JANGAN SAMAKAN ALLAH DENGAN KITA

Memang saat ini telah muncul sebuah “keberanian” atau kebodohan yang seolah mempersamakan Tuhan dengan manusia, dalam beberapa aspeknya. Padahal kita tahu bahwa  tidak ada yang serupa dengan Nya, “laisa kamislihi syaiun”. Kalaupun kita memiliki sifat yang sama dengan sifat Tuhan, namun tetaplah tidak sama atau tidak sebanding, karena sifat Allah itu sempurna sedangkan sifat manusia itu  penuh dengan kekurangan dan ketidak sempurnaan. Sebagai contoh kita mungkin mempunyai sifat adil, tetapi keadilan yang kita miliki hanyalah nisbi dan tidak sempurna, sehingga ketika kita mengadili, mash banyak pihak yang tidak akan terpuaskan.

Kita mungkin juga mempunyai sifat kasih dan sayang namun sekali lagi sifat kasih dan saying kita etrsebut sangat jauh  dari kasih dan sayang Tuhan, karena kasih dan sayang kita sangat terbatas, sementara  kasih dan sayang Nya Allah swt tidak terbatas. Demikian juga mungkin kita mempunyai sifat bijaksana, tetapi sekali lagi kebijaksanaan kita itu hanya sedikit saja, ataupun kita mempunyai sifat sabar, tetapi juga kesabaran yang kita miliki hanyalah setitik saja  dibandingkan dengan kesabaran Allah swt.

Allah swt Maha  Kuasa atas segala sesuatu dan Allah jugalah yang menciptakan langit dan umi seisinya tanpa bantuan siapapun. Jika ini kita renungkan dan yakini maka tidak akan muncul sedikitpun  penyamaan kita kepada Tuhan, bahkan kita juga yang menciptaklan itu Allah swt, dan segala hal yang menyertai kita itu smeua ditentukan olehNya. Nasib kita selamat atau celaka juga atas perkenan Allah swt, bukan hanya  semata karena kita sendiri. Demikian juga keberhasilan yang kita raih itu semua atas kehendak Allah swt.

Dengan menyadari bahwa semua itu atas kehendak Allah swt, maka ketika kita sedikit saja menganggap apa yang kita raih adalah hanya semata prestasi kita sendiri, maka itu sudah termasuk kesombongan yang snagat besar, bahkan  berdosa  jika kita sudah menafikan kebaradaan Allah dalam setiap apa yang kita alami. Bagi mereka yang beriman dengan panuh kesadaran, biasanya akan selalu menyandarkan apapun kepada Allah, karena sebagai hamba kita ini hanya dapat berikhtiyar dan memohon kepadaNya  dan tidak dapat menentukan nasib kita sendiri.

Siapapun yang merendahkan sifat Allah kepada sifat manusia biasa, maka orang tersebut sudah keluar dari rel keimanan dan mestinya harus diberikan  sanksi. Kalau di dunia ini belum ada sanksi yang diberikan kepadanya, maka pasti di akhirat nanti Allah akan memberikan sanksi yang sangat berat kepadanya. Mungkin orang yang merendahkan sifat Tuhan tersebut saat ini masih apat tertawa karena tidak ada sanksi apapun yang didapatkannya, tetapi kita harus ingat bahwa  tidak ada satu apapun yang dialpakan olehNya. Semua perbuatan, sekecil apapun, pasti akan mendapatkan balasannya.

Terkadang terbersit dalam pikiran dan hati ini bahwa Allah akan memberikan sanksi ekpada pihak yang mempersamakan Nya dengan makhluk sekaligus saat di dunia ini agar banyak orang yang berhenti untuk melakuakn hal yang sama, tetapi ternyata Tuhan masih membiarkan mereka untuk masih  melakukan hal hal terburuk tersebut dan seolah enak saja tanpa beban. Mengapa  nama Tuhan dibuat mainan seperti lainnya saja, yang seharusnya disucikan dari apapun yang ada di dunia ini karena  Allah itu memang Maha suci dan Maha segalanya.

