PUASA TANGGAL SEMBILAN MUHARRAM

Pada umumnya umat muslim mengenal puasa asyura, tetapi masih jarang yang mengenal puasa tasu’a, itu disebabkan puasa  tanggal Sembilan Muharram tersbeut kurang popular dan para ulama juga kurang mempopulerkannya. Kita tidak tahu mengapa demikian, karena masyarakat banyak yang belum mengenal puasa tasu’a tersebut, padahal sejak zaman nabi Mhammad saw puasa tersebut sudah dikenal, utamanya sejak beliau wafat puasa ini terus dijalankan oleh para sahabat, tabi’in dan juga para ulama setelah mereka.

Awal mulanya ialah pada saat masa Nabi, nabi Muhammad saw pernah berpuasa harti asyura dan memerintahkan, meskipun bukan mewajibkan kepada para sahabat beliau untuk berpuasa  pada hari asyura, namun para sahabat lalu bertanya  yang nadanya ingin sesuatu yang baru dengan mengatakan wahai Rasul hari asyura itu kan hari dimana orang orang Yahudi dan Nasrani saam memulyakannya, lalu kenapa kita juga mengikuti meulyakannya?. Singkat cerita lalu Nabi mengatakan kalau begitu tahun depan kita berluasa juga pada hari ke Sembilan atau hari tasu’a.

Namun kono ceritanya  belum sampai bulan Muharram berikutnya Nabi Muhammad saw sudajh menghadap Allah swt sehingga beliau sendiri belum menjalankan puasa tasu’a, akan tetapi seluruuh ulama sepakat bahwa itu merupakan  bentuk hammiyah Nabi sehingga  hukumnya juga sunnah untuk dikerjakan oleh umat muslim. Syukur alhamdu lillah sata ini sudah banyak ulama yang menganjrkan kepada umat untuk berpuasa juga pada hari tasu’a tersebut, sehingga biasanya umat dianjurkan untuk berpuasa dua hari secara menerus yakni pada tanggal Sembilan dan sepuluh bulan Muharram.

Beruntung bagi kita umat muslim yang mampu dan berkenan menjalankan puasa hari tersebut karena banyak fadlilah yangakan didapatkannya, dan tentu setiap perintah agama pasti mengandung hikmah yang sangat besar bagi yang mau menjalaninya. Untuk itu jika kita mempunyai kesempatan dana berkenan untuk menjalankannya, sebaiknya luangkan waktu dan kesempatan untuk menjalaninya. Semoga Allah akan membukakan segala pintu kebajikan mepada kita dan memudahkan segala urusan kita, baik yang terkait dengan  dunia maupun akhirat.

Jika kita mampu menganalisa semua printah agama dengan cermat, dapat dipastikan kita akan mampu membukan pandangan baru yang tentu sangat berguna bagi diri kita, termasuk dalam semua aspek kehidupan. Bukankah  berpuasa secara umum akan dapat juga menjaga kesehataan? Menambah kepekaan terhadap sesame, dan juga menambah kedekaatan kkita kepada Allah swt. Ternyata bagi mereka yang suka berpuasa  akan mendapatkan banyak hikmah yang luar biasa, yang terkadang tidak dapat digambarkan secara detail kepada pihak lain.

Kalaupun da pihak lain yang sama sekali tidak mendukung puasa hati kesembilan Muharram ini, maka biarkanlah mereka dengan pendapat mereka sendiri, daan kita tidka usah menghiraulannya, karena kita mempunyai pedoman yang sangat kuat dan juga tradisi para ulama kta sudah mandarah daging dnegan puasa Muharram tersebut. Lalu kenapa kita harus ragu dnegan amalan para ulama salaf yang sangat konsisten dengan amaliah baik tersebut?  Biasnaya mereka yang tidak menyukai sesuatu amalan,  disebabkan  mereka sendiri tidak mau mengerjakannya, padahal mungkin juga merekaa mengetahui hal tersebut, Cuma  kemungkinan tidak akan nyaman kalau memerintahkan tetapi diri mereka tidak mengerjakannya.

Sebaiknya kita memang harus konsisten dengan apa yang kita serukan. Artinya jika kita menyerukan perbuatan baik, maka sebaiknya kita sudah mencontohkannya terlebihd ahulu, atau menjadikan diri kita sebagai teladan bagi orang lain yang kita ajak. Bukankah nabi Muhammad saw selalu saja menjadikan diri beliaus ebagai contoh sebelum mengajak kepada ummat untuk melakukan sesuatu perintah? Bahkan alquran telah memberikan peringatan yang santata keras yakni bahwa dosa besar bgai siapapun yang antara ucapan dan perbuatannya tidak sama. Dengan bahsa alqurannya yakni dosa besar bagi kalian smeua  yang mengatakan sesuatu tetapi tidak  kau kerjakan sendiri.

Saat ini yang lebih penting ialah bagaimana kita  mampu menjalankan puasa tasu’a dan asyura dengan ketulusan hati, karena Allah swt tidak akan menerima sebuah amalan yang tidak disertai niat tulus. Dengan menjalankan puasa tersebut, kita berharap bahwa  kita akan menjadi hamba yang  taat dan sekaligus juga tulus dalama menjalankan perintah. Dengan dmeikian apa yang kita inginkan yakni hidup Bahagia di dunia dan di akhirat akan dapat kita raih.

Persiapkanlah  niat dana fisik kita selama dua hari ke depan untuk menjalani puasa, semoga  Allah swt akan menrima amalan kita dan memberikan berbagai kemudahan kepada kta dalam menjalani hidup di dunia ini. Demikian juga dnegan puasa tersbeut kita akan selalu dijaga kesehatan dan keselamatan kita dan seluruh keluarga sehingga akan terus menjalankan perintah agama dengan l;ebih baik lagi. Beruntung bagi kita umat muslim yang ada di Indonesia, karena untuk menjalankan puasa  kita sudah tidak perlu terlalu berat karena semuanya  membeirkan apresiasi kepada umat yang sdang menjalankan puasa, apalagi jika hati kita sudah bulat menjalaninya.

Kalaupun kita berpuasa dan tetap menjalankan aktifitas kweja sebagaimana biasa, kita tidak akan kelaparan dan  apalagi harus menderita. Allah pasti akan memberikan kekuatan kepada siapapun yang niatnya bulat untuk berpuasa, karena  pada saat maghrib tiba kita semua sudaah boleh makan dan minum sebagaimana biasa, apalagi jika puasa tersbeut hanya kita jalani dua hari saja. Sementara saat kita menjalankan kewajiban puasa Ramadlan saja  sepenjang bulan dan kita kuat  melewatinya dengan mulus da n banyak mendapatkan  keberkahan hidup.

Semoga tahun ini kita dapat menjalankan pusaa tasu’a dan juga asyura, sehingga kkita akan l;ebih bangga lagi dapat menjalankan sebuah perintah sunnah dan sekaligus  evaluasi diri  untuk menjadi yanag lebih baik selama tahun ini, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.