IBADAH HAJI

Rukun kelima  dalam Islam ialah menunaikan ibadah haji ke Baitullah di kota Makkah dan sekitarnya. Semua umat muslim sudah mengetahuinya dan berusaha untuk menunaikannya, meskipun di beberapa Negara masih harus mengantri puluhan tahun untuk dapat diberangkatkan ke tanah suci. Hal tersbeut bukan karena apa apa,melainkan  hanya disebabkan oleh kuota yang terbatas dan tyidak mungkin orang sejagat akan menunaikan haji secara bersamaan.

Kita tahu bahwa ibadah haji itu tempatnya  sama dan waktunya juga sama. Sedangkan yang menginginkannya  adalah seluruh umat muslim di seluruh dunia. Jadi tidak mungkin kalau seluruhnya bersama sama menjalaninya. Pada saat thawaf di baitullah itu tempatnya hanya satu meskipun saat ini sudah diupayakan  tingkat dan usaha lainnya, namun itu hanya dapat menambah kapasitas belaka dan tidak mungkin akan mampu menampung seluruh uamt muslim. Lalu tempat sai juga hanya didalam masjid haram meskipun juga sudah diupayakan untuk memebrikan tempat yang lebih luas dengan menambah di atasnya.

Lalu ketika kita mengingat puncak haji ialah di Atafar, meskipun  sudha cukup[ luas, namun jika harus menampung seluruh umat muslim, pastinya juga tidaka akan mampu. Demikian juga dengan Mina, meskipun sudah diperluas akan tetapi juga masih terbatas. Demikian juga dengan tempat lempar jamarat yang meskipun juga sudah diupayakan ditambah dengan memperluas di atasnya, tetapi tetapsaja terbatas. Itu baru mengingat pelaksanaan ibadah haji di Makkah dan sekitarnya saja, belum berbicara mengenai lain lainnya, yang pasti sangat membutuhkan lahan yanglebih luas lagi, namun itu tidak akan mungkin.

Memang untuk ibadah haji ini  terjadi benturan kepantingan, dimana salah satu kepentingannya ialah bagaimana  dapat menambah jamaah haji agar dapat emmberikan kesempatan yang lebih banyak kepada umat muslim di dunia, namun di sisi lain juga ada kepentingan menjaga keselamatan dan kenyamanan mereka yang beribadah. Kalau jutaan umat berada di satu tempat dan berdesak desakan, tentu juga tidak akan nyaman, lalu ketika menjalankan ibadah yang waktunya bwersamaan, seperti melempar jumrah juga snagat beresiko, bahkan terkadang harus merelakan nyawa sebagai taruhannya.

Padahal kita ingin menjalankan ibadah dengan penuh kekhusyukan dan kenyamanan, sehingga idealnya jamaah haji itu terbatas sehingga smeua akan dapat menjalaninya dengan penuh kenyamanan. Itulah persoalan  yang terkait langsung dnegan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Sementara itu untuk aspek lainnya seperti penerbangan dan penginapan dan lainnya, tentu juga akan menjadi eprsoalan lain yang juga menjadi beban tersendiri jika jamaah hajinya begitu banyaknya.

Pemerintah Arab Saudi sendiri tentu juga sudah pusing untuk memikirkan persoalan haji ini, disamping semua pemerintah di dunia yang rakyatnya akan emnunaikan ibadah haji juga selalu mengajukan penambahan kuota agar masyarakatnya dapat menjalaninya dengan lebi cepat. Persoalan etrsebut memang sudah cukup lama dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Uaha berbagai cara juga sudah dijalankan, namun tetap saja tidak akan memuaskan kepada smeua pihak. Bahkan seharusnya kita juga tetap memikirkan keselamatan jamaah dan kenyamanannya dalam menjalankanibadah sehingga tidak hanya memikirkan tentang kuota semata.

Lebih jauh lagi terkait dengan pelaksanaan manasik haji juga  seharusnya menjadi perhatian smeua pihak, terutama pemerintah pengirim jamaah haji agar tidak merugikan mereka, karena ternyata kita masih menjumpai banyak jamaah yang tidak mengetahui bagaimana seharusnya mereka bersikap dan menjalankan ibadah di tanah suci. Memang semua itu menjadi urusan individu atau pribadi masing masing jamaah, namun karena mereka kebanyakan adalah orang awam, maka pemerintah wajib mengupayakan pencerahan kepada mereka, baik secara langsung melalui para petugas yang diangkat oleh pemerintah maupun oleh pembimbing swasta.

