MAUIDHAH UNTUK PARA SANTRI BARU

Meskipun para mahassiwa kebanyakan pada indekos, namun masih banyak pula yang suka  nyantri di pesantren, hanya saja memamg peantren yang ada di sekita kampus sangat jarang sehingga kondisi etrsebut akhirnya memaksa sebagian mahasiswa terpaksa harus kos di tempat tertentu yang tanpa pembinaan. Kalaupun mereka masoh ingin mendapagkan pembinaan, maka mereka harus rajin untuk mendatangi majlis engajian yang ada di sekitar kos kosannya dan juga di masjid di dekaatnya.

Masih banyak diantara masyarakat yang belum  mampu membedakan antara  santri dan bukana santri, walaupun perbedaannya saat ini sudah mulai menipis. Ada kebiasan santri yang selalu dipertahankan, yakni mengaji langsung kepada kiyainya, lalu menjalani akhlak baik sebagaimana diajarkan oleh raulullah saw, semacam suka membantu, terbuka  suka tersenyum bilamnaa berpapasan dnegan kawannya, mengucapkan salam jika bertemu kawannya, mencium tangan guru dan kiyainya dan lainnya.

Kebiasan santri lainnya ialah suka shalat berjamaah, saat malam hari terbiasa melakukan shalat tahajjud, suka membca alquran dan juga  suka berdzikir, bershalawat dan juga melakukan amalan kebanyakan orang pesantren. Sifat lainnya yang sebaiknya dan bahkan wajib dihindari antara lain ialah dendam,  sakit hati, marah, mencaci, permusuhan, dan juga sirik dan bohong. Sebagai santri semestinya  dia juga mengetahui apa saja amalan yang biasa dijalankan oleh rasulullah saw  dan amalan apa saja yang dilarang oleh beliau.

Dengan mengetahui hal tersebut, santri akan dapat mengikiti cara hidup yang dijalani oleh beliau dan  sekaligus berusaha untuk menjdai yang terbaik diantara yang baik. Santri tidak boleh berhenti untuk  belajar, apapaun yang dipelajarinya, sebab dnegan ilmu pengetahuan santri akan menggapai cita cita dan emmbuka jendela dunia. Sangat mustakhil jika santri malas belajar lalu tiba tiba ingin menjadi seorang ulama, larena  semua  keinginan itu harus disertai dnegan usaha keras tanpa mengenal Lelah hingga cita citanya tersbeut didapatkan.

Biasanya santri juga akan sering meminta nasehat kepada kiyainya, apakah itutentang amalan apa yang sebaiknya dijalankan, mungkin berpuasa atau melakukan riyadhah lainnya. Santri memang tidak boleh berhenti untuk mencari, karena posisi santri ialah sebagai orang yang sedang mencari, maka  apapun harus dapat ditemukan, meskipunharus melakukan pendakian yang sangat sulit sekalipun. Anamun dengan petunjuk dari kiyai dan dengan ridlo darinya serta  support dari orang tua, maka seorang santri memang harus berani untuk berkorbana demi meraih cita citanya yang mulia.

Kita memang sering mendengar adanya santri mbeling yang justru datangnyan dari santri keturunan ulama besar, namun kembelingannya tersbeut etntu masih batas kewajaran,s ehingga akan dnegan mudah kiyai untuk meluruskannya. Mungkin secara kasat mata  santti mbeling tersbeut seperti kurang ajar dan  membantah kepada perinta pengurus  santri, namun secara substansial dia  akan selalu mengikuti  apa yang disarankana oleh kiyainya dan sama sekali tidak akan berani membanthnya.

Jika santri adalah seorang mahasiwa yang harus menjalani perkuliahan dan mengerjakan banyak yugas, maka  sebaiknya dia harus pandai mengatur waktunya agar semuanya dapat ebrjalan dnegan baik dan normal. Artinya jika seornaag mahasiwa sekaligus juga nyantri maka terlebih dahulu dia harus berani utuk ebrtreus terang kepada kiyainya dan meminta ijin tertentununtuk meninggalkan kegiatan santri jika bertepatan dnegan mengikuti kuliah di kampus, namun selebihnya dia tetap akan mengikuti kegiatan rutin pesantren.

Jika hal ini disampaikan dengan cara yang baik di awal, tentu nantinya tidak akan menjadi persoalan jika ada barengan antara kegiatan kampus dan pesantrean, namun jika tidak ada pembicaraan secara terus etrang, tentu potensi untuk benturan sangat besar dan itu pasti akan merugikan santri sendiri. Karena itu disarankan kepada para santri untuk sekali lagi mengatur waktu dnegan sangat baik dan cermat.  Jangan ikuti kegiatan yang kurang bermanfaat bagi drinya dan hindari pula hal hal yang justru dapat merusak repurtasinya sebagai seorang santri.

Manfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk mengejar cita cita dan membaca sebanyak banyaknya, jangan ada kata bosan dalam mendapatkan ilmu, karena jika sekali bosan, maka itu pertanda  kegagalan. Jangan sampai pengaruh negative sebagian kawan yang suka  berleha leha justru  menjadi perhatian sanyri yang hanya akan merugikan saja. Sebaliknya  dekatilah kawan yang sungguh sungguh dalam belajarnya, dan jangan lupa untuk selalu belajat=r menggoreskan pengalaman dan pengetahuan sanri mealui tulisan untuk dibagikan kepada orang lain.

Dunia tulis menulis memang belum popular di kalangan santri, namun sudah saatnya sekarang para santri memulai menulis agar nantinya terbiasa dan mendapatkan sesuatu dari tulisan tersebut. Ingatlah bahwa orang dahulu dikenal oleh masyarakat saat ini bukana karena ilmunya semata, melainkan justru lebih banyak disebabkan oleh tulisannya. Coba kalau kita tidak mengenal tulisan para ulama terdahulu, amak kita juga pasti tidak akan mengenal sosoknya. Ilmu itu penting, namun menuliskna ilmu itu jauh lebih penting.a jika santri tidka terbiasa menulis, pastinya tidak akan mampu menyampaikan ilmunya tersbeut kepada orang lain mellui tulisannya.

Saat ini  sduah banyak  pelatihan yang mengangkat para santri untuk dapat menulis dan itu harus dianggap sebagai sebuah tantangan yang menarik dan harus dikuasai, sebab dengan kemampuan untuk menulis, seeorang atau santri akan dapat menembus dunia tanpa harus  menjeljahinya secar fisik, bahkan terkadang juga  akan mampu menggerakkannya  menjadi orang yang menjelajah dunia secara fisik juga. Jangan sampai ada santri saat ini yang hanya dapat berbicara tetapi tidak mampu menulis. Semoga kita  nantinya akan mampu menyaksikan  para santri beramai ramai menulis banyak hal dan meramaikan dunia tulisan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.