ANARKHIS

Unjuk rasa atau demonstrasi yang dilakukan oleh massa, biasanya akan berakhir dengan anarkhis, karea tidak mampu mengendalikan diri dari keinginan yang dianggap tidaka tersalurkan. Celakanya ketika sudah anarkhis tersebut korbannya ialah pihak yang sesungguhnya tidak ada kepentingan terhadap demo tersebut, semisal  masyarakat di sekitar area demo dan juga masyarakat yang ada di dekat tempat tersebut. Terkadang juga  anarkhis tersebut kemudian menimpa mereka yang erdemo dan juga  kepada aparata keamanan yang bertigas menjaga mereka.

Saat saya menyaksikan video demo dan terjadi kerusuhan maka  ada diantara para pendemo yang dibuat bulan builanan oleh apparat, karena memang sudah ketertaluan dan melakukan kekerasana ke[ada mereka. Di sisi lain saya juga melihat adanya apparat yang dihajar sampai babak be;ur dan bahkan mungkin harus meradang nyawa karena dibantai oleg pendemo yang sudah brutal. Bahkan saat apparat etrsebut sudah terkapar pun mereka masih menghujaninya dengan batu dan  kayu serta barang padat lainnya.

Pertanyaannya ialah apakah mereka sudah tidak mempunyai rasa kemanuasiaan lagi, lalu dimana rasa mereka saat  mereka membantai orang lain tersebut? Aapakah kalau hal tersebut menimpa kepada mereka atau kepada anggota keluarga mereka lalu mereka dapat menerimanya dengan baik?. Masih banyak pertanyaan lainnya yang  intinya kenapa ada orang yang  tega melakukan hal tersbeut padahal sesame anak bangsa yang ingin kebaikan. Barangkali mereka sudah lupa  dengan sifat kasih saying yang seharusnya terus disebarkan kepada seluruh manusia agar tercipta kedamaian di dunia ini.

Jika ada seedikit saja rasa kemanusiaa yang  masih tersisa dalam hati merekaa tentu mereka tidak akan tega membantai orang yang sudah terkapar tidak berdaya dengan menghujaninya   memakai batu dana barang padat lainnya.  Lalu kalau mereka kemudian tewas apakah mereka tidak pernah berpikir bagaimana keluaragnya, anak anaknya, isterinya dan saudara saudaranya yang mengharapkan kepada mereka. Apakah  rasa kemanusiaa  memang sudah raib dari kebanyakan  hati umat saat ini, ataukah godaan setan sudah demikian kuatnya sehingga mengalahkan akal sehat manusia?

Bangsa ini sejak dahulu sudah dikenal sebagai bangsa yang santun dan  berakhlak mulia, lalu kenapa saat ini seolah semuanya itu sudah hilang dan berganti dengan perasaan dendam atau emosi yang tanpa terkontrol? Apakah akhlak sudah tidak lagi diindahkan? Apakah pelajaran etika di  sekolah sekolah formal dan di masyarakat sudah tidak berarti lagi, apakah kesantuna  junjungana kita nabi Muhammad saw yang selalu diteladankan sudah dilupakan umatnya? Entahlah kita sulit untuk menjawabnya, karena ternyata masih cukup banyak majlis pengajian yang digelar dan masih cukup banyak orang yang berdakwah mengajak kebaikan dan masih ada lagi orang yang peduli terhadap ketidaka tertiban.

Kalau hal serupa terjadi di luar negeri yang sudah kita ketahui sejak lama, mungkin kita hanya  dapata mengelus dada dana berharap agar hal tersbeut tidak menular di tempat kita, namun kali ini  kekerasan dan pembantaian tersbeut terjadi di daearah kita dan sekitar kita, lalu kita harus bersikap bagaimana dan sebaiknya apa yang kita lakukan? Apakah kita cukup berdiam diri saja ataukah kita harus berbuat sesuatu. Paling paling kita hanya dapat berharap bahwa apparat keamanan harus  berbuat tegas dan menindak siapapun yang bersalah dan ke depan diusahakan agar tidak ada lagi kekerasan dalam bentuk apapun.

Berdemo memang  tidak dilarang dan sudah diatur sedemikian rupa, dan jika hal tersbeut diindahkan dan ditaati Bersama,  maka harapanannya akan tetap baik meskipun ada unjuk rasa dengan mengerahkan ribuan atau bahkan puluhan rtibu massa. Ada aturamn main yang harus ditaai Bersama, semisal mengenai jam  demo, terus tempat demoa dan lainnya. Aturan tersebut dibuat memang agar demo dapat berjalan dnegan tertiba dan tidka mengganggu masyarakat secara umum. Bagaimana mungkin  ymat tidak terganggu jika demo masih terus dilakukan saat memasuki waktu maghrib misalnya.

Bagaimana mungkin tidak mengganggu jika dmeo dilakukan di tempat ibadah, di tempat Pendidikan dan sejenisnya. Untuk itu sekali lagi mati kita tegakkan aturan main tersebut secara konsisten agar semua menjadi baik. Kita tentu tidak ingin setiap kali terjadi demo lalu yang muncul ialah sikap anarkhis dan kekarasan yang hanya merugikan masyarakat  saja. Lama lama masyarakat akan bosan dana  tidak simpatik dengan para pendemo, karena merka pasti akan menjadi ketakutan saat ada pengerahan massa, karena  biasnya akan terjadi kekrasan dan sikap anarkhis yang dikedepankan serta emosi yang tidak terkendali yang terus mengemuka.

Pertanyaannya apakah  dapat dilakukan demo atau  unjuk rasa tanpa anarkhis dan kekerasan? Secara teoritis hal tersbeut sangat mungkin, namuan secara praktis untuk saat ini rupanya memang agak sulit, karena biasnaya  ada emosi yang mengemuka di sana. Jika para pendemo yang umumnya anak muda  menyatakan dengan keras keingiann mereka lalu tidak diberikan jawaban yang memusakan menurut versi mereka, maka biasnya mereka akan semakin  tersulit emosinya dan beringas. Nah, kalau sudah dmeikian biasnaya akan terjadi kekrasan yang dimulaia dari merusak apa yang ada di sekitar merka semacam pagar pembatas yang dianggap menghalangi keinginan mereka untuk menemui para tokoh tertentu.

Jika kemudian ada apparat yang menangani mereka  biasnya akan terjadi salah paham diantara mereka dan akhirnyanterjadi bentrok diantara merreka. Bentrok tersbeut terkadang juga akan meluas jika  ada pihak lain yang mengipasinya dengan kepentingan lainnya. Inilah yang bisasanya tidak diperhatikan oleh mereka yang demo dengan tujuan mulia. Namun kita tetap berharap agar sikap anarkhis yang biasnay muncul pada saat demo akan semakin menipis dan pada saatnya akan benar benar hilang sehingga yang tersisa adalah  penyampaian  pendapat dan keinginan dnegan damai, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.