BERSUARA KERAS

Dahulu pada zaman Nabi tidak ada orang yang boleh bersuara keras melebihi suaranya  Nabi Muhammad saw, karena itu sudah menjadi ketentuan dari Allah swt. Pertanyaan yang segera muncul ialah seberapa keras suara Nabi itu?. Seacara nalar kita memang dapat membayangkan bahwa nabi Muhammad saw mempunyai suara yang snagat keras sehingga dapat didengar oleh masyarakat dalam jarak yang cukup jauh, sebab bagaimana mungkin kalua suaran Nabi lirih dan pelan, pastinya dakwah beliau tidak akan dapat didengar oleh masyarakat.

Namun ketika  masyarakat  banyak bergaul dengan belau tentu semua akan dengan mudah untuk mengukur suaranya masing masing sehingga tidak akan melebihi suara Nabi, namuan saat kita sebagai umatnya hidup di zaman ini, tentu kita tidak dapat mengukur seberapa keras suara nabi tersebut sehingga kita akan menyesuaikan diri. Apalagi saat ini sudah banyak alat pengeras suara yang dapatr dengan mudah kita mengeluarkan suara yang sangat keras sesuai dnegan ukuran volume yang ada di dalam alat tersebut.

Bahkan secara lahir saat ini hampir smeua orang ketika adzan  untuk memanggail masyarakat tentang datangnya waktu shalat, juga menggunakan pengeras suara sehingga orang yang jauh dari tempat tersbeut masih dapat mendengarnya. Secara lahir pula bahwa suara pengeras suara tersbeut pasti masih lebih keras darai suara siapapun yang tanpa menggunakan pengeras suara. Lalu apakah kita menjadi orang yang melanggar larangan Allah untuk melembutkan suara  dibandung suara Nabi?

Secara umum kita tentu juga dapat mengira ngira seberapa  kekuatan suara seseoranag, sehingga  dia dapat memperdengarkan suaranya kepada banyak orang. Lah tugas aNabi Muhammad sw ialah menyeru kepada khalayak agar mereka mau mendengarkan dakwah beliau dan mengesakan Allah swt, memnnjalankan ibadah dan sleuruh perintah Nya serta menjauhi semua larangan Nya, berbuat baik kepada sesame serta banyak membantu saudaranya  dan khalayak  tertutama mereka yang lemah secara ekonomi dan ilmu.

Namun larangan untuk melebihi suara Nabi tersebut juga dapat diartikan secara lain. Artinay meskipun Allah swt sudah menengtukan “la tarfa’u ashwatakum fauqa sautin Nabiy” jangalah kalian mengangkat atau mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi, namun bukan dalam arti suara yang dapat didengar secara  biasa, melainkan suara mennetang beliau. Kalaupun suara beliiau itu pelan, namun itu merupakan suara kebenaran sehingga diangap suara yang keras dan pasti, lalu jangan sekali kali kalian menetangnya dnegan mengeluarkan suara yang menolka atau sebaliknya dari apa yang dikatakan oleh beliau.

Jadi suara yang menolak dan  membohongkan apa saja yang dikatakan oleh Nabi akan dapat dikatakan suara yang melebihi suara Nabi, sedangkan, sementara itu suara meskipun kerasnya melabihi suara Nabi namun dalam upaya untuk mendukung dakwah beliau tentu bukan dikatakan sebagai melwebhi suara Nabi. Mungkin itu juga yang perlu dipertimbangkan dalam menilai pernyataan  jangalnalah kalian mengeliarkan suara yang me;ebihi suara Nabi Muhammad saw.  Kita tentu juga tahu dan menyadari bahwa masing masing orang itu mempunyai   suara bawwaan yang sebagiannya keras dan sebagiannya lagi lemah atau lirih.

Memang suara itu dapat dilatih agar menjadi merdu atau y=tinggi dan keras, namun itu tentu sesuai dnegan bakat bawaan yang dimiliki. Kalua memang bawaannya suaranya kecil dan rendah, maka  meskipun diupayakan bagaimanapun tetap saja  akan rendah dan tidak akan mencapai kekuatan tinggi, meskipun pasti ada peningkatannya.  Karena itu  sekali lagi dalama menafsirkan suara yang keras melebihi suara Nabi bukan hanya dilihat dari sisi suara yang didengaroleh telinga sebagaimana biasa, meliankan juga suara yang menentang atas apa yang disampaikan oleh Nabi.

Namun kita tentu juga harus menyadari bahwa mengeluarkan suara secara keras kalua memang tidak diperlukan sebaiknya tidka dilakukan, terkecuali memang suaranya  tidak dapat dipelankan.  Aad memang orang yang watak suaraanya memang keras sehingga tidak dapat berbicara secara pelan, namun ada juga orang yang watak suaranya sangat pelan dan lembut sehingga kalua  dikeraskan seolah dia itu marah, dengan dmeikian setiap orang memang sudah ditakdirkan masing masing dnegan berbagai keistimewaan, termasuk dalam hal suara.

Hanya saja jika kita memang mampu untuk berbuat sesuatu sesuai dengan konteks dan maqamnya, pastilah kita akan menjadi manusia yang dengan mudah menyesuaikan diri dan itulah bagian dari akhlak yang memang haris diwujudkan dalam diri kita.Artinya kalua kita mampu berbicara secara pelan, kenapa harus dengan keras? Terkecuali jia lawan bicara kita memang sedikit terganggu pendengarannya, maka kita memang harus mengeraskan suara kita dnegan tujuan agar lawan bicara kita akan dapat memahami apa yang kita sampaikan.

Terkait dengan pemaknaan ini kita tentu juga mengetahui bahwa sahabat Umar bi Khattab adalah seorang yang dahulunya sangat engis dan  ditakiti oleh lawan, dan setelah masuk Islam pun wataknya yang keras tersbeut tetap masih terasakan. Nah, apakah Umar tidka pernah bersuara yang melebihi kerasnya suara Nabi Muhammad saw?. Jawabannya pastinya pernah, namun bukan dalam rangka untuk menentang  nabi, melinkan  hanya untuk menyampaikan dakwah dan risalah Nabi, dan yang dmeikian tentunya tidka termasuk dalam  maksud larangan Allah swt sebagaimana yang terdapat dalam alquran tersebut.

Pada zaman Nabi dahulu banyak orang dan sahabat beliau yang suaranya sangat keras, di samping Umar bin Khattab, sahabat Ali juga keras suaranya, demikian juga abu Sufyan, peman beliau Hamzah dan banyak yang lainnya. Namun karena mereka itu tidak pernah menyerukan penentangan terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi, maka mereka tidak termasuk orang yanag melebihi suara Nabi.  Juastru terkadang dalam situasi tertentu snagat dipwrlukan suara lantang untuk menyampaikan kebenaran kepada orang yang sulit mendengarkan nasehat.

Untuk itu sekali lagi mari kita berusah mendudukkan persoalan pada tempatnya sehingga kita tidak akan  menjadi orang yang pendek piker dan akhirnya justru akan merugikan diri sendiri dan juga agama kita secara umu. Semoga Allah swt senangtiasa memberikan hifdayah kepada kita serta selalu membimbing kita ke jalan kebenaran dan keselamatan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.