HAKEKAT MODERASI BERAGAMA-2

Sikap Radikal

Kata radikal sesungguhnya dapat digandengkan dengan kata lain dan  berkonotasi positif, seperti apabila digandengkan dengan kata perubahan yang radikal karena perubahan yang radikal itu mengindikasikan  sebuah perubahan yang nyata dan tidak setengah setengah, namun jika kata radikal tersebut digandengkan dengan kata  agama, menjadi radikal dalam beragama, maka itu akan bermakna negative.

Artinya  beragama itu  kalau radikal maka  akan didapati sebuah kondisi yang menyeramkan,  pemaksaan, intoleransi dan sejenisnya. Jika kita kembali kepada pengertiannya yakni radikal adalah kata sifat yang berarti aksi mencolok untuk menyerukan paham ekstrem agar diikuti oleh banyak orang. Sementara radikalisme adalah ideologi yang mempercayai perubahan menyeluruh hanya bisa dilakukan dengan cara radikal, bukan dengan cara evolusioner dan damai, maka radikalisme agama itu sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa  dan bernegara bagi sebuah komunitas bangsa, karena ada upaya untuk memaksakan kehendak sesuai dengan keinginan mereka  yang belum tentu sesuai dengan karakteristik bangsa itu sendiri.

Sesuatu yang dipaksakan meskipun substansinya baik, tetap akan menjadi tidak baik. Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh nabi kita Muhammad saw yang selalu baik kepada siapapun, termasuk mereka yang sengaja  menyakitinya. Sikap baik itulah yang seharusnya kita warisi sehingga kita tidak akan pernah memaksakan kehendak, apalagi dengan mengatas namakan Agama. Ternyata sikap yang ditunjukkan oleh Nabi tersebut, akhirnya akan menuai kebaikan, baik bagi diri beliau ataupun bagi Islam secara umum.

Dalam kasus radikalisme agama di negera kita dapat kita lihat munculnya gerakan golongan tertentu yang memaksakan Islam dengan ciri khas ala mereka untuk diwujudkan di negera kita dengan cara apapun, termasuk bilamana harus menggunakan kekerasan sekalipun. Dari prinsip  kekerasan yang mereka gunakan saja  orang yang berpikir waras pastinya tidak akan menyetujuinya, apalagi kalau hal tersebut kemudian dialamatkan  kepada agama Islam yang  sesungguhnya identic dengan kedamaian. Memaksakan kehendak untuk  sesuatu, apalagi terkait dengan sebuah keyakinan, pastilah akan menimbulkan persoalan baru. Karena itu semua  pemaksaan kehendak pasti akan mengalami kegagalan, termasuk keinginan sebagian kelompok orang unutk memaksakan  Islam ( menurut versi mereka) diberlakukan di Negara kita.

Radikal itu in tolerans karena sesuatu yang  diyakini sebagai kebenaran mutlak dan dijalankan  secara harfiyah, tentu akan berbenturan dengan  banyak hal, termasuk dengan kebiasaan dan  aturan lain yang ada di sebuah komunitas tertentu. Memaksakan memberlakukan syariat Islam sebagaimana yang dipahami oleh mereka tersebut justru  akan dapat menciptakan imej negative terhadap Islam itu sendiri yang kebaradaannya  sungguh menjadi pemersatu  bangsa dan  menjadi perekat ukhuwah seluruh  anak bangsa.

Keberadaan Islam wasatiyah atau moderat dan yang rahmatan lil alamin tentu sangat dinantikan oleh banyak pihak, karena  dengan posisi dan keberadaan Islam yang demikian itulah seluruh warga bangsa akan merasa tenang, terlindungi dan aman. Islam yang  tengah tengah itulah yang saat ini sangat dirindukan oleh semua pihak karena akan mampu menjadi sebuah alat untuk mencapai tujuan mulia, yakni kesejahteraan bagi seluruh anak bangsa.

Selanjutnya dalam banyak leteratur ternyata kata  radikal itu  sangat dekat dengan kata terror. Meskipun  tidak ada hubungannya secara langsung namun kita harus mengakui bahwa bermula dari sikap radikal itulah kemudian muncul tindakan terror. Artinya  munculnya  teror itu seringkali juga didahului oleh sikap radikal dalam beragama. Ambil contoh misalnya   dalam menjalankan misinya untuk memaksakan kehendak tidak mendapatkan respon  positif, bisa saja kemudian dia harus melakukan kekerasan dengan menteror sebuah komunitas agar pada saatnya  pihak lainnya merasa takut dan tertekan dan kemudian mengikuti keinginannya.

