WUKUF DI ARAFAH

Wukuf di Arafah menjadi satu satunya rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan dengqn alasan apapun, sehingga kalau ada salah seorang calon haji tidak melakukan wukuf di Arafah pada saatnya, maka  hajinya tidak sah. Bahkan karena  hal tersebut orang yang sedang sakit dan dirawat inap di rumah sakit pun juga harus ikut wukuf di Arafah, dengan  cara disafarikan secara bersama dengan menggunakan ambunace. Makanya kemudian ada istilah haji itu ialah Arafah karena tanpa wukuf pasti tidak akan pernh ada haji.

Arti dari wukuf tersebut ialah berhenti sementara Arafah itu merupakan nama tempat dimana jamaah haji berhenti di sana. Pada saat wukuf itulah sangat dianjurkan kepada para jamah haji untuk memperbanyak doa dan membaca bacaan baik, seprti tasbih, tahmid, tahlil dan  sejenisnya. Lalu setelah masuk waktu wukuf mereka smeua  shalat berjamah dan mendenharkan khutbah wukuf. Jika orang kemudian dalam menyelamai apa yang seharusnya dilakukan di Arafah terkadang sampai harus mengeluarkan air mata karena dosa dosa yang sudh pernah dilakukannya.

Namun dalam kenyataannya kita juga masih melihat banyak jamaah haji yang dengan tenangnya menjalankan wukuf tanpa beban, bahkan sejak dating ke Arafah lalu bercerita dan ngobrol dengan kawannya hingga larut malam. Paginya lalu mereka tidur atau berjalan jalan untuk menegtahui kondisi jamaah dari berbagai penjuru dunia. Nah, pada saat waktu wukuf tiba yakni setelah dhuhur, maka ada sebagiaan diantara mereka yang masih mengantuk sehingga tidak konsentrasi sama sekali dengan apa yang mestinya dilakukan.

Tentu pemandangan tersebut terasa aneh karena haji yang begitu didambakan bertahun tahun, namun setelah mendapat kesempatan, justru malah disia siakan tanpa memaknainya dengan melaksanakan banyak amalan baik di dalamnya. Memang untuk berhaji itu cukuplah dengan amalah badan, yakni semua dijalankan dnegan amalan perbuatan, termasuk wukuf, karena yang terpenting dari wukuf ialah berada di Arafah pada saat waktunya wukuf, meskiun tanpa melakukan apapun, termasuk kalau mereka hanya tidur saja.

Namun tentu akan rugi besar jika emmbiarkan wukuf berlalu begitu saja tanpa melakukan amalan baik yang dapat menambah pahala dan juga kesadaran diri untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Di padang Arafah di aman seluruh umat muslim sedunia berkumpul menjadi satu tanpa perbedaan, dan semua mengenakan pakaian ihram yang serba putih, tentu ini bermakna bahwa semua manusia itu sesungguhnya di hadapan Allah swt  berderajat sama, dan hanya tingkat ketaqwaannya sajalah yang membedakan.

Hadis Nabi Muhammad saw juga sudah menyampaikan kepada kita bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan melihat atau memandang kita dari aspek jasad, ataupun pakaian ataupun hal  yang lahir dari kiota, melainkan Dia akan melihat hati dan perbuatan kita. Karena itulah pada saat wukuf di Arafah adalah momentum yang sangat tepat untuk mengoreksi diri tentang perbuatan kita sejauh ini. Mungkin masih ada kesombongan di dalam hati kita, masih ada penyakit riya di hati kta, mungkin  masih ada dendam dalam lubuk hati kita danlainnya.

Dengan menyelami semua perbuatan kita tempo dulu, haraopannya akan muncul komitmen diri untuk memperbaiki dan  taubat yang sesungguhnya. Dengna dmeikian nantinya setelah pulang ke tanah air akan dapat emmperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Dan itulah yang kemudian dinamakan dnegan haji mabrur, yakni  mengubah jalan hidup menjadi lebih baiik setelah pulang dari melaksanakan ibadah haji.

