ZIARAH KE MAKAM RASUL

Semua orang yang menjalankan ibadah haji, akan menziarahi makam Nabi Muhammad saw dan kedua sahabat beliau, yakni Abu Bakr dan Umar bin Khattab, disamping ziarah ke beberapa tempat yang bersejarah bagi perkembangan islam, khususnya di tanah suci, baik di sekitar makkah maupun Madinah. Memang secara manasik tidak ada kewajiban para jamaah haji untuk mengunjungi Madinah dan ebrziarah ke makam Rasul, namun rasanya tidak afdlol dan tidak marem jika  sudah sampai tanah suci tetapi tidak mengunjungi makam Rasul.

Orang awam bahkan memahami bahwa salah satu kewajiban pergi haji ialah emngunjungi Madinah dan shalat di masjid Nabawi serta ziarah ke makam Rasul. Karena itulah seluruh Negara yang masyarakatnya menjalankan ibadah haji, dapat dipastikan juga merencanakan jamaahnya untuk mengunjungi Madinah sebagai kota suci kedua setelah Makkah. Jamaah sendiri kalau tidak dilengkapi dnegan ziarahnke Madinah tentu juga tidak akan puas dan bahkan mungkin akan memprotes karena dianggap tidak sempurna hajinya.

Memang berbeda kondisi di Makkah dan Medinah karena  sejak awl mula memang penduduknya berbeda dalam sikap dan kebiasaannya. Contoh yang paling mudah ialah kalau di masjid haram masih ada orang yang meminta minta di dalam masjid dan jamaah antara laki laki dan perempuan juiga masih campur, bahkan ada jamaah laki laki yang menjalankan shalat di belakang perempuan, namun kalau di madinah tidak pernah ada, karena seluruh jamaah perempuan  akan masuk ke masjid yang sudah diediakan tempat khusus bagi kaum perempuan.

Perlu diketahui juga bahwa di masjid Nabawi kita tidak pernah melihat ada pengemis yang meminta minta di dalam masjid, karena ketertibannya sudah dijaga sedemikian rupa, dan juga kalau kita di masjid haram masih melihat ada orang yang di dalam masjid dengan memakai alas kaki, namun kalau di madinah sepetinya tidak ada yang berani memakai alas kaki.  Semua itu tentu juga akan mempengaruhi jamaah haji yang mendatanginya dan kesannya juga apsti akan berbeda.

Bahkan masyarakat dan jamaah haji asal Indonesia meyakini bahwa  ketika di Madinah sangat dianjurkan untuk menjalankan shalat berjamaah di masjid Nabawi sebanyak empat puluh waktu tanpa terputus,  atau lebih dikenal dengan shalat Arbain, karena akan mendapatkan jaminan masuk surge. Keyakinan tersebut tentu semakin membuat masyarakat kita antusias untuk menjalankan jamaah di masjid tinggalan nabi Muhammad saw tersebut. Karena itu seluruh jamaah haji asal Indonesia kemudian diziarahkan di Madinah selama 8 hari agar mereka dapat menjalankan jamaah di masjid  sebanyak 40 waktu.

Ada yang unik juga yakni pada saat jamaah haji ingin  menjalankan shalat di raudlah, yakni sebuah tempat yang saat ini sudah ditandai yakni antara rumah Nabi dneganmimbar shalat nabi sata itu. Bahkan saat ini untuk memasukinya saja sudah harus berebut  dan berdesak desakan sedemikian rupa, dan setelah masuk pun masih harus mencari tempat 6ang memungkinkan untuk menjalankan shalat. Anehnya ada sebagian diantara mereka yang ketika sudah berada di Raudlah lalu tidak mau keluar sehingga banyak jamaah lainnya yang tidak dapat memasukinya.

Rupanya  jamaah haji tidak ingat lagi bahwa sesungguhnya  memberikan kesempatan kepada p[ihak lain untuk dapat merasakan  di dalam raudlah adalah juga merupakan kebajikan yang tidak pentingnya dnegan menjalankan shalat di dalamnya. Kebanyakan orang lalu memakai aji mumpung, yakni mumpung sudah di dalam lalu tidak ingat lagi yang mengantri di luar, lalu berlama lama di dalamnya dan ketika dip[erintahkan untuk elluar oleh penjaga sekalipun juga akan tetap tidak mau keluar.

