RASA KEADILAN

Sampai saat ini masih ramai dibicarakan orang tentang  baiq Nuril yang dipidana karena menyebarkan informasi  pembicaraan cabul atasannya kepada dirinya. Bahklan hingga keputusan MA yang sudah  tetap pun masih saja dibicarakan karena dianggap tyidak memenuhi rasa keadilan dan hanya memnuhi aspek formlitas hokum semata. Lalu saat ini juga banyak yang mengusulkan agar presiden yang mempunyai hak amnesti untuk memberikannya kepada Baiq tersebut, demi rasa kemanuisaan yang sulit ditembus melalui jalur pengadilan.

Kita mengakui bahwa dunia pengadilan itu sama sekali berbeda dnegan dunia awam, karena  manurut orang awamterkadang sesuatu yang dianggap adil oleh para hakim yang memutuskan, masih dianggap tidak adil oleh orang awam, karena sudut pandangnya yang berbeda. Meskipun dmeikian sesungguhnya secara umum masih dapat diterima oleh orang awam, semisal ada kasus pencuri ayam yang muingkin harganya sekitar 150 ribu hingga 200 ribu rupiah lalu diproses dan dihukum tiga bulan penjara. Namun di sisi lain ada p[encuri emas permata  yang harganya milyaran rupiah yang kemudian diproses dan dihukum selama 18 bulan.

Nah, kasus tersebut tentu tidak bisa dinilai sebagai sesuatu yang harus disamakan, dan kemudian dinilai berdasarkan harga yang dicuri. Kalau dmeikian cara pandangnya, justru malah tidak terasa adil. Coba bayangkan jika maling ayam saja dihukum 3 bulan, lalu kalau mencuri mas berlian seharga milyaran rupiah lalu hukuamannya   tiga bulan dikali sekian milyar sehingga menjadi tidak rasiional. Inilah yang dimaksudkan dnegan sudut pandang yang harusnya  menurut logika, bukan menurut awam.

Namun memang ada kondisi dimana rasa keadilan  tercabik bila mana  ada kejadian yang sangat menjadi perhatian umum  dan lalu diputuskan oleh para hakim dnegan hanya berdasarkan kepada bukti formil saja, dan sudt pandangnya juga hanya satu arah. Katakanlah dalam kasus baiq nuril yang sata ini selalu diganngu oleh atasnnya dan sata menelponnya dengan menceritakan  perbnuatan mesumnya lalu direkam oleh baiq dan disimpan hingga satu tahun lamanya.

Lalu ada pihak lain yang meinta rekaman etrsebut dan diberikan, lalu pihak lain tersebutlah yang kemudian menyebarkannya kepada khalayak sehingga tersebarlah rekaman pembicaaraa mesum tersebut. Dalam ksus ini banyak yang menyatakan bahwa baiq itu sesungguhnya merupakan korban  dan bukan pelaku kejahatan. Sebagai manusia dan perempauan  dia pasti  mempunyai perasan tidak nyaman saat dilecehkan oleh atasnnya, dan kebetulan atasannya tersebut menelponnya dan bercerita tentang perbuatan mesumnya dnegan kawannya yang lain, lalu tyanpa sepengethuan atasnnya, dia merekam telepon tersebut.

Tentu dengan niat untuk jaga jaga  siapa tahu nanti dibutuhkan dalam pembuktyain jika  ada persoalan di kemudian hari.  Hingga satu tahu lamanya ternyat tidak akan persoalan, lalu ada pihak lain yang mengetahui daan meminta rekaman etrsbeut, Dengan dmeikian Baiq sesungguhnya tidak menyebarkannya terkecuali hanya memberikannya kepada pihak lain tersbeut. Pada saat rekaman tersebut beredar, lalu atasan baik mrerasa tercemarkan nama baijnya dan menuntut baiq dan anehnya kemudian dikabulkan.
Namun kemudian di mataram baik mendapatkan keadilan dan dibebaskan dari teuduhan tersbeut. Namun jaksa kemudian  kasasi dan para hakim mahkamah Agung pun mengabulkannya permohonan kasisais dan baiq kemudian dihukum bersalah.

