HAKEKAT MODERASI BERAGAMA

Kata moderasi mengandung makna tengah tengah, tidak ekstrim ke kanan ataupun ekstrim ke kiri, jika dikaitkan dengan persoalan agama, maka moderasi beragama itu bersikap dan berperilaku yang tidak mengikuti arus ke kanan ataupun ke kiri. Mungkin juga masih terlalu sulit bagi orang awam untuk memahaminya karena itu dibutuhkan penerjamah atau pelaku moderasi beragama yang mau dan mampu menjadikan dirinya sebagai teladan bagi umatnya dalam segala aspek kehidupan dan pelaksanaan  aturan agama.

Kita mengenal ada pemahaman keagamaan yang tekstual sehingga  menjadikan  orang  yang mengikuti aliran pemikiran yang tengah tengah menjadi tidak nyaman dan bahkan menggugatnya, karena pemikiran tekstual dianggap sebagai sebuah pemahaman yang kering dan hanya mengandalkan teks semata sehingga akan bertentangan dengan nurani dan etika yang dikembangkan. Bahkan sangat mungkin akan berbenturan dengan nilai nilai lain yang dikembangkan oleh umat manusia, seperti hak azasi manusia dan lainnya.

Sementara itu di pihak lain ada yang memahami agama sedemikian bebas tanpa mengindahkan kaidah kaidah yang sudah dirumuskan oleh para ulama zaman dahulu sehingga seolah tanpa batas. Pemahaman yang demikian juga akan membawa orang kepada tujuan dan kehendak pihak tertentu yang justru bertentangan  dengan kehendak Tuhan sendiri. Bahkan terkadang secara  lahir pemahaman yang demikian malah  mendukung pendapat di luar Islam itu sendiri.

Nah, kedua  pemahaman yang sama sama ekstrim tersebut tentu sangat tidak cocok dengan pemikiran mereka yang menginginkan Islam itu sangat damai, indah dan menyenangkan. Jika kita mau  menjadikan diri kita sebagai pengamal ajaran Islam yang moderat yang tengah tengah dengan  konsisten, tentu akan terasakan begitu indahnya Islam itu sebagaimana yang kita inginkan dan tentu juga sesuai dengan apa yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw pada saat itu.

Pendeknya moderasi beragama itu apabila pemikiran dan juga  pelaksanaan ajaran Islam mengacu kepada  apa saja yang sudah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw dalam  praktek keseharian beliau. Karena itu beliau kemudian menjadi teladan yang terbaik bagi seluruh umat muslim. Model sikap yang beliau tunjukkan sangat santun dan  akan membuat siapapun respek dan mengakui kebajikannya, meskipun  orang tersebut sangat membenci beliau.

Nah, kita berkeinginan bahwa Islam yang ditampilkan saat ini juga  dapat dilihat kebaikannya, bukan  memihak kepada kepentingan golongan tertentu atau bahkan membenci golongan tertentu lainnya. Islam itu rahmatan lil alamin, akan menjadi  kemaslahatan bagi seluruh alam tanpa terkecuali, dan Islam yang demikian itulah yang akan  menjadi semakin  dipercaya oleh umat di dunia pada saatnya nanti.

Moderat vs Ekstrim

Dalam berbagai literature dikatakan bahwa moderat itu sikap tengah tengah dan mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan serta tidak lupa dengan fondasi pokoknya, sehingga kalau dikaitkan dengan Islam, moderat ialah Islam yang tidak cenderung ke  kanan atau pun ke kiri secara ekstrim serta selalu dapat menyesuikan diri dengan kemajuan namun tetap ada dalam fondasi asal yang kuat. Meminjam istilah dari Khalid Abu Fadlal, Islam moderat dimaknai dengan sebuah sikap beragama yang tidak menjadikan agama sebagai sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan  dapat menghargai capaian umat terdahulu tetapi juga menempatkan diri sebagai orang yang hidup pada zaman ini. Intinya Islam moderat itu tidak kaku, melainkan dapat lentur serta mampu untuk menerima pandangan lain. Dengan begitu Islam moderat itu sangat dekat dengan sikap toleran dalam kehidupan nyata.

