MEMERANGI LUPA

Lupa memang merupakan salah satu sifat manusia di samping salah yang tidak mungkin akana terlepas dari manusia. Namun bukan berarti kita sebagai manusia tidak mampu melawannya, meskipun tidak harus  mematikannya, setidaknya dapat mengalahkannya atau mengurangi kadar kelupaan. Beruntung kalua lupa terhadap masalah yang sedang dihadapi sehingga dapat meringankan pikiran dan hati, namun kalua lupa yang diderita justru terkait dnegan sesuatu yang seharusnya diingat, maka itu akan menjadi beban tersendiri yang sangat berat untuk ditanggung.

Terkadang kita memang menjumpai orang yang sudah tua dan kemudian lupa terhadap kenangan masa muda  dan itu sudah menjadi kelumprahan  dan orang juga tidaka akana memaksanya untuk mengingat semua yang pernaha direkam dalam benaknya. Namun kalua ada orang muda dan lupa terhadap sesuatu yang seharusnya diingatnya, tentu akan banyak pihak yang menyayangkannya, bahkan sangat mungkin ada yang menuduhnya sebagai sengaja untuk lupa untuk menghindari tanggung jawab terhadap kewjiban yang mungkin ada pada dirinya.

Seharusnya sebagai orang yang beragama, kita tidak boleh lupa terhadap keberadaan orang tua kita sendiri, juga terhadap kewajiban kta selalu mulim, namun kenyataannya banyak diangtara kita yang dapat melupakan  orang tuanya sendiri, karena kesibukan kerja yang menyitanya hingga tidak ada waktu untuk mengingat orang tua. Demikian juga  saking banuaknya pekrjaan lalu lupa dengan kewajibannya sebagai seornag muslim yang harus menunaikan ibadah shalat misalnya, lupa untuk berzakat, lupa untuk bersedekah dan lainnhya.

Mungkin  jika kita sedang banyak pikiran dan pekerjaan, lalu kita lupa terhadap sebuah janji kepada sseorang, maka tergolong menjadi dipahami dan wajar, namun tentu setelah ingat kiat harus segera meminta maaaf kepada orang yang  mungkin sudah kecewa karena kita tidak menepati janji.  Meskipun janji bagi seorang muslim itu merupakan hutang yang seharusnya dipenuhi. Bahkan kalua kita mengingat sabda Nabi Muhammad saw terkait dengan sifat sifat munafiq, kita juga  akan sangat terganggu dengan pernyataan  salah satu tanda orang munafaiq ialah ketika berjanji lalu mengingkari.

Namun kita tentu akan dapat membedakannya, yakni antara mengingkarinya dan lupa untuk tidak memenuhinya. Lupa itu merupakan sifat manusia yang  tidak dapat dihindari dalam suatu kesempatan namun kalau mengingkarinya itu merupakan sebuah kesengajaan dan memang  dijadikan sebagai kebiasaan untuk mengacaukan pihak lain. Untuk itu memang berbeda antara sifat orang munafiq yang memang membiasakan diri untuk selalu mengingkari janjinya denagn orang yanag lupa dengan janjinya, dan biasanya setelh ingata dia akan meminta maaf.

Lalu apakah ada  resep untuk melawan lupa tersebut? Resep tersebut sesungguhnya ada pada setiap orang, yakni jika kita gemati gterhadap sesuatu, insyaallah kita akan ingat dnegan hal hal penting yang memang harus kita ingat, seprti ingata teradap kewajiban kita sebagai seorang muslim, ingat dengaan kewajiban kita sebagai seorang kepala rumah tangga, dan ingat pula posisi kita sebagai seorang yang mempunyai tanggung jawab profesi, seperti sebagai seorang guru dan dosen atau lainnya.

Para ulama  juga mempunyai resep untuk menjaga diri agar tidak menjadi lupa, yakni dengan selalu berdzikir kepada Allah swt dan membiasakan diri untuk membaca kitab suci alquran. Bnayk cerita mengenai orang yang rutin membaca alquran sampai akhir hayatnya tidak pernah lupa atau dengan kata lain dalam usainya yang sudah sangat renta, tetap masih tidak mengalami pikun.  Tentu  hal ini  dapat dijadikan sebagai sebuah pegangan bahwa jika kita memang menginginkan agar tidak menjadi pelupa sebaiknya kita membiasakan diri membaca alqy=uran, meskipun  tidak harus banyak, karena yang terpenting ialah kejegannya.

Berdzikir kepada Allah dan selalu menyibukkan diri untuk mengingat Nya, tentu merupakan sebuah kondisi yang memungkinkan pikiran kita tetap terkonsentrasi untuk hal hal yang baik dan dengan dmeikian itu juga merupakan sebuah usaha untuk melawan lupa. Secara fisik kita tentu juga setuju jika kita harus menjaga kesehatan dan kebugaran kita, dengan  secara rutin berolah raga  setidaaknya olah raga ringan untuk menjaga kebugaran saja dan itu juga akan menolong kita daro sifat lupa.

Resep lainnya ialah kita memperbanyak silaturrahim kepada sahabat dan kawan yang pernah kita kenal. Untuk masalah ini kota memang harus mau berkorban yakni mengunjungi sahabat yang dekat maupun yang jauh tempat tinggalnya, karena dengan secara rutin bersilaturrahim kita akan selalau diingatkan dnegan banyak hal, terutrtama saat kita ngobrol dengan sahabat tersebut. Silaturrahim juga sekaligus akan  memberikan  jaminan awet muda dan  kemudahan dalam hal rizki. Untuk itu sangat disarankan kepada kita semua untuk selalu menjalin hubungan silaturrahim tersebut, sekaligus ini merupakan anjuran agama kita.

Sungguh sebuah kondisi yang sangat ideal jika kita selalu memelihara hubungan silaturrahim dengan semua sahabat, lalu rajin berdzikir kepada Allah swt, banyak banyak membaca kitab suci serta tidak lupa juga selalu bersedwkah kepada mereka yang kirang mampu, maka kita akan menjadi manusia yang insyaallah akan dijaga oleh Allah dari penyakot luipa dan  sejenisnya.

Penyalit lupa itu tidak baik, termasuk misalnya kalua menurut kebanyakan orang dianggap malah baik, yakni manakala lupa terhadap hutang. Tetapi secara umum lupa terahadap utang itu juga tidak baik, karena pasti akan merugikan pihak lain yang dihutaangi.  Sebagai orang yang secara usia  masih dapat dianggap muda, maka kita  harus berusaha dengan sungguh sungguh untuk melawan lupa dengan melakukan amalan amalan sebagaimana tersebut.  Jika kita yakin dan konsisten dalam menjalaninya, maka Allah  swt pasti juga akan mengabulkan keinginan kita, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.