MBOK JANGAN MUDAH MENILAI ORANG LAIN

Saat ini moralitas sebagian diantara umat muslim sudah begitu rendah, salah satu tandanya ialah mereka gampang merendahkan pihak lain tanpa mengetahui jerohannya yang sesungguhnya, Cuma hanya ingin  menjadis esuatu dengan cara merendahkan pihak lain. Sesungguhnya cara demikian sudah layu dan  tidak laku di masa sekarang, namun toh masih dilakukan juga. Kita sangat yakin bahwa para pengambil keputusan akhir pastilah akan mempertimbangkan untuk tidak memilih mereka yang bermoral demikian.

Menonjolkan diri seolah paling hebat adalah cara kuno yang sudah tidak pada zamannya, apalagi dengan menyudutkan pihak lain yang sesungguhnya telah ebrprestasi banyak. Dengan hanya mengambil sample  sesuatu yang kurang bagus di ssektor tertentu lalu disimpulkan bahwa pimpinannya pastilah juga tidak becus, adalah kesimpulan yang sembrono dan saams ekali tidak mencerminkan sebuah pemikiran yang matang. Kalu ambisi untuk menduduki sebuah jabatan tertentu lalu dilakukan  melalui cara membulli puihak lain yang dianggap saingannya, tentu ini tidak sehat.

Seburuk apapun  seseorang yang telah mampu membangun sebuah institusi menjadi semakin baik dan masih terdapat bebrapa sector yang memang masioh belum baik, bukan berarti sleuruh kinerjanya menjadi buruk. Memang tidak ada kerja seseorang yang sempurna, namun bukan berarti  tidak ada prestasi sama sekali setelah berjalan selama sekian tahun bekerja. Itulah kenyataan yang harus diapresiasi, bukannya dibulli. Disamping kalau menurut akhlak ajaran rasululllah saw sendiri tentu tidak etis dan bahkan dosa bagi siapapun yang memburuk burukkan pihak lain, padahal dia sendiri orang beriman, apalagi jika yang diburuk burukkan tersbeut adalah seorang yang baik.

Ambisi dunia terkadang memang membuat lupa kepada seseorang, sehingga apa yang sehqarusnya dilakukan malah ditinggalkan dan apa yang seharusnya ditinggalkan malah dijalankan. UItualh gambaran sebagaian diantara kita saat ini yang sedang berambisi untuk menduduki  sebuah kedudukan tertentu. Masyarakat tyentu juga akan dapat menilai seberapa kualitas seseorang yang berakhlak dmeikian, lalu  akan seperti apa wajagh sebuah isntitusi yang nantinya dip[impina oleh orang yang berwatak demikian.

Bahkan menilai dan menyampaikan  keburukan orang lain, meskipun itu benar adanya tetap tidak diperkenankan, sebegiaman himbauan raulullah saw untuk menutup aib orang lain agar kita nanti ditutup aibkita di akhirat oleh Allah swt. Lalu kenapa sampai berani orang yang mengaku beriman dan sebagai seorang muslim yang baik, lalu membuak keburukan pihak lain, padahal dia sendiri tidak tahu apa kebuttrukan yang dituduhkan tersbeut benar adanya, sementara pihak lainnya justru mengakui prestasinya.

Inilah adalah kenyataan di zaman akhir  bahwa ada sebagian umat yang mengaku sebagai umat terbaik, tetapi justru malah menjelkkan pihak laim, yang kemudian  dia sendiri terbukti tidak baik. Ini sungguh memperihatinkan dan  seharusnya tidak boleh terjadi, apalagi dilakukan oleh tokoh yang bahkan mengaku sebagai seorang yang baik. Janganlah suka membuka  atau membuat keburukan bagi pihak lain, karena pada saatnya pasti akan terbaalas oleh pihak lainnya lagi.

Bahkan kalau kita mengacu kep[ada sebuah pepatah kuno yang sampai saat ini masih relevan, memang ada benarnya juga bahwa masyarakat saat ini, tidak pandang dia itu seorang muslim yang taat maupun yang awam bahwa  gajah di pelupuk mata tidak kelihatan tetapi kuman di seberang lautan tampak jelas, yang berarti bahwa kesalahan dan kekurangan pihak lain yang selalu dilihatnya dengan jelas, tetapi kekurangan dan kesalahannya sendiri malah tidak dilihatnya.