Dalam banyak hal sikap moderat itu akan selalu dijadikan sebagai alternative yang bagus, semisal dalam sebuah pertentangan yang  sudah memuncak dan seolah tidak ada jalan keluar yang dapat ditempuh karena masing masing mempertahankan pendapatnya, maka jika sikap  moderat dipilih, maka  akan dilakukan  sikap dan pemikiran yang memungkinkan untuk tetap mempertahankan pendapat, tetapi dengan cara lain, bukan dengan cara yang  sudah mendapatkan kebuntuan tersebut. Dengan demikian apa yang dipertahankan tersebut masih akan tetap dipertahankan, namun pihak lain juga akan merasa tidak terkalahkan.

Kalau diibaratkan  peperangan yang sedang berkecamuk, lalu tidak ada jalan keluar terkecuali hancur hancuran,  maka bukan sikap moderat jika keputusannya ialah meneruskan peperangan. Sikap moderat ialah jika  pihak pihak mampu mengambil inisiatif untuk menghentikan peperangan, dan mengambil jalan perundingan atau musyawarah atau jalan lainnya yang tanpa kekerasan dan peperangan serta tanpa merugikan banyak kepada pihak pihak. Jadi sikap moderat itu lebih cenderung  kepada  saling mengerti untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik dan sekaligus juga ada aspek toleransi  di dalamnya.

Tentu ini akan sangat bertolak belakang dengan sikap ekstrim, baik kiri maupun kanan, sebab sikap ekstrim itu mengharuskan untuk menjadikan ajaran agama sebagai sesuatu yang kaku dan tidak dapat diganggu gugat. Apa yang termaktub dalam ajaran agama itulah kebenaran mutlak yang tidak ada hak bagi umat untuk  mengubahnya atau sekedar menafsirakannya. Atau kalau ekstrimnya sebaliknya atau  biasa disebut sebagai aliran liberal ialah bahwa teks agama itu harus diubah dan sesuaikan dengan kondisi dan situasi yang berkembang. Teks agama itu tidak boleh ketinggalan, karena itu sebagai umat kiranya menjadi  wajib menafasirkan dan bahkan mengubahnya sedemikian rupa sehingga akan sesuai dengan zaman yang sedang berjalan.

Sikap ekstrim dengan memaksakan kehendak  dalam menjalankan ajaran tekstual sebuah agama yang  harus  dijalankan dengan pemaksaan dan bahkan dengan kekerasan, pastinya akan mendapatkan reaksi, baik dari masyarakat setempat maupun masyarakat lain yang mengetahuinya. Agama sesungguhnya sangat jauh dari pemaksaan, melainkan  yang ada ialah mengajak kepada kebaikan dengan jalan damai dan lebih menekankan kepada penampilan kebaikan kebaikan yang ada. Bagaimana mungkin  masyarakat yang beradap akan dapat menerima sebuah aturan yang dipaksakan? Mereka tentunya akan dapat memikirkannya sedemikian rupa untuk kemudian  diterima jika ajaran tersebut sangat baik dan memungkinkan untuk dipertahankan dalam masa yang lama.

Jadi apapun alasannya dan argumentasinya,  sikap ekstrim itu tidak dapat diterima oleh masyarakat beradab dan pada saatnya  pasti akan ditolak.  Demikian juga dengan ekstrim liberal yang cenderung bebas tenpa batasan apapun tentu juga sama sekali tidak  sejalan dengan aturan agama yang pasti  ada  sesuatu pokok yang tetap harus berjalan sampai akhir zaman, meskipun ada yang dapat disesuaikan dengan kondisi zaman, namun sekali lagi bukan seluruhnya dapat diubah  seenaknya sendiri demi keadilan atau Ham atau lainnya.

