MEMUJI

Tindakan memuji itu bagus tetapi terkadang justru akan membuahkan sesuatu yang buruk, terkecuali memuji kepada Allah swt, karena memang yang berhak untuk mendapatkan pujian hanyalah Allah. Sedangkan makhluk Nya  seandainya dipuji itu hanya  luarnya saja karena manusia dan makhluk lainnya hanyalah pelengkap yang tidak sempurna sehingga secara hakiki tidak patut untuk dipuji. Kalaupun kita melihat ada keindahan dalam diri manusia atau makhluk lain, maa saat kita memujinya  seharusnya bukan memuji barang atau orang tersebut, melainkan memuji kepada Dzat yang menciptakannya, yakni Allah swt. Begitulah seharusnya kita bersikap dan mempelakukan seluruh makhluk agar kita tidak terprosok kepada  kesalahan yang fatal.

Agama kta mengajarkan  agar kita  memberikan pujian hanyakepada Allah swt sang maha Sempurna, karena itu  kita selalu mengatakan alhamdu lilah bukan kepada yang lain. Pujian tersebut sanat tepat dan mencakup pujian untuk Sang Maha mencipta yang sempurna, Yang memberikan segala sesuatu  kepada kebtuhan makhluk Nya dan juga memberikan apapun yang dibutuhkan makhluk nya, seperti kesehatan, kelengkapan, makanan, minuman, pakaian, tem[at tinggal dan lainnya. Meskipun demikian kiranya bukan secara langsung, melainkan semua itu diberikan Nya ungtuk makhluk me,lalui perantara, sesuai dnegan kondisi yang ada.

Lantas bagaimana dengan hubungan diantara sesame makhluk yang juga diperlukan adanya semacam pujian untuk melanggengkan hubungan dan unguk menjadikan hubungan semakin baik, semacam pujian seoranag kepada isterinya atau sebaliknya, pujian orang kepada anak anaknya, kepada relasinya dan lainnya. Namun sekali lagi pujian tersbeut bukan dalam arti hakekatnya, emlainkan hanyalah sekedar harfiyahnya, sedangkan hakekatnya haruslah ditujukan kepada Allah swt yang telah membuat mereka menjadi patut untuk dipuji. Mungkin memang dalam kenyataannya  ada keistimewaan dalam diri seseorang yang patut untuk dipuji.

Hal yang paling harus dihindari ialah jika pujian tersebut hanyalah kebohongan semata, semacam jika ada orang memuji hanya karena  keinginan untuk mendapatkan sesuatu, padahal secara jujur dia tidak akan memujinya, melainkan karena kedudukannya yang me ngharusnkannya memuji, maka dia lakukan pujian tersebut. Ini tentu lebih fatal lagi karena pujian tidak diarahkan kepada Allah sebagai Dzat yang patut untuk dipuji, melainkan ditujukan untuk seseorang yang itupun bukan keluar dari dalam hatinya melainkan hanya sebagai penghias bibir semata.

Secara umum tindakan memuji itu bagus karena menyenangkan pihak yang dipuji, tentu akan lain halnya dnegan tidakan menghujat, karena  akan menyakitkan pihak yang dihujat. Namun meskipun memuji itu menyenagkan akan tetapi kalau keterlaluan dan tidak pada tempatnya terkadang malah akan membuahkan  sesuatu yang menyakitkan. Di dunia ini memang ada orang yang suka dipuji sehingga jika ada orang yang memuji maka dia akan merasa senang dan bangga, sebalinya ada juga  pihak yang tidak suka bila dipuji, karena  akan dapat menyilaukan dan menyesatkannya atau dapat membuatnya menjadi sombong dan lainnya.

Sesungguhnya  dipuji itu tidak maa]salah kalau memang  seseorang itu patut untuk dipuji, bukan hanya keinginan untuk mendapatkan pujian palsu. Sebagai contohnya ialah jika ada orang  sangat  baik ahlaknya  atau sangat rajin bersedekah dan sejenisnya, lalu ada orang yang memujinya, apakah lalu harus ditolak? Meskipun untuk menolak pujian iyu merupakan hak seseorang, tetapi bagi pihak yang memuji sesungguhnya tidak salah karena pujiannya tersebut adalah tulus dan tidak dibuat buat untuk menyenangkan. Kenyataannya memang dia itu rajin bersedwkah atau juga perilaku=nya sangat baik, tidak mudah marah atau sakit hati atas tindakan pihak lain.

Namun jika orang tersbeut memang tidak suka pujian, maka dia juga boleh menolak pujian tersbeut tentu dengan cara yang baik pula. Biasanya orang menolak pujian itu disebabkan kekhawatiran akan menjadi sombong atau akan menjadikannya riya dan tidak tulus dalam perbuatannya. Memang dalam kenyataannya pujian itu dapat menjerumuskan karena kalau kemudian setelah dipuji menjadi besar kepala dan melupakan hal hal yang baik, maka itu menjadi malapetakan bagi orang yang dipuji. Untuk itu kita memang harus berhati hati saat menerima pujian dari pihak lain. Boleh jadi dengan pujian tersbeut akan menjadikan kita semakin buruk, walaupun poujiannya tersbeut muncul dari hati yang tulus sekalaipun.

Sikap yang terbaik ialah memang tidak usah mencari pujian untuk semua yang kita lakukan, karena jika kita melakukan seagala ssuatu dnegan tulus karena Allah swt, maka  kita tidak memerlukan lagi pujian dari makhluk. Biarlah nanti Tuhan yang akan menilai perbuatan kita. Karena out kita harus terus berusaha ungtuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja kita sebab kta tidak tahu apakah pekerjaan kita sudah baik ataupun belum.  Prasangka kita memang harus husnudzdzan kepada Allah swt, namun sebagai makhluk yang lemah dan tidak sempurnya  kita juga tetap harus berusaha untuk melakukan perbaikan demi perbaikan.

Dengan sikap enolak pujian tersebut kita akan menjadi pihak yang merasa bahwa apa yang kita lakukan memang belum sempurna dan masih hatus diperbaiki terus. Tentu kita juga harus  terus memohon kepada Allah agar selalu diberikan kekuatan untuk memperbaiki  apa yang sudah kita lakulan. Kita harus lebih senang jika tidak ada pihak lain yang memuji kita  dan kita akan selalu mengevaluasi diri, sementara kita juga harus selalu memuji Allah swt Dzat yang Maha segalanya dan memang patut untuk dipuji. Dengan terus mengembangkan sikap tersbeut kiranya kita akan semakin menjadi baik dan meningkat dalam hal yang positif.

Semoga kita akan dapat menjalani hidup ini dnegan selalu memuji kepada Allah swt dan juga segala hal yang menakjubkan, namun  pujian tersbeut harus dikembalikan kepada penciptanya, yakni Allah swt.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.