta kesehatan.  Kendaraan juga akhirnya dapat dipunyai, dan semua itu tidak pernah lepas dari peran dan ijin Allah swt, meskpun kesalahan besar kebanyakan manusia ialah sama sekali tidak mengakui keterlibatan Allah dalam semua itu dan hanya semua itu dianggap sebagai usahanya sendiri.

Sungguh menyedihkan bagi mereka yang berpikiran demikian, karena  bilanama mereka berpendapat demikian mereka  itu sangat naif dan bodoh  karena tidak mau berpikir untuk hal hal penting yang terkait dengan kehodupannya, Mungkin baru nanti kalau sedang mendapatkan kendala sesuatu yang dianggapmya sebagai  berat, maka baru;ah dia akan merasakan betapa beratnya hidup dan  betapa pentingnya peran Allah swt terhadap makhluk Nya.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.