Lantas bagaimana jika di Arafah kita hanya tidur dan ngobrol saja, apakah aka nada perubahan yang dibuat setelah pulang haji? Tentu tidak akan terjadi, bahkan yang ada adalah rasa kesombongan diri karena merasa sudah pegi haji dan harus dihormati dan lainnya. Sungguh  rugi bagi mereka yang tidak memanfaatkan momentum wukuf tersebut untuk  mengevaluasi diri dan kemudian berjanji untuk memperbaiki seluruh amalan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesame.

Kalau pada zaman Rasulullah saw dahulu pada saat wukuf pasti perihatin dan pasti akan merasakan betapa menderitanya manusia dan hanya pertolongan Allah sajal;ah yang akan mampu menjadikan orang hidup enak dan nyaman. Dui tengah opadang pasir yang tandus dan kering serta panas, itulah mereka harus berhenti dan memuji serta beribadah kepada Allah swt. Namun saat ini berwukuf di Arafah sudah jauh berbeda karena tidak lagi kepanasan, melainkan berada di sebuah tenda yang berAC sehingga menjadi nyaman.

Dengan demikian sesungguhnya menjalankan haji pada saat ini jauh lebih nyaman ketimbang pada zaman Rasulullah saw, terutama pada saat wukuf, yang tidak lagi harus menderita kepanasan dan  payah karena jika malam harus menanggung dinginnya angina malam dan saat siang harus menanggung panasnya matahari. Namun dmeikian mereka justru dapat merasakan betapa mereka mampu menghayati makna hidup, yang nanti pada hari kiamat juga mereka akan dikumpulkan menjadi satu di padang mahsyar dengan matahari di dekatkan  kepada kepala mereka.

Akhirnya mereka masih dapat menikmati panasnya matahari, karena sepanas apapun  matahari unia, tentu akan jauh lebih nyaman ketimbang panasnya di padang mahsyar nanti. Dengan begitu yang akan muncul ialah rasa syukur kepada sang Pencipta dan lalu mau menjalankan semua perintah Nya karena hanya dngan cara itulah mereka nanti akan mendapatkan perlindungan dari Allah swt sehingga tidak akan mengalami kesengsaraan dan kepayahan yang dahsyat, bahkan mereka akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.

Pelayanan saat wukuf pun saat ini sudah semakin nyaman karena persoalan makanan dan minuman sudah disediakan, demikian juga tempat untuk bunag air juga sudah disediakan meskipun  hanya sementara dan bahkan saat ini sudah permanen. Namun yang harus tetap diingat oleh jamaah haji ialah bahwa semua itu jangan smapai melalaikan kita untuk tidak focus kepada Allah swt dan justru kita malah hanya bepikiran tentang duniawi.

Pada saat seluruh jamaah haji menjalankan wukuf di Arafah yang kepatyahan, menurut verna lama, lalu Nabi Muhammad saw p[un  menganjurkan umat muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji untuk berpuasa  sebagai bentuk solidaritas kepada sesame mulim yang sedang berada di Arafah. Lalu pertanyaannya ialah jika saat ini wukuf di Arafah tidak berat dan tidak payah serta tidak panas, masih dianjurkankah berpuasa pada hari Arafah. Ternyata sebagian besar ulama masih tetap menganjurkan berpuasa Arafah meskipun orang yang wukuf sudah nyaman di dalam tenda.

Pendeknya  berwukuf di Arafah bagi para jamaah haji ialah merupakan rukun yang harus dijalani tanopa alasan apapun, dan momentum tersbeut seharusnya dimanfaatkan oleh jamaah untuk mengevaluasi diri serta memperbanyak amalan serta berisgtighfar untuk memohon ampunan dari Allah swt. Konon ceritanya saat wukuf itu merupakan waktu yang manjur untuk memohon  kepada Allah swt,.utnuk itu sangat rugilah  orang yang tidak memanfaatkan waukuf untuk sesuatu yang baik bagi dirinya dan pihak lain.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.