Jadi  kedua ekstrim tersebut sama sama memberikan tekanan yang kuat untuk menjadikan Islam sebagai sebuah aturan yang “terlalu” kaku atau “terlalu” longgar dalam pengamalannya, sehingga hal tersebut  berpotensi untuk mendapatkan pertentangan dari umat Islam itu sendiri. Jika memaksakan teks dijalankan apa adanya, pasti akan berbenturan dengan banyak kepentingan yang  tentu sudah berubah dari asalnya sehingga umat akan merasa terbebani terlalu berat untuk tetap menjalankan ajaran Islam, padahal seharusnya Islam itu mudah dan menyenangkan untuk dilaksanakan.

Demikian juga dengan jika kita membiarkan dan mentoleransi  perubahan yang radikal terhadap ketentuan teks yang ada, boleh jadi justru akan semakin keluar dari maksud utama dari teks tersebut. Akibatnya  ajaran Islam akan  berbeda secara substansial dengan pelaksanaanya pada zaman nabi Muhammad saw. Kedua ekstrim tersebut sama sama berpotensi untuk digugat oleh umat Islam sendiri dengan alasan yang masuk akal.

Lalu pertanyaannya ialah apakah kalau Islam moderat tidak mendapatkan kritik atau pertentangan dari umatnya sendiri, tentu  sejauh manusia masih berpikir dan masih  mempunyai daya nalar, pasti akan terjadi kritik dan pertentangan serta dialog  pandangan, akan tetapi tingkat penolakananya tidak setajam kepada lawan ekstrimnya. Islam moderat tetap masih memegang  pokok ajaran yang substansial, meskipun tidak larut dalam arti harfiyah teks, melainkan  juga sekaligus mampu untuk menerjemahkannya ke dalam pelaksanaan yang sesuai dengan kondisi zaman dan tempat. Sekaligus juga tidak akan terserabut dari akar keislaman itu sendiri sehingga tidak akan pernah liar dan keluar dari pokok ajaran Islam.

Dalam kajian ilmu ushul fiqh, para ulama zaman dahulu telah menyusun banyak kaidah yang masih tetap relevan sampai saat ini, yang salah satunya ialah bahwa  perubahan hokum itu sangat mungkin disebabkan perubahan zaman dan juga tempat. Dengan demikian hokum Islam itu tidak statis, melainkan dapat disesuaikan dengan kondisi zaman dan tempatnya. Ada juga kaidah mengenai segala macam kesusahan itu harus dihilangkan, namun semua itu belum banyak dimanfaatkan oleh kalangan umat, terutama mereka yang kemudian lebih cenderung kepada penfgguaan teks semata.

Sedangkan untuk ekstrim yang  cenderung  menjadi sangat bebas tidak terkendali atau lebih dikenal dengan aliran liberal, tentu akan sangat membahayakan kebaradaan  Islam itu sendiri, karena perubahan yang tanpa didasarkan kepada  analisis mendalam melalui penciptaan  teori yang teruji, tentu akan  memperlemah eksistensi Islam itu sendiri. Banyak pendangan liberal yang kemudian ditentang oleh mayoritas umat muslim, karena  dianggap sudah keluar dari Islam. Ambil contoh mengenai hubungan antar menusia yang secara prinsip sudah diatur oleh syariat yang kemudian atas nama HAM lalu diubah sedemikian rupa hingga terlepas dari ajaran esensi Islam.

Pandangan yang memperbolehkan perkawinan sejenis dengan mengatas namakan keadilan dan HAM tentu tidak akan pernah diterima oleh orang beriman, karena itu sudah menyimpang dari kodrat dan sekaligus juga sudah pernah ada sebuah komunitas yang mendapatkan  adzab dari Tuhan karena persoalan tersebut.

Lagi lagi sebuah pendangan yang  moderat akan dapat diterima oleh banyak kalangan, karena tidak terlalu ekstrim mendasarkan diri kepada lahir teks dan juga tidak terlalu bebas dalam menafsirkan ajaran agama, melainkan  tetap ada dalam koridor ajaran agama, meskipun juga tetap mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.