HARAPAN UNTUK AICIS

Acara  seminar internasional yang dikenal dengan  annual international  conference on Islamic studies  sudah berjalan hingga  Sembilan belas kali, namun kita belum melihat sesuatu yang dapat dibanggakan, terkecuali tumpukan  makalah yang tidak hidup dana mewarnai perguruan tinggi Islam itu sendiri, padahal anggarannya sungguh snagat  luar biasa besarnya. Tema yang disus=guhkan sesungguhnya cukup menarik dan ada harapan  tindak lanjutnya  baik oleh masing masing perguruan tinggi maupun oleh kementeraian, namun rupanya kita belum mendapatkan suguhan yang dapat membuat bangga sebagai warga bangsa yang berada di perguruan tinggi islam.

Mungkin perlu dicarikan bentuk lainnya yang meskipun  bukan seluruh ide yang muncul ditindak lanjuti, melainkan hanya beberapa saja yang kemudian emndapatkan respon  yang besar untuk dibahsa secara lebih besar di masing masing perguruan tinggi dan mungkin malahan dibuat  semacam  perkumpulan yang difasilitasi agar apa yang diinginkan dapat terwujud. Misalkan apa yang menjadi topik kali ini  untuk memanfaatkan media social dalam menggapai tujuan  termasuk tujuan dakwah, lalu tindak lanjutnya itu berupa apa? Apakah cukjup hanya  menhasilkan tulisan yang bagus dan menarik saja ataukah perlu ada tindak lanjut dalam bentuk action?

Kita menyadari bahwa ada perbedaan menolok antara kecenderungan para  anak mudah zaman dahulu dengan sekarang, karena itu beberapa hasil penlitian tentang maslaah etrsebut harus menjadi pertimbangan dalam mengambil kenijakan dan menyusun program kegiatan, sehingga apa yang ingin digapai tidak munah sebelum  terjadi. Artinya kecenderungan  anak mudah saat ini meskipun tidak sleuruhnya harus diikuti, tetapi ada kewajiban bagi kita untuk menyesuaikan  diri dengan  kecendrungan mereka, asalkan kita tetap mampu untuk mengendalikan mereka kearah yang  baik dan bermanfaat.

Ekspressi mereka memang boleh berbeda namun jika kita mampu menyelami kehidupan mereka  sambal terus memberikan arahan kepada kemanfaatan yang harus diperoleh dan tidak mengganggu pihak lain, maka itu sudaha merupakan sebuah ajaran yang sangat penting. Persoalan ekspressi mereka  melalui jalan yang berbeda sama sekali dengan apa yang dahulu kita lakukan itu sudah merupakan sebuah konsekwensi perubahan zaman.  Kita tidka boleh memaksakan kehendaka kita yang memakai  alam zaman dahulu untuk mereka yang hidup di zaman ini. Itulah yang penting kita ketahui dan sikapi dengan bijak.

Kecenderungan anak  anak muda kita yang ingin hiburan, tentu juga harus kita respon dengan positif, bahkan justru kita jadikans ebagai wahana untuk menyenagkan mereka, lalu dikemas untuk tujuan  akhirnya yakni beribadah kepada Allah swt. Semacam bagaimana kita  mendekatkan mereka ke masjid, maka masjid juga  harus mampu kita jadikan sebagai arena untuk mereka mendekatinya, semacam dibuatkan arena bermain di sekitar masjid, dan tentu masih banuak lagi varian yang bermunculan di zaman ini untuk kita jadikan sebagai wahana untuk berdakwah.

Berakwah tentu bukan hanya dengan ceramah semata, karena para walisongo dahulu juga sudah mengawalinya dnegan memanfaatkan   kesenian tradisonal yang sudah digemari oleh masyarakat untuk sarana berdakwah, mangapa kita tidak menirunya  dengan bentuk yang tentu berbeda. Bentuk bentu kesenian,  tradisi yang sudah mengakar yang  mungkin oleh sebagian diantara kita dianggap bukan islami, lalu kita  menjauhinya atau bahkan menhhardiknya, maka itu meripakan tindakan yang tidkaa bijak, lihatlah walisongo yang mampu untuk menjadikan tradisi yang sebelumnya diharamkan oleh sebagian umat Islam, lalu mala dijadikan sebagai sarana untuk berdakwah.

Nah, seperti itulah seharusnya kita berbuat dna bersikap, yakni dnegan memanfaatkan kecenderungan anak anak mudah saat ini  untuk dijadikan sebagai wahana dakwah untuk mengajak mereka menjadi orang saleh yang  menganal Tuhannya dnegan sangat baik dan taat. Namun dmeikian definsi saleh  saat ini juga mungkin  kita sedikit geser tidak sebagaimana pemahaman kita zaman dahulu. Mungkin saat ini kesalehan seseornaag tidak harus dalam bentuk selalu shalat dimasjid dan sama sekli tidak  mau bermain main dnegan sesame anak mudah dan lainnya.

Sebagai anak mudah yang memang memerlukan  hiburan dana kegiatan lainnya yang digemari, maka  kesalehan mereka cukuplah jika  apapun yang dikerjakan oleh mereka akan memberikan manfaat dan jauh dati merugikan pihak lain, kamudian juga tetap mengenal Tuhannya dan taat terhadap semua kewajibannya. Dalam bentuknya yang lenghkap mungkin dapat digambarkan sebagai anak mudah yang suka berolah raga, suka bermain musih, tetapi tetap  menjalankan shalat saat waktunya tiba dan tidak melakukan hal hal buruk yang hanya akan merugikan pihak lain.

Dlam kaitannya dengan psosi media social, kita juga  harus mampu untuk memberikan arahan yang sesuai dengan kecenderungan mereka, bukan dengan memaksakan kehendak kita, karena biasanya anak muda itu tidak suka untuk dipaksa  atau disuruh suruh.  Metode sajalah yang kita pentingkan saat ini karena tujuannya sama, maka jika metodenya berbeda itu  tidak persoalan. Pesan dan kemasan dalam mengajak  melalui media social tentu akan berbeda antara kita kaum tua dengan mereka kaum muda, untuk itu berbagai hasil peneltian tentang hal ini snagat bermanfaat untuk kita jadikan sebagai sarana  berdakwah melalui media social tersebut.

Konten yang monoton dan secara vulgar mengajak kebaikan dengan  lisan sebagaimana para dai yang menyampaikan, mungkin tidak akan laku di kalangan anak anak muda zaman ini, tetapi jika akita mampu meramaunya melalui  cara yang disukai mereka tentu hal tersbeut akan memungkinkan untuk dilihat mereka dan kalau  kemudiana menarik minat mereka, biasnya akan diikuti.  Untuk itu menjadi kewajiban bagi perguruan tinggi dan juga kementerian untuk membuat semacam wadah yang menangani khusus perasoalan ini sehingga nantinya akan dihasilkan sebuah  tinddak lanjut  dari AICIS ini yang manfatanya dapat dirasakan secara langsung oleh kita smeua.

Memang tidka mudah, namun jika kita sungguh sungguh tentu akan dapat berhasil dan kalau itu terwujud maka kita smeua yang akan merasakan kebanggan dan sekaligus puas. Semoga apa yang kita inginkan tersebut akan dapat kta wujudkan  setelah agenda AICIS ini selesai, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.