PUASA ASYURA

Hampir semua umat muslim mengetahui kesunnahan berpuasa pada hari Asyura tersebut, meskipun belum banyak yang mau menjalaninya, padahal hikmahnya sangat luar biasa, yakni dapat menghapus dosa selama satu tahun. Apalagi kalau kemudian juga dibarengi dengan bersedekah khususnya kepada fakr miskin dan anak anak yatim, maka pahalanya akan emngalir demikian dahsyat. Bahkan diceritakan bahwa siapapun di hari Asyura yang meberikan nafkah kepada keliarganya dnegan melebihkan dari biasanya, maka Allah akan memberikan kelapangan dan kelebihan rizki kepadanya selama satu tahun.

Itu smeua tentu merupakan sebuah anugerah yang luar biasa. Namun nyatanya banyak umat muslim yang melewatkannya begitu saja seolah tidak mempedulikannya. Apakah ini disebabkan yang Namanya pahala itu tidak kelhatan sehingga tidak menarik minta untuk menjalankannya. Bahkan janji Allah yang sangat jelas dan dapat dipetik saat masih di dunia saja masih banyak yang tidak mau mengambilnya. Ambil conoh saja tentang bersedekah yang sudah jelas akan dibalas sepuluh kali lipat, namun belum banyak orang yang mengikutinya apalagi  berkompetisi untuk mendapatkannya.

Sama seperti janji Allah akan melapangkan rizki bagi siapapun yang melebihkan  nafkah kepada keluarganya pada hari asyura, seolah  leeat begitu saja tanpa membekas. Apakah mereka tidak yakin dengan riwayat tersebut? Seharusnya jika memang akan membuktikannya, ya dilakukan saja, apakah Allah benar benar akan memberikan kelapangan rizki selama setahun ataukah tidak.  Memanaag sulit bagi kebanyakan menusia untuk  bias yakin begitu saja tentang janji yang akan diperolehnya. Keingian kebanyakan manusia ialah adanya balasan yang instan dan dapat disaksikan  secara langsung.

Pada bulan  Muharram  dan lebih khusus  di hari asyura tersebut, Allah telah banyak memberikan bantuan Nya kepada para hamba Nya yang baik, baik dari kalangan para nabi dan rasul maupun para ulama dai marabahaya yang akan menimpa mereka. Cerita tersbeut begitu jelas, namun masih banyak juga yang belum mampu untuk memetik hikmah di dalamnya dan masih belum mampu menggerakkan hatinya untuk menjalankana kebaikan, agar dapat memperoleh bingtuan  dari Allah swt , termasuk mendapagkan kelapangan rizki, kesehatan, dan juga keselamatan diri dan keluarganya.

Atas berbagai kejadian dimana Allah banyak menyelamatkan hamba Nya tersebut, lalu tidak hanya umat muslim saja yang mengagungkan dan memperingati hari Asyura, melainkan juga umat Yahudi dan Nasrani untuk mengingat para tokoh dan Nabi mereka. Khusus bagi umat muslim diamping meghormati hari Asyura juga hari tasu’a karena memang sudah dicita citakana oleh nabi Muhammad saw untuk diperingati dnegan berpuasa di dalamnya.

Memang banyak pendapat yang kemudian dihubungkan dengan peringatan hari Asyura tersebut, khususnya yang terkait dengan golongan syiah yang mengaoitkannya dengan peristiwa Karbala  sehingga kemudian ada sebagian orang yang menjauh dari asyura disebabkan hanya karena adanya  pendapat tersebut. Seharusnya kita sebagai umat muslim, lebih mempercayai riwayat dari nabi Muhammad saw sebagaiman  sudah banyak disampaikan oleh para ulama tentang puasa hari tasu’a dan juga hari asyura.

Sementara itu untuk bacaan bacaan yang biasanya dibaca pada saat malam Asyra juga boleh dijalankan dnegan niat  dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Meskipun sangat banyak pendapat daari kalangan ulama yang disampaikan tentang bacaan tersebut, namun kitab oleh membacanya sesuai dnegan kemampuan kita tanpa harus memberatkan. Hal terpenting dalam kaitannya dengan bacaan tersebut ialah bagaimana kita  semakin memperdalam dan memperkokoh keimanan kita kepada Allah swt, lalu juga bagaimana kita memahami bacaan tersebut sehingga akan semakin menambah kekhusyuan kita dalam berdzikir.

Semua  pendapat mengenai bacaan bacaan tersebut adalah kalimat thayyibah sehingga jika kita baca tetap baik dan insyaallah akan mendapagtkan pahala jika kita tulus membacanya  dan sekaligus akan diberikan hikmah yang banyak. Kitanya kita tidak perlu menyalahkan atau memojokkan bacaan pihak lain yang ternyata tidak sama dengan apa yang kita baca. Misalnya ada yang menganjurkan untuk membaca alquran pada malam asyura tersebut tentu juga baik, karena bacaan alquran dalam kondisi apapun sangat dianjurkan. Karena itu sekali lagi kita tidak perlu bertengkar tentang bacaan  yang dilakukan pada malam asyura tersebut.

Jika kita mendapati  dalil yang kuat tentang  sesuatu yang akan didapakan pada malam asyura tersebut, maka  akan baik jika dijalankan, semacam memberikan sedekah atau  sebagaimana tersebut di atas yakni memberikan nafkah lebih kepada keluarga, lalu juga berpuasa yang akan dapat menghapus dosa selama satu tahun dan lainnya. Silahkan untuk dijalankan, semoga Allah swt akan benar benar memberikan apa yang kita tuju tersebut. Namun jika  hanya sebuah pendapat ulama, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran  syariat yang kuat, maka kalau kita mau untuk menjalankannya, silahkan saja untuk dijalankan dengan niat untuk berbuat kebaikan.

Khusus untuk menjalankan ibadah puasa di hari Asyura kita memang yakin bahwa hal tersbeut dianajurkan sendiri oleh Rasulullah saw, yang dahulu beliau juga menjalankannya beserta para sahabat beliau, lalu di akhir hayat beliau  juga berkeinginan untuk menjalankan puasa tasu’a yang belum kesampaian, tetapi karena sudah diniatkan, maka para sahabat pun menjalakannya dan diikuti oleh para ulama hingga saat ini. Karena itu untuk persoaan yang ini kita tidak perlu ragu atau bimbang ataupun  mempunyai sikap yang sebaliknya, karena dalilnya sudah sangat jelas dan ha,pir tidak ada yang membantahnya.

Semoga kita  mampu menjalani puasa  dua ai tersebut dnegan  baik dan  tentu  nantinya akan mendapatkan ampunan dari Allah swt atas segala di=osa kita yang sudah terlanjur kita jalani. Tentu  bukan  dengan maksud  ingin mengulangi dosa tersebut melainkan justru ingin bertobat dari  salah yang sudahterlanjur tersebut, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.