Baik pun kemudian tidak mau berdiam diri dihukum lalu dia mengajukan peninjauan kembali namun upaya PK nya tersebut ditolak oleh MA dan dia tetap dihukum. Itulah cerita singkat dari proses hukum baik  nuril yang sempat emnghhebohkan  itu. Nah,  coba kita lihat persoalannya dengan lebih detail. Atasan baik meras tercemarkan nama  baiknya sehingga karirnya terhenti dan merasa malu demikian juga keluarganya. Itulah yang menjadi alasan hakim untuk tetwep menghukum Baik, namun sesungguhnya  atasan nya itu sendirilah yang mencemarkan nama baiknya sendiri yakni perbuatannya sendiri.

Rupanya sudut ini yang tidak diperhatikan oleh hakim sehingga seolah Baik sajalah yang salah karena telah menyebarkan pembicaraan cabul atasannya. Pada  sudut lainnya baik juga tidak berniat menyebarkan rekaman tersebut dan hanya memberikannya kepada satu orang saja, lalu orang itulah yang menyebarkannya, apakah kemudian orang yang menyebarkan tersbeut tidak tersentuh hukum?  Kalau kita lihat kasus tersebut sesungguhnya saya sepaat bahwa Baiq adalah korban dan bukan pelaku murni kejahatan menyebarkan rekaman tersebut.

Kalau kemudian seluruh kesalahannya ditanggung oleh baik tentu ini tidak dapat dikatakan memenuhi rasa keadilan. Mungkin memang  bunyi UU ITE hanya sampai disitu ,anmun kekuasaan hakim sesunggunya  mampu menwerjemahkan yang lebih dalam setelah mengetahui rentetan kasusnya, sehingga kemudian tidak menimpakan kesalahan hanya kepada baik semata. Mungkin Baiq dapat disalahkan karena telah merekam dengan tanpa seijin atasannya dan juga memberikan rekaman tersbeut kepada pihak lain, namun dosa tersebut tidak sebanding dnegan  perbuatan pelecehan atasannya dan mungkin juga orang lain yang menyebarkannya kepada masyarakat.

Barangkali itulah pentingnya menerjemahkan tulisan dalam undang undang  untuk mendapatkan rasa keadilan yang diinginkan. Saat ini kasus baik tersbeut sudah emnjadi konsumsi publik dan semua orang menyalahkan hakim Agung yang memutuskan memidananya, padahal dia hanya sebagai korban, dan bukan pelaku utama. Untuk itu jalan terakhir untuk menyelamatkan Baik  ialah dnegan mengundang presiden untuk memberikan amnesti agar baik terbebaskan dari hukuman yang dirasakannya tidak adil tersebut.

Memang banyak yang meyayangkan bahw apara hakim yang mengadilinya itu memakai kacamata kuda dan tidak mampu melihat sisi lainnya dari bunyi undang undang, padahal sudah sangat jelas posisi baik saat itu yang terseudut oleh perbuatan  atasannya. Namun semuanya sudah terlanjur diputuskan dan upaya PK juga sudah ditolak oleh MA, maka  p[emberian amnesti memang merupakan satu satunya jalan untuk menyelamatkan kasus baik etrsebut, sekaligus juga harus menjadi perhatian kita smeua tentang penegakan hukum di negeri ini yang masih belum mencerminkan keadilan yang sesungguhnya.

Memang bukan hanya kasus Baiq ini saja kasus yang mengusik rasa keadilan masyarakat, karena masih terlalu banyak kasus kasus yang sangat mengusik rasa keadilan masyarakt karena putusan hakim ataupun kondisi lembaga pemasyarakatan yang sangat rapuh oleh  suap para konglomwerat yang kebetulan dipenjara di dalamnya. Bagaimana mungkin terpidana yang seharusnya berada di dalam sela penjara, lalu dapat keluyuran ke luar negeri dengan santainya atau dapat berbelanja di mall dan lainnya.

Pendeknya persoalan keadilan di negeri ini memang masih belum memenuhi harapan kita semua, dan karena itu ini merupakan PR yang harus dibenahi oleh pemerintah yang akan datang. Kita tahu bahwa perdoalan keadilan ini merupakan persoalan lama yang selalu diinginkan oleh seluruh rakyat, tanpa terkecuali. Jangan sampai keadilan hanay menjadi milik orang orang berduit saja dan jauh dari orang orang miskin. Jika  dilakukan pembenahan menyeluruh tentu juga akan dapat menjadi lebih baik dan  masyarakat tentu akan mendukungnya  tanpa terkecuali, karena itulah yang selalu diidamkan oleh mereka.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.