Persoalan haji ini memang akan terus menjadi persoalan ke depan karena memang antara tuntutan dnegan kondisi yang ada sangat tidak imbang. Artinya tempat dan waktu haji itu tertentu, sedangkan umat yang menginginkannya sungguh setiap tahunnya bertambah, sehingga kita harus emnyadari bahwa persoalan ini tidak akan pernah selesai, meskipun sudah diupayakan cara yang paling mutakhir sekalipun, terkecuali kalau misalnya ada kesepakatan para ulama yang membolehkan ibdah haji dijalankan tidak sekali dalam satu tahun.

Dahulu sudah eprnah ada yang mengusulkan bahwa haji itu dapat dilakukan beberapa tahap asalkan masih di dalam bulan haji, sehingga akan dapat menampung banyak jamaah. Namun usulan tersbeut malah dianggap sebagai  sebuah penyeleweangan, karena tidak mengikuti apa yang sudah pernah dijalankan oleh Rasulullah saw. Dengan dmeikian usulan tersbeut hanya  lewat saja tanpa mendapatkan kajian dan  tanggapan yang memadahi.

Sesungguhnya  menurut alquran  waktu ibafdah haji itu beberapa bulan “alhajju asyhurun ma’lumat, artinay beberapa bulan yang sudah dikenal, yakni mulai bulan Syawwal, dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah, namun prakteknya haji itu hanya dijalankan pada tanggal 9 Dzul Hijjah  dimana saat itu Rasulullah saw menjalankan wukuf di Arafah. Peerlu diketahi bahwa rasul;ullah saw menjalankan ibadah haji hanya sekali saja sehingga memang kalau diikuti pelaksanaannya maka hanya pada saat 9 dzul Hijjah saja dan tidak mungkin dijalankan di selainnya.

Usulan berhaji untuk beberapa tahap asalkan masih di bulan haji tersbeut memang tampak asing bagi umat muslim, sehingga karena itulah para ulama juga tiodak tertarik untuk membahasnya dan menanggapinya. Namun setelah menyaksikan betapa antrian calon jamaah haji yang begitu mengular, kiranya para ulama  perlu memperhatikan kembali usulan etrsebut, meskipun nantinya tetap diputuskan untuk tetap sebagaimana aslinya. Siapa tahu nantimnya ada pendapat yang sangat cerdas sehingga akan mampu memberikan inspirasi kepada para ulama yang mempunyai kewenangan memutuskan persoalan hukum terkait dnegan pelaksanaan haji tersbeut.

Bagi masyarakat muslim Indonesia memang saat ini sudah emndapatkan  kuota yang terbanyak diantara negara lainnya di dunia, namun tetap saja belum memenuhi harapan semua umat muslim, karena itu smeuanya harus tetap bersabar dan pasrah kepada Allah swt. Paling paling para ulama kita akan memberikan motivasi bahwa kalaupun nantinya sebeluam haji sudah dipanggil oleh Allah swt, setdaknya sudha tidka menanggung dosa, karena sudah berniat dan hanya persoalan kesempatan yang belum diperoleh.

Para ulama pun juga menghimbau kepada umat untuk segara mendaftarkan  diri untuk pergi haji meskipun saat ini belum mempunyai cukup uang, karena yang terpenting ialah kesungguhan dan niatnya, sedangkan untuk memenuhi ongkosnya dapat dilakukan sambil berproses. Jika  harus menunggu sampai puluhan tahun untuk keberangkatannya, dapat dipastikan pada saatnya nanti ongklos sudah tersedia. Karena itu tidak ada istilah takut tidak mampu membayar ongkos karena masih cukup waktu untuk memenuhi kekurangan ongkos tersebut.

Mungkin memang  pada saat musim haji seperti saat ini kita semua menjadi berpikir keras bagaimana caranya untuk dapat menyegerakan  mereka yang sudah  antri cukup lama dan sudah cukup tua. Namun sekali lagi kita tidak mungkin mencarikan jalan keluar sendirian, karena haol tersebut terkait juga dengan pemerintah negara lain, dalm hal ini Saudi Arabi. Untuk itu kepasrahan diri kepada Allah swt menjadi pelampiasan yang paling mungkin dan kita akan tetap mempunyai harapan besar untuk melakukan ibadah haji di tanah suci.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.