MEMAHAMI AGAMA DENGAN BENAR

Saat ini  cukup banyak muncul berbagai pemahaman yang berbeda dan bahkan cenderung bertentangan secara  substantive. Tentu ini menjadi  bahan kajian yang sangat menarik bagi kita, karena seharusnya secara ideal kalaupun ada perbedaan maka itu hanya dari sisi tertentu saja, tidak sampai kepada  berbeda secara substansial. Hal tersebut disebabkan karena sumbernya hanya satu, sehingga  perbedaan yang ada seharusnya tidak mempengaruhi substansi, melainkan hanya dalam bidang cabang semata.

Bagi para ulama  zaman dahulu yang memang sangat menguasasi berbagai literature yang berbeda,  tentunya akan emndapatkan wawasan yang luas dan  sangat mudah untuk memahami perbedan yang ada, karena mereka sudah mengetahuinya lewt berbagai literature yang ditulis oleh para ulama zaman dahulu. Mereka sudah tidak asing lagi dnegan perbedaan pandangan etrsebut, namun saat ini kita menyaksikan sesuatu yang membahayakan, karena  ada tuduhan dari sementara pihak yang mengkalim kebenaran dan menyalahkan pihak lain.

Sangat mungkin bahwa mereka yang mudah menuduh keliru terhadap pihak lain tersebut karena wawaan keilmuannya dalam bidang agama masih sangat minim dan terbtatas sehingga pandangan yang tidak sesuai dengan pendangannya, lalu dianggap sebagai salah. Apalagi kalau pihak tersebut secara hakiki belum mengetahui bahasa Arab dnegan baik, dan hanya mengetahui ajaran islam hanya melalui terjemahan semata. Kita tahu bahwa kebanyakan terjemahan itu  juga tidak akurat karena  kurang memperhatikan aspek keilmuannya, melainkan hanya semata didasarkan kepada penyalinan bahasa semata.

Kalau kondisinya demikian tentu kita sangat menyayangkan hal tersebut. Mereka yang wawasan keilmuannya luas tentu sudah mengetahui berbagai pandangan yang berbeda  karena pertimbangannya juga berbeda, dan tentu mereka itu tidak mudah untuk menyalahkan atau menganggap dirinyalah yang paling benar, karena  mereka mengetahui bahwa ada pihak lain yang memandangnya dari sisi lain sehingga menghasilkan pandangan yang beerbeda.

Namun sesungguhnya ada hal yang lebih penting dari sekedar itu, yakni  kondisi masyarakat sendiri yang harus pandai untuk  memilah apakah sesuatu itu memang harus diyakini sebagai sebuah kebenaran ataukah hanya kalim semata.  Artinya kalau masyarakat cerdas dan mampu membedakan antara pihak, apakah ilmu yang dimiliki oleh seseornag itu cukup mumpuni untuk  membicarakan sesuatu ataukah sebaliknya  ilmunya hanya terbatas saja, maka  hal tersebut akan dapat menolongnya dari kemungkinan untuk mengambil kesimpulan yang salah.

Ada banyak ilmu bantu dalam memahami kitab suci dan juga hadis hadis Nabi, karemna para ulama terdahulu sudah memperhitungkannya sedmeikian rupa, sehingga kalau kaidah kaidah yang sudah disusun mereka tersbeut ttidak dikuasai dan tidak digunakan, maka akan berakibat pamahamannya berbeda dan salah. Kita tahu bahwa teks alquran maupun sunnah itu merupakan teks yang tidak mampu berbicara sendiri, terkecuali jika dibarengi dengan alat bantu yang memungkinkannya dapat berbicara, sesuai dnegan tujuan  awalnya. Nah, alsaan itulah yang kemudian membuat siapapun membutuhkan kaidah tersebut saat memahaminya.

Cukup banyak orang yang mencoba untuk memehami sebuah teks tanpa memakai ilmu bantu yang sudah dirumuskan oleh para ulama tersbeut dan hasilnya tentu akan menjadi sangat rancu dan lucu, karena tidak nyambung dnegan ketentuan lainnya yang masih dalam satu teks. Karena itu siapapun yang akan memhami teks haruslah juag menguasai bagaimana caranya untuk memahaminya melalui kaidah kaidah yang sudah disusun dnegan cermat oleh para ulama.