Rupanya memang seepeti itulah manusia yang tidak menjadikan Allah swt sebagai fokusnya. Ia selalu akan melihat kekurangan pihak lain dan kemudian mengekspose nya sedemikian rupa, apalagi kalau kemudian ada tujuan lainnya yakni agar pihak lain tersebut jatuh dan  dirinyalah yang akan naik, pati akan semakin gencar dia melontarkan kesalahan dan keburukan piak lain tersbeut. Padahal orang lain tentu akan mel;ihat bahwa dirinya itu sesungguhnya penuh dnegan kekurangan dan kelemahan. Tentu hal tesebut kalau dipikir pasti akan merugikan diri sendiri yang dip[ikirnya akan menguntungkannya.

Banyak orang yang melakukan  hal hal buruk seprti itu dengannharapan dirinya akan semakin naik dan pihak lain akan semakin terpuruk, tetapi ternyata masyarakat menilianya berbeda sehingga orang yang berkeinginan untuk menjatuhkan pihak lain tersbeut malahan terjatuh sendiri. Ijilah yang terkadang tidak dipahami sehingga  ada orang yang teruis terusan membuli pihak lain dengan harapan akan menaikkan dirinya, tetapi kenyataannya malah ebrbalik dan merugikan diri sendiri.

Karena itu jika kita memang orang baik, sebaiknya kita tidak usaha mengurusi urusan pihak lain, bahkan kalaupun piha lain tersebut memang benar benar buruk. Biarlah orang lain yang akan menilai diri kita. Kalaupun piha lain menilai diri kita buruk sekalipun, kita harus tetap percaya bahwa jika kita memang berniat tulus untuk berbuat  yang terbaik, pastilah ada pihak lain lagi yang tetap menilai obyektif kepada kita dan tentu yang harus kita tetap pegang teguh ialah bahwa Allah swt pasti akan menilai apapun yang baik dengan nilai yang baik.

Apalagi kalau kita sudah mampu untuk berbuat dnegan tulus dan tidak menginginkan peilaian orang lain, pastilah Allah akan semakin meningkatkan derajat kita ke tempat yang lebih tinggi. Biarlah Allah yang akan menilai dan menentukan  posisi kita, karena semuanya akan terjadi atas kehenda Nya.  Semua orang tentu berhak untuk menilai siapapun, asalkan tidak diekspose kepada pihak lain. Cukuplah  dinilai dalam dirinya sendiri untuk menentukan sikap kta masing masing dalam kaitannya dengan pihak lain tersebut.

Dalam bahasa yang lebih akrab dalam telinga kita ialah  jauhkanlah sikap buruk sangka atau suudzdzan kepada p[ihak lain, sebaliknya kita hartus selalu mengembangkan sikap baik sangka atau husnudzdzan kita. Dengan sikap baik snagka yang kita selalu kemukakan, kita akan memperoleh kebaikan dan banyak teman. Silaturahim kita juga akan semakin emmbaik serta  terjauhkan dari hal hal yang akan emmperberat p[osisi kita sendiri.

Jika kita mempercayai bahwa di dunia ini segalanya akan berbal;ik dan ada siklus dalam semua hal, termasuk jika kita sukan emnggunjing pihak lain atau memhuka aib orang lain, pasti pada saat tertentu kita juga akan mendapatkanperlakuan yang sama dari orang lain. Artinya jika kita tidak ingin  dibuka aib kita sebaiknya kita tidak usaha membuka aib orang lain. Saiapapaun yang melakukan sebuah perbuatan terhadap pihak lain, pasti dia jk juga akan menainya pada saat yang lain.

Terhadap sesuatu yang baik juga berlaku hokum yang sama, yakni jika kita berbuat  baik kepada pihak lain ,eskipun tulus karena Allah swt, pastyi suatau ketika kita akan mendapatkan perlakuan baik juga dari pihak lain. Nah, kalau kita meyakini yang dmeikia, maka  gunakanlah akal kita agar kita selalu berbuat yang terbaik untuk semua orang, bukan sebaliknya berbuat yang buruk untuk orang lain. Semoga kita akan selalu dijaga  oleh Allah swt  dalam setiap langkah kita, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.