IBU TIGA DAN AYAH SATU

Mungkin  kata kata tersebut  bagi sebagian orang akan menimbulkan pertanyaan, namun bagi mereka yang memahaminya, pasti akan  biasa saja bahkan akan selalu mendukung pelaksanaannya. Sesungguhnya pernyataan tersebut berawal dari sebuah hadis nabi Muhammad saw tentang siapakah orang yang paling harus dihormati, maka jawab Nabi ialah ibumu, lalu ditanyakan kembalai siapa lagi, lalu  beliau juga tetap menjawab ibumu hingga sampai tiga kali pertanyaan, setelah pertanyaan yang keempatlan beliau baru menjawab ayahmu.

Tentu maksudnya ialah agar kita menghargai dna menghormati ibu  dengan kelebihan yang jelas dibanding dnegan terhadap ayah. Hanya saja bukan secara  lahir harus begitu, yang kemudian kita tidak begitu menghormati ayah, melainkan hanya sekedar untuk menekankan bahwa p[erran seorang ibu yang biasnaya diaabaikan, harus diperjelas dana bahkan kalau dioperlukan harus ebih ketimbang kepada seorang ayah. Sikap terbaik yang harus dilakukan oleh seorang anak ialah menghargai dan menghormati kedua orang tua, baik aya maupun ibu secara baik.

Bagaimanapun kita menyadari bahwaa kebanyakan di keluarga kita, ayah adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarga dan karena itulah seorang ayah haraus bekerja untuk menghidupi keluarganhya, untuk pendidikan anak anaknya, untuk kesehatan, untuk memenuhi kebutuhan  makan, papan, pakaian dan kesehatan bagi sleuruh keluarganya. Sementara seorang ibu akan bekerja di rrumah tangga menyiapkan makanan, mencuci pakaian dan juga menjaga kerapian rumah dan lainnya. Dengan demikian adaa pembagian tugas keseharian yang disepakati bersama.

Atas ddasar itulah seharusnya  antara ayah dan ibu sama sma aharus dihormati dan dhargai secara seimbang. Hal yang jelas bahwa pernyataan ibu tiga dan ayah satu tersebut bukan  dikonotasikan atau dimaksug]dkan untuk persoalan poligami yang saat ini cukup marak dibicarakan banyak orang.  Persoalan poligami itu merupakan persoalan lain yang  masih tergantung kepada masing masing orang dan kesepakatan diantara mereka yang terlibat.  Intinya jika berpoligami akan semakin menci[ptakan ketenangan dan kedamiaan kehidupan, maka  dilakukan  itu menjadei baik, namun jika sebaliknya, yakni jika dijalankan justru akan semakin merusak ketenangan dan kedamaian maka sebaiknya tidak dipaksakan dengan berbagai alasan yang dicari cari.

Jika ada alasan untuk menolong orang lain, masak harus dnegan poligami karena masih banyak cara yang dapat ditempuh untuk menolong pihak lain dan masih dapat mempertahankan kedamaian dan kenyamanan rumah tangganya. Untuk itu  dalam menghadapi dan menafsirkan segala sesuatu kiranya patut mengetahui maksud dan tujuan inti dari sesuatu tersebut agar tidak salah paham atau gagal paham. Ini tentu dapat dijadikan  sebagai sebuah pengalaman yang snabta berharga untuk kehidupan kita ke depan dan agar kita selalu dalama lindungan Allah swt karena tidka selalu salah paham.

Kembali kepada  menghargai kepada orang tua tersebut, kita diingatkan kepada pembelajaran Lukman hakin sebagaimana dijelaskan oleh alquran yakni pembelajaran yang sangat demokratis dan snagat bagus, yakni diawali dnegan mengenalkan kepada Tuhan dan tidak akan menyekutukan Nya, melainkan harus meyakini Nya sebagai Dzat yang Maha segalanya dan Menentukan  apapun  yang ada di dunia ini, lalu juga menghargai dan mengjormati kedua orang tua yang telah berjasa banyak kepada dirinya, mulai mengandungnya, lalu menyusui dan merwaatnya hingga besar, menyekolahkan dan lainnya.

Karena itu ada hal penting yang ditekankan  ialah agar selalu menghormati orang tua dalam kondisi yang bagaimanapun, termasuk jika orang tuanya berbeda keyakinan. Memang kita tidak boleh mengikuti keyakinan yang tidak kita anggap benar, tetapi harus tetap memperlakukan mereka dnegan sop[an dana hormat.  Apalagi kalau orang tua kitalah yang memperkenalkan kita kepada Tuhan, pastinya kita harus tetap menghormati dan mengikuti anjurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat pun dikatakan  Ridlo Allah itu tergangtung kepada ridlo kedua orang tua dan kemarahan Allah juga tergantung kepada kemarahan orang tua.

Untuk itu berdosa besar kiranya jika kita berani  melawan dan tidak menghargai kepada mereka dengan alasan apapun. Kalaupun orang tua kita ternyata miskin   atau karena sakit sakitan sehingga tidka mampu lagi mencari rizki, maka kita sebagai anaknya haruslah membantu dan memperlakukan mereka dnegan snagat baik, buakn dnegan membuangnya atau menitipkannya ke panti jompo dan  atau membiarkannya seolah tidak mengenalnya dan lainnya. Terkadang bagi anak yang drhaka kepada orang tuanya seperti itu, murkan Tuhan akan langsung diberikan Nya pada saat masih dinunai sehingga kemudiana hdupnya snagat sengsara meskipun sebelumnya sangat berlimpah harta, karena bagi Allah untuk mencabut hartanya itu snagat mudah dan cukuplah dnegann mengatakan “kun” saja.

Lalu kenapa dalam hadis Nabi tersbeut kita dikenalkan untuk menghargai seorang ibu tiga kali lipat dari pada ke[ada ayah?  sekali lagi itu bukan  dalam pengertian yang lahir dan  meskipun sesungguhnya dalam beberapa kasus memang harus begitu, namun jika dalam kondisi normal seharusnya dalam menghargai dan memperlakukan kedua orang tua itu seharusnya sama dan tidak membedakan mereka, karena mereka sama sama berjasa dan  sama  sama memnyayanngi kita  secara tulus. Mungkin  bahkan juga kita akan memper;akukan sebaiknya jika kondisinya meang mengharuskannya.

Dalam kasus  misalnya ada seoang ibu yang sama sekali tidak menyayangi anaknya dan selalu menyiksanya dan membuangnya karena memang kehadirannya sangat tidka diinginkan, lalu ayahnyalah yang memelihaa sejak kecil hingga besar dan menjadi orang, lalu  bertemulah dia dnegan kedua orang tuanya,  yani ibu yang telaha  tega membuangnya saat dia masih kecil. Lalu bagaimana sikap anak tersbeut, apakah harus memusuhi ibunya yang telaha membuangnya? Tentu jawabannya ialah tidak, karena bagaimanapun ibunya tersbeut telah mengandungnya selama sembilan bulan dan meskipun dia khilaf karena membuangnya, tetapi sikap yang terbaik ialah  anak tersbeut harus tetap menghargai dan menghormatinya dnegan baik.

Kalaupun  dia menghargai dna menghjormati  ibu dan bapaknya tengtu jua tidak boleh membedakan keduanya dan meskpun tidak perlu ibu tiga dan ayah satu, melainkan mungkin ayah satu atau dua dan ibu  cukup satu, mungkin masih dapat dimengerti, namun jika memperlakukan mereka secara sama itu jauh lebih bagus.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.