Apalagi kalau kemudian dikaitkan dengan persoalan agama yang sangat luas an beragam, maka  mutlak dibutuhkan cara memahami yang  tepat. Jika pemahaman yang sudah mengikuti tata cara dan kaidah kaidah tersebut, kalaupun nantinya masih ada perbedaan pandangan, tetapi pastinya tidak akan  terjadi secara substansial karena masing masing  memaki peertimbangan yang berbda  dan menghasilkan pandangan yang berbeda. Namun pwerbedan tersbeut masih sangat mudah untuk dipahami karena ada pengantar yang mendahuluinya dan pertimbangan yang menjadi alasan mengemukakan pandangan etrsebut.

Justru yang berbahaya ialah jika tanpa memakai kaidah tersbeut lalu hanya berpegang kepada makna lahiriyah dan harfiyah saja, lalu dianggap sebagai sebuah kebenaran.  Inilah paham yang kemudian menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat karena  sangat jauh berbeda dan menyimpang dari pemahaman para ulama yang sudah terlebih dahulu dipercaya oleh masyarakat. Celakanya pandangn yang muncul belakangan etrsbeut justru mengklaim yang paling benar dan yang terdahulu itu semuanya salah dan sesat.

Sesungguhnya ada banyak ilmu yang menyertai yang harus dipahami, seperti ilmu asbab nuzul alquran, ilmu naskh,  ilmu ushul fiqh dan lainnya. Disamping dalam ilmu hadis juga ada ilmu asbab wurud al hadis, ilmu ma’anil hadis, ilmu naskh, ilmu fahmil hadis, dan ilmu lainnya. Nah jika keilmuan tersebut ditinggalkan, baik dnegan sengaja maupun karena ketidak tahuann, maka akibatnya bisa fatal karena  ada hal hal yang tersembunyi yang tidak diketahui terkecuali dnegan mengetahui ilmu tersebut.

Lebih jauh akan sangat memperihatinkan jika  pemahaman yang hanya harfiyah tersbeut lalu diyakni sebagai satu satunya kebenaran dan lalu memaksakan kehendak kepada smeua pihak, maka kemudian yang akan muncul ialah pemahaman yang keras dan tidak ada kompromi, dan itulah yang menjadi salah satu penyebab munculnya kekerasan dalam agama dan  munculnya aliran yang keras dalam mengamalkan ajaran agama.

Kalau kita kembali kepada posisi dan substansi Islam itu ialah agama yang damai, cinta kepada kebersamaan dan menghargai perbedaan  diantara umat manusia, lalu kenapa dalam memahami ajaran agama kita tidak mengacu kepada pokok pokok tersebut? Kenapa pemahaman terhadap Islam  spertinya dibuat sangat mengerikan dan menakutkan. Apakah itu yang dimaksud dengan Islam sehjati, padahal Islam itu cintai damai dan menjauhi kekerasan. Seharusnya kalau smeua  bermuara kepada kadamian dan kelembutan serta kasih sayang, pastinya tidak akan muncul aliran kekerasan sebagaimana yang kita saksikan saat ini.

Adalah menjadi kewajiban kita smeua khususnya para cerdai pandai untuk turun tangan dan menjelaskan kepada semua masyarakat tentang hakekat islam dan cara pemahaman terhdap teks teks ajarannya. Selama kita mau melakukan  pencerahan kepada umat dan  mampu menjelaskan dnegan gambling bagaimana seharusnya kita memahami ajaran islam, maka  lama kelamaan  masyarakat tentu akan menyadari dan akhirnya akan kembali kepada apa yang sudah disampaikan oleh para ulama terdahulu.

Namun kalau kita tidak mau melakukan hal etrsebut dan hanya membiarkan  smeua itu berlangsung dan rtumbuh subur di tengah masyarakat, maka akibatnya akan menjadi semakin teras dan masyarakat tentu akan semakin tidak nyaman dengan kondisi yang  menakutkan serta keterpaksaan dalam menjalani kehidupan agama. Mari kita peduli terhadap kondisi yang sudah sangat mengkhawatirkan tersebut, dan  langkahs erta keputusan kita untuk emberikan pencerahan kepada umat adalah cara yang ampuh untuk menghentikan  berkembangnya aliran kekrasan dalam agama kita.

Kita memang tidak menuduh  pijhak pihak tertentu, melainkan hanya mengingatkan saja bahwa kalau terkait dengan ajaran islam itu sesungguhnya  tidak ada yang berbau kekerasan, dan jika ada kiatannya dnegan kekerasan itu hanyalah pemahaman yang tidak kontekstual dan itu bukan jalannya para ulama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.