Kita sangat yakin kalau hal tersebut dibiarkan, lama lama mereka aakan semakin kurang ajar dalam emmpersamakan Tuhan dengan makhluk Nya, karena seolah tidak ada bebas sedikitpun, bahkan ada kemungkinan nantinya mereka akan semakin berani untuk mengatakan sesuatu terhadap Tuhan, dan jangan jangan akan seperti umat terdahulu yang akhirnya mendapatkan ganjaran dariNya berupa musibah yang sangat mengerikan. Namun sebagai sesama umat manusia kita mendoakan kepada mereka  agar segera menyadari kekeliruannya dan bertobat kepada Allah dengan memohon ampunan sebelum musibah tersbeut menimpa mereka.

Kita memang tidak tahu  kenapa Tuhan emmbiarkan saja mereka tetap dalam pernyataan yang keliu tersebut, namun kita hanya berbaik sangka saja kepada Allah bahwa itu semua ada maksud tertentu yang kita memang belum mengetahuinya. Semoga saja Allah memberikan pencerahan kepada meeka  sehingga mereka menyadari kekeliruannya dan kembali kepada jalan yang benar. Itulah yang dapat kita harapkan karena sebagai makhluk Nya yang lemah kita hanya dapat meminta yang terbaik untuk semua sahabat kita.

Memang sebaiknya kita tidak mnyentuh esensi dari Allah swt, karena kemaha sucianNya begitu sakral dan kita memang tidak dalam kapasitas untuk membahasnya apalagi kalau kemudian berani untuk menyerupakan dnegan makhluk. Jika kita mau membaca cerita dan sejarah umat terdahulu, tentu kita akan mampu mendaptkan pelajaran yang sangat ebrharga untuk kehidupan kita. Betapa banyak umat yang kuat, lalu karena kesalahan mereka terhadap Tuhan, lalu dengan snagat mudah merka dihancur leburkan oleh Allah swt.

Kurang hebatnya apa Firaun yang mengaku sebagai tuhan dan mampu menguasasi seluruh kawasan serta dapat melakukan apapun yang diinginkannya, namun karean kesombongannya terhadap Tuhan, maka  akhirnya dia harus mati didasar lautan dan jasadnya hingga kini dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat dunia sebagai peringatan kepada umat. Namun masih banyak umat yang tidak bergeming dari kekufurannya padahal sejarah sudah begitu jelas dan memberikan ibarat yang begitu tepat. Ini smeua karena persoalan hidayah. Jika Tuhan belum memberikan hidayah kepada seseorang, maka orang tersebut tidak akan mau mengakui Allah sebagai Tuhan yang hak.

Saat ini dengan dalih kekuatan pemikiran, lalu muncul pikiran yang keblabasan untuk menyamakan Allah dengan makhluk Nya, padahal dalil sudah nyata bahwa tidak ada satupun yang menyerupai Nya, apalagi membandingkan antara Tuhan dengan makhluknya. Kekuasaan yang mutlak bagi Nya tentu sudah membedakan dengan smeua makhluk, karena  seluruh makhluk pasti membutuhkan tenaga baru dan makan serta minum, beristirahat dan lainnya, namun Tuhan sama sekali tidak pernah tidur dan makan ataupun minum.

Menyamakan Tuhan dengan makhluk Nya tentu mengecilkan keberadaan Allah swt sendiri dan itu berarti menetang dengan terang terangan, walaupun dengan dalih mengembangkan pikiran dan kreatifitas. Pengembangan p[ikiran dan kreastifitas ytentu harus  didasarkan kepada hal yang tidak menyentuh hakekat Allah swt yang suci dan tidak tersentuh. Sekali kita berani untuk menyamakan Tuhan dnegan yang lainnya maka itu sudah memungkiri kebaradaan kita sebagai umat yang beriman, dan kepercayaan kita pihak tersebut harus diberikan sanksi.

Hal terpenting bagi kita saat ini ialah bagaimana kita mampu mengendalikan diri kita untuk tidak melakukan hal hal aneh yang justru akan merugikan diri kita sendiri, terutama  yang berkaitan dnegan psosisi dan keberadaan  dzat Allah swt,. Kita harus secara terus emnerus memohon kepada Allah agar dihindarkan dari segala  hal yang dapat merusak keimanan kita dan sekaligus juga memohon  agar kita selalu dijaga untuk terus berada dalam koridor keimanan yang benar, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.