IBADAH UMRAH

Tata cara dan manasik untuk ibadah umrah dan haji itu sama persis, Cuma bedanya kalau umrah tidak ada wukuf dan tidak ada mabit di Mina serta lempar jamarat. Umrah juga boleh dijalankan kapan saja tidak dibatasi waktunya, sementara kalau haji waktunya sudah ditentukan, sehingga kalau ingin umrah tidak harus mengantri hingga puluhan tahun. Artinya jika kita mampunyai cukup ongkos untuk ke tanah suci, maka kita dapat menjalankan ibadah umrah.  Umrah ini  juga sering disebut sebagai haji kecil, dan banyak orang yang sudah mantap kalau sudaha umrah meskipun belum pernah haji.

Saat ini umrah sepeertinya sudah menjadi persoalan bisnis karena abnyak orang yang berbisnis  pelksanaan umrah tersebut. Bahkan mungkin  keuntungannya akan jauh lebih besar ketimbang menyelenggarakan haji, sebab kalau haji hanya setahun sekali, sdangkan kalau umrah dapat berkali kali dalam setahun bahkan ada yang memberangkatkan jamaah umrah setiap minggu. Ini sekaligus juga menguntungkan kepada jamaah sendiri karena tidak perlu rep[ot mencari biro yang akan memberangkatkannya, melaionkan malah didatangi ke rumah dan dijemput saat akan berangkat.

Hanya saja karena  keserakahan manusia, ada saja  penyelenggara umrah yang nakal dana lebih mementingkan bisnisnya ketimbanga memberikan pelayanan kepada jamaah, akhirnya ada yang harus emnunggu bertahun untuk berangkat dna akhirnya juga tiodak jadi berangkat, alias dibohongi atau ditipu. Beberapa waktu yang lalu banyak calon jamaah umrah yang ketipu karena hanya memeprcayai biro travel saja tanp[a mengecek keberadaannya. Namun syukurlajh saat ini mereka yang nakal sudah mendapatkan ganjarannya.

Saat ini ibadah umrah sudah dapat dikombinasikan dnegan wisata, karena itu tidak heran ketika ada tawaran umrah dan wisata ke beberapa negara di Timur Tengah, seperti  Mesir, Turki, bahkan negara palestina dan lainnya. Sudah barang tentu untuk tujuan tersebut tidak ada larangan, asalkan dapat dijalaninya dengan baik dan nyaman. Karena memang tidak ada hubungan  yang khusus antara pelaksanaan umrah dnegan lawatan ke beberapa temp[at wisata, dan waktunya pun juga berbeda, biasanya setelah selesai umrah baru ke tempat wisata tersebut.

Saat ini  pelaksanaan ibadah umrah semakin ramai dan bahkan setiap hari ramainya hampir seperti saat musim haji. Tentu ini di satu sisi menggembirakan kita selaku umat muslim tetapi di sisi lainnya juga mengkhawatirkan, terutama mereka yang niatnya salah.  Dapat dikalatakan bahwa ramainya orang menjalankan ibadah umrah tersebut seiring dengan kesadaran umat dalam menjalankan ibadah ekpaad Allah swt dan kadar keagamannya juga  mulai membaik. Namun itu  tentu hanya secara teori saja karena pada kenyataannya mungkin ada juga yang pergi umrah bukan semata beribadah,. Melainkan justru ingin menunjukkan   sesuatu kepada umat lainnya, alias pamer atau bahkan sombong.

Kita ebrharap semoga  hal tersebut tidak benar, karena kalau  ibadah umrah ekmduian diniati pamer tentu itu merupakan eprbuatan yaang sangat tidak terpuji dan tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ibadah umrah memang persis sebegaimana ibadah haji, yakni dimulai dnegan memakai kain ihram dari miqat, lalu setelah sampai di masjidil haram kemudian melakukan thawaf memutaar ka’bah tujuh putaran, lalu diteruskan dnegan sa’i dari shafa ke Marwa tujuh kali dan dimulai dari Shafa dan berakhir dan Marwa, stelah itu baru tahallul atau memotong rambut sebagai penanda bahwa yang bersanghkuitan sudah selesai melaksanakan umrah dan boleh memakai pakaian biasa.