Namun  sebagaimana kita tahu bahwa  cara kekerasan yang digunakan tersebut ternyata tidak mempan untuk membuat masyarakat takut dan kemudian mengikuti keinginan mereka,  malahan justru mereka sendiri yang akhirnya harus menjalani kehidupan yang semakin sulit. Jika seseorang sudah  mempunyai sebuah keyakinan yang begitu kuatnya tentang sesuatu, lalu diperkuat dengan  adanya keyakinan lain yang terkait dengan keyakinan pertamanya tersebut, seperti misalnya  adanya iming iming surga jika mati dan sejenisnya, maka mereka sudah tidak lagi mempunyai sifat takut dan mereka akan mampu menjalankan apapun yang dianggap sebagai tugas keyakinannya tersebut.

Sikap yang demikian juga dahulu pernah dipunyai oleh mereka yang mengikuti kaum khawarij yang komitmennya terhadap Islam begitu kuat, namun pemahaman terhadap ajaran Islam begitu sempit dan hanya mendasarkan diri kepada teks, sehingga mereka menjadi sangat ekstrim. Saat ini kita juga mengenal ISIS yang  tidak berbeda dengan para ekstrimis lainnya yang ingin memaksakan kehendak Islam itu menjadi satu di dunia ini dengan satu komando yang dianggapnya akan menyelesaikan semua masalah.  Mereka tentu sama sekali tidak dapat dibenarkan karena persoalan umat di  dunia ini sungguh sangat kompleks dan tidak akan mungkin diselesaikan dengan membentuk satu Negara dunia.

Toh dahulu sudah pernah ada  saat  Turki menguasi dunia Islam dan  ternyata hasilnya tidak mampu mewujudkan  cita cita yang dianggapnya sebagi sangat ideal tersebut. Saat ini ISIS yang mendapat  bantuan dari sebagai masyarakat muslim di beberapa Negara, ternyata tidak konsisten dalam perjuangannya, sehingga satu demi satu pengikutnya dapat merasakan betapa  ISIS tersebut hanyalah sebuah gagasan politik yang memperralat agama, dan akhirnya meskipun belum bubar seluruhnya, akan tetapi pada saatnya pasti akan bubar dengan sendirinya tanpa hasil yang diharapkan.

Mengingat semua itu sudah barang tentu Islam moderat memang menjadi pilihan tepat dan dipraktekkan dalam kenyataan. Kita sudah merasakannya yakni saat kita menjalankan ajaran Islam yang moderat etrsebut di lingkungan kita, dan  sudah semestinya kita akan terus menyebarkan paham etrsebut kepada seluruh umat tanpa terkecuali, seiring dengan  usaha kita untuk menjelaskan kepada mereka yang mengikuti arus ektrim agar mereka mau kembali kepada Isl;am yang sebagaimana dijalankan oleh nabi Muhammad saw.

Diperlukan Keteladanan

Sebagaimana kita tahu bahwa kaum awam di negeri kita itu jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang kaum intelek, sehingga penyikapan terhadap umat harus disesuaikan dengan  kondisi mereka. Artinya  kalau kita berbicara mengenai moderasi beragama kepada masyarakat, maka tidak akan mempan jika kita hanya berteori atau hanya menceramahi mereka, karena mereka pada prinsipnya tidak mau berpikir dan memahami sesuatu yang sulit. Lain halnya dengan kaum intelek, jika kita menceramahi atau memberikan pengertian tentang moderasi beragam kepada mereka, maka cukuplah dengan argumentasi yang kuat.

Kaum intelek tentu akan dengan senang hati memahaminya dan kemudian menjalaninya jika seuai dengan  keinginan mereka. Namun bagi kaum awam tentulah berbeda, karena mereka tidak mau bersusah susah memahami pengertian moderasi beragama. Mayoritas diantara mereka hanya ingin hidup enak dan menjalani kehidupan keseharian dengan enak pula. Namun mereka biasanya juga akan memberikan penilaian kepada para ulama dan tokoh tentang kehidupan dan sikap mereka dalam kenyataan keseharian.

Untuk itu jika kita ingin memahamkan moderasi beragama kepada mereka tentulah harus dicari model yang praktis, yakni melalui  keteladanan seorang tokoh. Tentu mereka akan lebih mudah memahami seorang tokoh dalam sikap dan tindakannya ketimbang harus memahami teori dan ceramah. Jika seorang ulama atau tokoh konsisten dalam sikap dan perjalanan hidupnya, maka umat tentu akan mempercayainya  bahkan apapun yang disampaikan akan dipercaya.

Sebaliknya jika antara kata dan sikap serta perilakunya berbeda dan bahkan cenderung tidak konsisten, maka umat tentu juga akan menyikapinya secara berbeda. Artinya jika ada tokoh yang tidak menyatu antara kata kata dan sikap serta perilakunya pastilah umat akan tidak mau mempercayainya. Sebagai contohnya ialah jika ada tokoh yang selalu menganjurkan untuk berbagi kepada mereka yang  miskin, tetapi perilakunya sendiri sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut, maka umat pasti tidak akan memperdulikannya.

