KEPEDULIAN DOSEN

Mungkin secaraa teori seluruh mahasiswa sudah mempunyai keilmuan dasar yang dibutuhkan untuk mengkaji setiap mata kuliah yang diikutinya, namuan dalam kenyataannya terkadang kita masih melihat kekurangan yang begitu mencolok  pada mahasiswa, khususnya mahasiswa PTKIN. Sebagaimana kita tahu bahwa  mata kuliah yang diberikan di PTKIN, terlepas itu  program studi yang terkait dnegan teknologi maupun keagamaan, tentu semua mahasiswa PTKIN akan mendapatkan mata kuliah  bidang keagamaan dengan harapan sleuruh lulusan PTKIN apapun program studinya tetap saja sebagai satjana muslim yang seharusnya mengetahui beberapa pengetahuan keagamaan dasar.

Sekali lagi kita terkadang harus  mengelus dada melihat kenyataan bahwa sebagian mahasiwa  PTKIN ternyata belum mengenal baca tulis alquran, jangankan menulis dengan huruf alquran, sekedar untuk membaca alquran saja masih ada yang belum mampu atau kalau sudah mampu tetapi tanpa dibarengi dengana ilmu tajwidnya sehingga sangat memperihatinkan. Pertanyaannya ialah lalu bagaimana mereka mampu mengikuti kuliah keagaaman yang pasti diajarkan di kelas. Apakah mereka  berbekal nekat dan yang terpenting hasil akhirnya mereka dapat lulus, walaupun dengan nilai C.

Akan lebi parah lagi jika dosennya kurang perhatian terhadap masalah ini, dapat dipastikan mahasiswa semakin terpuruk dalam hal pemahaman keagamaannya. Memang terkadang harus  mengambil resiko yang tidak popular, yakni dengan memberikan kuliah kepada mahassiwa tetapi dnegan cara seolah menghadapi anak Tsanawiyah yang masih harus dituntun cara memahami dan bahkan membaca, sehingga akan mengorbankan mereka yang sudah pintar yang akhirnya harus mengikuti kawannya yang masih pemula.

Kalaupun kemudian kita meminta kepada mahassiwa tyang belum mampu untuk belajar lebih giat dan meminta dibimbing oleh kawannya yang sudah bisa, biasanya juga tidak efektif daan  kenyataannya masih sama saja, sehingga memang harus dosennya sendiri yang turun tangan dengan resiko sebagaimana tersebut.  Itulah barangkalai kepedulian yang memang harus dikembangkan di kalangan pendidik agar  pada saatnya  dapat menyaksikan  para anak didik mampu menguasai ilmu yang kita berikan dengan sangat baik, bukan sekedar lulus dengan nilai tertentu.

Memag banyak cara yang dilakukan oleh dosen, khususnya untuk mengetahui tingkat penguasaan mereka terhadap materi yang diberiakn. Aalah satunya ialah dengana mengetes mereka secara langsung dan secara lisan, sebab kalau bersamaan dan secara tertulis, boleh jadi  diantara mereka ada yang menyontek dan akhirnya lulus, meskipun kemmpuannya sangat terbatas. Sebagiannya lagi ada yang hitam di atas putih, yakni jika memang tidak mamapu ya tidak akan diluluskan walaupun sudah berkali kali mengikuti ujian.

Barangkali untuk engetahui kemampuan para mahasiswa ada baiknya pada saat memulai kuliah dilakukan semacam pre test dalam bentuk yang memungkinkan agar kita mempunyai gambaran yang jelas tentang tingkat kemampuan dasar mereka sebelum kita memberikan kuliah yang ternyata nantinya sama sekali tidak dipahami. Namun demikian  kita tentunya juga  harus menyampaikan materi kuliah sesuai dnegantarget yang sudah kita  tentukan, sehingga jika kita masih harus ngopeni mahasiswa yang tertinggal seperti itu, tentunya materi kuliah kita tidak akan seleesai tepat sesuai dengan waktu yang tersedia. Dan ini juga harus menjadi pertimbangan pula.

Memang idealnya seluruh mahasiswa sudah melalui sleksi awal saat mereka akan masuk dengan standar seleksi yang bagus. Dengan standar sleksi yang di terapkan dengan konsisten tersbeut, tentu akan menghasilkan masukan yang  standar dan kita  denagn mudah mampu memberikan  materi perkuliahan sebagaimana mestinya. Kita akan memperlakukan mereka sebagai mahasiswa yang sudah dapat berpikir dan mengembangkan kuliah dengan baik.  Dengan motivasi yang selalu kita berikan pada saatnya kita akan dapat menyaksikan mereka berdiskusi seru dnegan argumnetasi yang didapatkan dari bacaan mereka, bukan asal ngomong saja.

Saat ini kita memang harus menyadari kondisi yang sesungguhnya, yakni adanya sebagian mahasiwwa yang sama sekali belum memenuhi  kriteria  sebagai mahasiwa PTKIn, sehingga kita harus mencurahkan perhatian kita secara lebih kepada mereka  untuk membeimbing mereka agar mampu menyusul kawannya yang sudah memenuhi standar awal sebagai seorang mahasiwa. Kita memang tidak dapat menyalakan siapapun karena  kampus kita terbuka  dan dapat menerima siapaun dari lulusan manapun, mewskipun seharusnya mereka sudah tahu diri sebelum masuk ke kampus PTKIN tersebut.

Hanya saja yang perlu dipertahankan ialah bagaimana mereka saat masuk ke kampus PTKIN Sudha mampu dan mengetahui standar yang seharusnya disandang oleh mereka, setidaknya mereka sudah mampu menguasai baca tulis alquran, sehingga ketika mereka mengikuti kuliah bidang keagamaan sudah dapat mengikutinya dengan baik. Jangan sampai kita kecolongan kembali adanya seorang lulusan PTKIN yang ternyata tidak mampu membaca alquran. Tentu ini lebih parah lagi karena sudah lulus, lalu proses pembelajarannya  bagaimana? Itulah yang patut dipertanyakan kepada siapapun atau kepada kita semua.

Jika kita memang masih mempunyai kepdulian kepada Lembaga kita dan ngeman lulusan kita nangtinya, maka mau tidak mau kita harus melakukan sesuatu untuk menolong para mahaswiwa yang memang masih belum mampu untuk baca tulis alquran tersebut. Apapun resikonya, kita tetap harus emmbimbing mereka hingga mereka mampu membaca dan menulis alquran. Ini merupakan masalah krusial yang tidak boleh lagi diabaikan karena sekali kita abai dan  mereka lulus dan tetap saja tidak mampu membaca  dan menulis alquran, maka suatu ketika kita masih akan diketahui bahwa  Lembaga kita memang tidak kredibel.

Semoga kita akan  selalu mendapatkan kemudahan  dan kesabaran dalam mendidik  mahassiwa  sehingga  pada saatnya kita benar benar mampu mengantarkan mereka menjadi sat=rjana yang pantas lulus dari kampus kita. amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.