Tentu kasusnya adalah sama denagn ketika di masjid haram Makkah saat ingin mencium hajar Aswad, padahal untuk emncium hajar aswad tersbeut hanya bersifat sunnah dan tidka wajib, namun rupanya ada yang emmaksakan kehendaknya sehingga harus berdesak desakan dan bahkan harus menyikut pihak lain. Inilah yang seharusnya diberikan penjelasan dan pecerahan kep[ada p[ara jamaah sehingga mereka akan tetap mengingat kebaikan yang seharusnya didahulukan.

Menjalankan ibadah haji tanpa harus  menyentuh  atau mencium hajar aswad itu tidak menjadi masalah, karena itu bukan sebuah kewajiban, bahkan mungkin akan beralih makruh hukumnya ketika  sulit untuk dijangkau dan ketika memaksakannya justru akan mengalami kesakitan atau bahklan menyakitkan pihak lain. Ingatlah apa yang pernah dikatakan oleh shabat Umar, yakni “wahai batu, jika aku tidak melihat sendiri kekasihku Muhammad saw menciummu, maka tidak sudi kiranya akan menciummu.”

Kembali ke kota Madinah, bahwa keberadaan jamaah haji di kota tersebut memang bukan dalam rangkaian ibadah haji, tetapi lebih tepat ialah sebagai tambahan untuk kelengkapan ibadah. Karena itu pada saat di madinah, jamaah akan banyak diajak  untuk mengunjungi tempat tempat bersejarah, semacam masjid Quba’, masjid pertama kali yang didirikan oleh nabi saat bneliau baru sampai di kota madinah, lalu juga masjid qiblatain, yakni amsjid dimana saat itu rasul menjalankan shalat dnegan menghadap dua Qiblat, yakni awalnya emnghadap ke baitul maqdis, lalu ada perintah untuk menghadap ke baitullah.

Biasanya juga jamaah diajak untuk mengunjungi pasar kurma untuk sekedar membeli oleh oleh dan beberapa buah khas Arab yang ada di sana. Lalu biasanya juga diajak ziarah ke makam paman Nabi hamzah dan juga ke Uhud dan  badar serta tempat lainnya yang memungkinkan. Kita tahu bahwa kegiatan jamaah di Madinah praktis hanya untuk berjamaah shalat maktubah semata, sehingga banyak waktu yang luang untuk dijadikan sebagai  kesempatan mengunjungi beberapa tempat yang sangat mengesankan.

Bagi jamaah yang sudah mengetahui tempat tertentu yang ingin dikunjungi dan tidak memerlukan guide, maka  dia dapat nberangkat sendiri denagn menyewa kendaraan, atau kalau hanya sekedar di sekitar masjid maka dia dapat dengan sendirinya mengunjungi sepuasnya. Bahkan jika ada yang kepinginnya hanya berada di dalam masjid dan mencari waktu yang sekitanya jamaah lain tidak mengunjungi masjid sehingga dia dapat berada di raudlah dengan nyaman, maka dia juga dpat melakukannya dan begitu seterusnya.

Di Madinah juga ada universitas besar yang bernama universitas madinah yang dapat dikunjungi dan  mungkin juga dapat melihat lihat perputakaannya jika mendapatkan ijin dari pihak universitas. Nah, bagi jamaah yang bersal dari kalangan akademisi tentu akan lebih menyukai berkunjung ke tempat tersebut ketimbang ke tempat lainnya yang lebih mengandalkan belanja  atau sekedar melihat lihat.  Saat ini  di madinah juga sudah banyak mall dengan desainnyang sangat menarik bahkan ada taman di dalamnya sheingga sangat cocok untuk sekedar nongkrong.

Pendeknya berkunjung ke Madinah itu tujuan utamanya ialah dapat ebrziarah ke makam rasul dan sekaligus kedua sahabat dekatnya yang sekaligus juga menjadi mertua beliau, lalu dapat masuk ke dalam Raudlah yang dikatakan sebagai tempat yang mustajab dan  dapat menjalankan shalat berjamaah di dalam masjid Nabawi yang pahalanya juga sangat besar ketimbang masjid lainnya selain masjid Haram di Makkah al Mukarramah.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.