Jika ada ulama atau tokoh yang menganjurkan untuk saling memberikan kebahagiaan meskipun hanya melalui senyum saat berjumpa, lalu dia sendiri malah cuek  dengan masyarakatnya, bahkan saat berjumpa juga sama sekali tidak memperdulikannya, pastilah umat tidak akan memperdulikannya dan sama sekali tidak akan mempercayai semua informasi yang datang darinya, meskipun  dengan disertai dalil yang  sangat panjang dari alquran maupun hadis Nabi.

Kita seharusnya mencontoh apa yang dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad saw kepada umatnya pada saat itu, meskipun beliau disakiti, dimusuhi dan diperlakukan yang tidak senonoh, namun beliau tetap saja menghormati dan tetap baik kepada mereka. Beliau tidak pernah menyimpan dendam apalagi kemudian membalas keburukan yang diterimanya. Dengan sikap tersebut ternyata misi yang diembannya berhasil dan semua yang memusuhinya juga menaruh respek kepada beliau.

Kita juga tahu bahwa  meskipun beliau sangat yakin bahwa ajaran yang dibawanya adalah sebuah kebenaran yang mutlak, namun beliau tidak pernah memaksakannya kepada siapapun. Beliau hanya menyampaikan apa adanya  dan selebihnya terserah kepada penerima ajakan tersebut. Pada saat sebagian umat sudah mau mengikuti agama yang dibawanya, beliau juga tidak memaksakan kepada mereka untuk menjalankan seluruh syariat di dalamnya, bahkan beliau sangat menghargai kemampuan umatnya dalam menjalankan syariat.

Beliau sangat tahu bahwa  kemampuan umatnya itu beragam dan beliau terkenal dengan pernyataannya bahwa “jika aku memerintahkan kepada kalian tentang sesuatu maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian”. Demikian juga dalam kehidupan keseharian, beliau selalu saja bersikap ramah kepada siapapun dan tentu juga bersedia mendengarkan keluhan dan penyampaian pendapat. Sikap tersebutlah yang kemudian di kemudian hari menjadikan semua urusannya menjadi sukses dan dipercaya oleh umat.

Nah, yang dibutuhkan  oleh umat yang memang kebanyakan awam tersebut ialah keteladanan sebagaimana yang ditunjukkan oleh baginda Rasulullah swt tersebut, bukan ceramah yang berbusa busa ataupun teori yang  tinggi.  Karena itu jika kita tidak mampu menjadikan diri kita sebagai uswah bagi umat, maka tidak usah berharap banyak bahwa umat akan mempercayai kita dan mendengarkan apa yang kita sampaikan dan ajakkan.

Saat ini kita sedang berkampanye tentang  moderasi beragama, simple saja  untuk mensukseskannya, yakni mari kita jadikan diri kita sebagai teladan yang baik bagi masyarakat dalam semua aspek kehidupan, baik yang menyangkut persoalan pribadi maupun social. Umat saat ini sangat membutuhkan panutan dan saat ini sedang terjadi krisis panutan dan  banyak diantara para tokoh yang justru berlaku lacur serta abai terhadap keinginan masyarakat.

Omong kosong kita  tentang moderasi beragama jika kita hanya menulis atau hanya berceramah saja, tanpa berusaha untuk mendorong diri kita dan tokoh lainnya untuk berbenah diri menjadikan  diri sebagai teladan yang sangat baik dan terpercaya untuk umat yang sedang haus keteladanan. Kita harus yakin jika  banyak tokoh yang berlaku baik dan konsisten dalam kebaikannya tersebut, maka umat tentu juga akan semakin baik dan menurut serta mau menjalankan  apa yang kita inginkan.

Penutup

Moderasi  beragama semakin banyak disuarakan oleh banyak pihak, namun praktek beragama umat justru semakin memperihatinkan. Gerakan radikal dalam beragama juga semakin marak, bahkan terror juga bukannya semakin hilang. Tentu kita harus mencari penyebabnya, karena secara teoritik semakin banyak pihak yang menyuarakan moderasi beragama, maka akan semakin membaik cara beragama umat, karena banyaknya himbauan dari para tokoh dan ulama. Jika kemudian yang terjadi adalah sebaliknya, pasti ada sesuatu yang salah dalam masyarakat kita.

Karena itu menjadi kewajiban kita  semua untuk mencarinya dan sekaligus mencarikan solusi terbaiknya. Tujuan akhirnya ialah agar  Islam yang moderat semakin dijalankan dan dipraktekkan oleh masyarakat kita, utamanya  masyarakat Indonesia, dan umumnya masyarakat muslim di dunia.

Kita sangat yakin jika para tokoh dan ulama  kita mau menjadikan dirinya sebagai panutan yang konsisten dalam pelaksanaan ajaran Islam moderat. Tentu masyarakat juga akan mengikutinya. Jika kemudian Islam  wasatiyah ini yang dipraktekkan oleh masyarakat muslim, maka  kedamaian dan  kenyamanan dalam beragama serta berbangsa dan bernegara di manapun  akan semakin baik dan kuat, dan itulah yang kita inginkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.