PROGRAM 5000 DOKTOR

Pencanangan program 5000 doktor memang bombastis, kenapa? Sebab untuk membidik para calonnya saja harus dilakukana semacam pengkajian matang, sebab kalua diantara 5000 yang diharapkan ialan 4000 dari dalama negeri dan 1000 nya  luar negeri. Sementara ini untuk program diktor diperlukan penguasaan abhasa yang  kuat sehingga akan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang ditulis dnegan Bahasa Arab dan Inggris. Nah, di sinilah persoalan utamanya, karena para calaon doctor tersebut masih sangat kurang dalam jhal bahsa, tetapi program ini tetap dipaksakan.

Belum lagi mengingat ada program pemberian bea siswa LPDP yang akan memberikan bewa siswa penuh kepada anak anak Indonesia yang mampu untuk melanjutkan studinya, baik di dlaam maupun di luara negeri dengan pembiayaan yang un limited. Bahkan direkturnya saja pernah mempertanyakan kebaradaan  program 5000 doktor. Kenapa uang yang banyak itu tidak digunakan saja untuk memperkuat PTKIN dan membiayai banyak hal yang dilaksanakan oleh PTKIN, semenetara untuk bea siswa biarlah dilaksankaan oleh LPDP, Bahkan LPDP jjuga mau beekrjasma dengan kementerian agama untuk memberikan bea siswa secara  prioritas kepada kementerian agama.

Saat ini banyak PTKIN yang mengeluh tidak ada anggaran untuk pengembangan institusi karena semua dana tersedot oleh  pemenuhan sarpras khususnya dari SBSN dana anggaran untuk pengembangan menjadi hilang. Program program yang berpihak kepada  para dosen juga menjadi langka dan bahkan nyaris tidak ada. Ini semua semestinya menjadi pemikiran kta smeua, terutama pihak yang mengambil kebijakan di kementerian agama  untuk lebih peka terhadap persoalan pengembangan PTKIn secara umum.

Lihatlah program internasionalisasi yang selalu diharapkan, namuan tidak diimbangi dnegan enggaran yang memadahi dan juga keberihakan kementerian kepada PTKIN. Ijin untuk menjali kerjasama  dengan pihaka luar negeri juga semakin sulit, terbukti meskipun sudh aada kesepakana  untuk undangan ke perguruan tinggi di luar negri, tetapi ijin dari kementerian mandek sehingga kita menanggung malu kepada pihak luar tersebut. Tentu masih banyak lagi program yang sehrusnya didukung oleh kementerian agar PTKIN menjadi lebih baik, lebih maju dan diperhitungkan di kancah global.

Sampai saat ini peminat untuk menjadi mahasiswa dengan pembiayaan  dari kementerian melalui program 5000 doktor juga  masih relative sama, yakni kualitasnya sangat minim dan  cenderung memperihatinkan. Lalu apa yang akan dibanggakan dengan para calon yanag minim kemampuannya tersebut?  Setidaknya harus ada  program penguatan Bahasa terlebih dahaulu dan juga  bimbingan untuk penulisan dan riset sehingga mereka akan lebih siap untujk memasuki dunia  yang memang membutuhkan kemampuan prima, baik dalam hal  akademik maupun dalam hal Bahasa.

Hama[ir setiap tahun saat ada seleksi masuk para calon [enerima beasiswa selalu saja  tidak ada yang memenuhi standar minimal dalam hal kemampuan Bahasa  dan juga kemampuan menulis sebuah proposal disertasi. Memamg itu masih memerlukan proses, akan tetapi setidaknya harus  Sudha menguasi kemampuan minimal sehingga nantinya diharapkan akan mampu mengikuti perkuliahan dna menyelesaikan disertasinya  tepat pada waktunya. Jika nantinya ada yang tercecer, maka hanya beberapa saja , dan bukan mayoritas.

Secara umum kita memang bngga dengan program ini, yanag berarto peningkatan  para dosen, baik di kalangan dosen PNS maupun non PNS, baik di kalangan PTKIN maupun PTKIS. Bamun kalua tidak dipersiapkan dahulu  hal hal yang terkait dnegan penguatan Bahasa dan lainnya sebagaimana tersbeut, tentu akan sangat disayangkan. Bayangkan saja jika tidak ada yang lolos atau memenuhi standar minimal, maka tetap saja nantinya aka nada yang diterima sebagai mahasiswa  meskipun nilainya kurang.

Ini semua bukan hanya  tuduhan melainkan kenyataan, buktinya saya sendiri ikut menguji wawancara untuk  proposal awal yang diajukan, hampr seluruhnya tidak memberikan gambaran mengenai kesiapan mereka untuk mengikuti kulaih di S3 bahkan banyak diantara proposal yang mirip dengan proposal skripsi. Sungguh sangat  memperihatinkan dan itu semua seharusnya juga sudah diketahui oleh kementerian, sehingga kemudiana  aka nada program yang diarahkan untuk memperbaiki kualitas Bahasa para dosen kita sebelum mereka melanjutkan kuliah  di S3.

Tentu programa yang saat ini sudah berjalan tersebut tidak perlu dihentikan, melainkan harus dilakukan  evaluasi sehingga dapat dilakukan hal hal penting yang diperlukan sehingga nantinya akan didapatkan hasil yang menggembirakan. Setidaknya  harus disusul dnegan program penguatan Bahasa di kalangan mahasiswa maupun dosen yang belum studi lanjut, karena ini merupakan persoalan penting dan harus segera dijalankan. Saat ini bukan saatnya untuk berpikir berlama lama karena sudah ada banyak bukti terhadap kondisi ini  yang mengharuskan segara dilakukan upaya penyelamataan.

Demikian juga terkait dnegan kewajiban para mahasiswa S3 untuk menulis jurnal di jurnal internasional bereputasi, tengu ini juga harus segera disikapi. Jangan sampai pada saatnya nanti kita akan mendapatkan persoalan yang rumit karena  membiarkan masalah ini tetap berjalan apa adanya tanp antisipasi mencari solusinya. Untuk dapat menulis di jurnal internasional bereputasi itu bukaan persoalan yang mudah dan harus  dilakukan sejak dini bukaan mendaadak.  Kita sangat khawatir jika merka sudaha selesaai menulis disertasi dan belum mampu untuk menulis di jurnal yang diharapkan, nantinya akan menjadi kendala yang sangat hebat.

Memang idelanya ada tim tersendiri yang memikirkan secara komprehensif untuk kepentingan PTKIN secara menyeluruh. Dengan demikian  kebijakan yang ditempuh dan diambil akan dapat mencerminkan keinginan banyak kalangan PTKIN dan bukan keinginan sepihak saja. Tim tersebut harus selalu melakukan kajian dan meminta masukan dari PTKIN dan para guru besar yang ada untuk begaimana mengembangkana PTKIn dan menjadikannya sebagai PTKIN yang diandalkan dan dijadikan rujukan oleh banyak kalangan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Pertanyaannya ialah maukah pihak kementerian membentuknya dan  mengupayakan kebaikan PTKIN secara substansial. Sesungguhnya sudah banyak masukan tetapi masih belum didengar atau belum direspeon secara positif sehingga kondisinya masih tetap sama dan tidka ad ghirah untuk maju serta dibareni dengan penguatan anggaran yang sepadan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.