Biasanya mereka yang berumrah sudah merasa lega setelah menyelesaikan ibadah umrah tersebut, lalu mereka dpaat ebrsantai dan beblanja serta melakukan aktifitas lainnya. Bilamana mau menjalankan umrah kembali, mereka tinggal pergi ke beberapa tempat miqat untuk memakai ihram lalu kembali ke masjidil haram untuk menjalankan perbuatan umrah hingga selesai sebagaimana  yang sudah dilakukannya pada tahap pertama. Untuk umrah kedua dan seteusnya tersbeut biasanya terserah kepada kemauan para jamaah, hanya saja biasanya para penyelenggara memfasilitasi  hanya dua kali umrah saja, selebihnya terserah kepada masing masing jamaah.

Sudah barang tentu perjalanan ibadah umrah tersebut seharusnya akan mampu mengubah jalan hidup seseorang sebagaimana ibadah haji, yakni ada umrah yang mabrurah dan ada pula yang tidak, namun semua jamaah tentu berharap mendapatkan kemabruran. Namu terkadang mereka tidak emngerti apa maksud  dari mabrur tersebut, apakah hanya sekedra sebutan saja, ataukah mempunyai nilai tersendiri. Para umala jelas memberikan pengertian bahwa mbrur ialah  sifat baik yang ditunjukkan oleh  jamaah setelah mereka p[ulang dari ibadah etrsebut.

Ada perubahan signifikan dalam sikap dan perilakunya  diantara sebelum dan sesudah ibadah umrah atau haji. Karena itu sangat penting untuk mencermati setiap perbuatan  ibadah etrsebut, mulai sata menjalankan  thawaf, sehartusnya tidak hanay ebrjalan mengityari ka’bah semata, meskipun secara syar’i  kalau ada orang menjalankannya dengan berjalan mengitaari ka’bah tujuh kali saja tanpa membaca atau tanpa menghayati apapun tetap sah adanya, tetapi sebaiknya para jamaah mampu emnghayatinya sehingga akan dapat hikmah dari menjalani thawaf tersebut.

Kenapa harus memutar tujuh kali  kepada ka’bah etrsebut dan mengapa harus dilakukan dmeikian. Pada saat sedang menjalani thawaf tentu akan jauh lebih bagus jiika kita juga memikirkan tentang kemaha kuasaan Allah yang telah emnciptakan segala sesuatu termasuk ka’bah sebagai  pemersatu umat. Dengan selalu memikirkan kekuasaan Allah tersebut tentu pada akhirnya orang akan mendapatkan sebuah kesan mendalam dalam hatinya tentang kekuatan keimanan kepada Allah swt.

Demikian juga pada saat menjalani sa’i antara shawa dan Marwa yang itu merupakan napak tilas apa yang dahulu pernah dijalani oleh  Ibunya nabi Ismail saat bingung untuk emndapatkan air untuk putranya Ismail. Namun bukan semata napak tilas, melainkan juga harus direnungi sedmeikian rupa sehingga akan mampu menimbulkan kesan emndalam dalam hati tentang peristiw atersebut dan begaimana  kkeuasan Tuhan yang kemudian memberikan air zama zam yang hingga kini tidak pernah kekurangan, meskipun setiap saat selalu diangkut umat ke beberapa negara di dunia.

Terakhir kenapa kita juga harus melakukan tahallul dengan mencukup atau memotong rambut, apa makna yang dikandungnya dan kenapa harus demikian? Orang tentu dapat mencari h8ikmah di balik itu smeua  namun yang jelas setiap rangkaian ibadah di dalam umrah maupun haji pasti ada hikmah yang dikandungnya. Kita tahu bahwa kepala adalah mahkota yang snagat dihargai dan dihormati, lalu kenapa  dalam Islam itu tidak  di sakralkan, bahkan pada saat kita sujud harus menempelkannya di tanah agar kita menyadtyri keberadana kita sebagai makhluk Allah swt yang lemah dan  pada sata menjalani umrah juga harus emmotong rambut di kepala.

Jadi untuk mendapatkan kemabruran memang ada beberapa  syarat yang haruis ditempuh oleh jamaah, yakni ada niat kuat untuk mengubah kebiasan buruk menjadi kebiasaan baik untuk seterusnya, lalu pada saat menjalankan ibadah tersbeut juga  mau mengambil hikmah dan memikirkan tentang kekuasaan Allah yang begitu hebat, dan tentu saja selalu mengamalkan amalan baik sebagaiamana yang dituntunkan oelh rasulullah saw.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.