JANGAN HIRAUKAN PELECEHAN PIHAK LAIN

Ada kalanya kita memang harus tegar dengan caci makian pihak lain, karena terkadang caci maki etrsebut memang sengaja dibuat untuk meluluhkan kekuatan kita, atau karena memang kebanyakan orang suka mencaci, padahal tidak mengetahui persoalan yang sesungguhnya atau memang  ada maksud tertentu. Nah, karena itu sebaiknya kita tidak terlalu memperhatikan cacian meeka,  namun  tidak boleh mengabaikannya sama sekali. Kita jadikan cacian tersebut sebagai alat untuk mengevaluasi diri kita, karena pasti ada kekurangan di dalam diri kita.

Memang ada himbauan dalam agama kita untuk tidak takut dengan celaan orang yang suka mencela atau dal;am bahasa agamanya “wala takhafu laumata laim”. Namun terkadang celaan dan caci maiai tersebut ada juga manfaatnya, karean itu sebaiknya memang tidak terlalu memperhatikannya, melainkan cukuplah sebagai alat untuk mengevaluasi diri kita. Sebnab kalau kita terlalu memperhatikannya, maka tidak akan aa habisnya, karena pasti akan sellau muncul cercaan semacam itu dan kita tidak akan mampu untuk menjawabnya dengan memusakan, karena memang sudut pandang kita berbeda.

Ketika  digambarkan ada seorang ayah dan seorang anak laki lakinya pergi untuk sebuah keperluan, maka  kuda yang tersedia hanya satu, itupun sangat kecil, kira kira tidak akan mampu kalau dinaiki oleh dua orang. Karena itu atas kesepakaatan mereka berdua, lalu diatur untuk bergantian naiknya kuda. Pada awalnya anaknya terlebih dahulu naik dan bapaknya menuntun kuda tersebut. Lalu di tengah perjalanan bertemu orang dan orang tersebut mentakan “kok anda tega benar, sebagai anak enak enakan naik kuda sementara ayahmu kau suruh berjalan kaki menuntun kuda”.

Lalu anak tersebut turun  gentian ayahnya yang naik, namun belum beberapa lama lalu berpapasan dnegan orang lain laigi dan orang tersebut juga mengatakan :” jadi orang tyua kok tidak pangerten,  anaknya disuruh jalan kaki  ayahnya malah enak enakan naik kuda, lalu di mana perasaan dan hati nuraninya?” dua posisi yang berbeda lalu orang yang bertemtu dengan mereka pun akan mengatakan atau mencacinya dnegan sudut pandang yang berbeda pula.

Lalu mereka berdua  bersepakat jalan kaki semuanya dengan menuntun kudanya, namun kemudian juga berpapasan denganortang lainnya lagi dan orang tersebut juga berkomentar yang tidak nyaman “ orang kok yang pakai otak,  ada kuda malah hanya ditunutun saja mengapa tidak dinaiki sehingga akan  lebih baik dan nyaman. Lalu apa untungnya membawa dan emmpunyai kuda jkalau hanya untuk duituntun saja?” kedua orang tua dan anakpun juga merasa serba salah, akhirnya mereka sepakat untuk menggendong atau memikul kuda tersebut.

Belum lama berjalan dengan memikul kuda etrsbeut mereka pun bertemu dnegan orang lain, dan orang tersebut berkomentar lebih menyakitkan “dasar orang berotak dungu, mengapa repot repot memanggul atau memikul kuda, padahal seharusnya kudanyalah yang dinaiki sehingga  keberadaannya sebagai pemilik kuda akan  dapat dinikmati, dasar manusi tidak menggunakan otak”. Begitulah komentar orang yang berbeda melihatnya lalu berbeda pula komentarnya dan  cacian yang dioberikan.

Karena itu sekali lagi kita tidak boleh terlalu menghiraukan  cercaan dan kritikan pihak lain, karena kita lebih mengerti tentang persoalan kita sendiri, dan jika kita mau kita dapat menjelaskan kepada orang lain etrsebut mengapa kita ebrbuat demikian. Namun jika kita tidak mau rebut dengan pihak lain yang tidak mengetahui persoalan kita, kita akan lebih baik diam saja tanpa melakukan reaksi atas cercaan tersebut.

Namun memang ada kalanya kita harus memperhatikan cercaan dan kritikan pihak lain jika kita menilainya sebagai sebuah kebaikan dan kita belum menjalankannya, karena boleh jadi penglihatan orang lain terhadap kita akan jauh lebih jeli dan karena itu mungkin juga pendapat dan kritikannya  sangat bermanfaat bagi perbaikan ke depan kita. Jika kita terlalu memperhatikan  cercaan tersbeut akibatnya kita tidak akan mampu untuk berbuat sesuatu karena harus mendengarkan smeua  kritikan dari pihak lain sehingga tidak ada waktu bai kita untuk melakukan sesuatu yang berguna.

Himbauan  agama kita memang sangat baik dan tidak akan menyeret kita kepada persoalan yang sulit untuk dipecahkan, karena secara nalar kita pun memahami bahwa jika kita terlalu memperhatikan  cercaan pihak lain, maka  kita tidak akan mampu  dan emmpunyai cukup waktu untuk membenahi diri dan melakukan hal hal baik yang seharusnya kita lakukan. Sebaliknya jika kita terlalu tidak memperhatikan cercaan tersbeut dan hanya acuh takacuh semata, boleh jadi  kita akan terpuruk karena tidak melihat dan tidak mengetahuai kekurang kita.

Kita memang memerlukan  sahabat untuk memberikan masukan secara obyektif tentang berbagai kekurangan kita, bukan kawan yang hanya pandai untuk memuji saja, karena kalau itu yang terjadi akan sangat ebrbahaya, karena boleh jadi kita justru akan terperosok ke jurang yang terdalam disebabkan oleh komentar baik kaan sendiri jati itu seharusnya mampu menyaakan sesuatu sebagaimana mestinya  dan kita sendiri juga harus mau untuk mendapatkan penilaian yang buruk dari kawan secara tulus.

Kawan sejati itu memang sulit dicari tetapi sekai kita mendapatkannya, maka keuntungannya  sangat luar biasa, bukan saja pada saat kita masih berada di dunia, melainkan juga sampai nanti di akhirat. Sahabat sejati terkadang malah melebihi saudara sendiri karena saling penefgertian dan  pemahaman secara tulus. Bahkan jika salah satu diantara sahabat tersebut sedang mengalami kesulitan, termasuk dalam persoaanfinansial, maka sahabat satunya lagi akan dengan senang hati membantu dan mencarikan solusi atas masalaha yang sedang dihadapi.

Akan jauh lebih baik jika kita mendapatkan pelecehan atau penghinaan dari seseorang atau kritikan tajam dari pihak lain, kita lalu mendekat kepada sahabat sejati tersbeut dan memintanya untuk menilai dan berkomentar dengan jujur. Sayaratnya tentu kita sendiri tidak akan pernah memarahinya sepahit apapun yang disampaikannya, karena itu bukti bahwa dia memang serius untuk membantu kita dalam hal memperbaiki diri dan mengubah sesuatu yang buruk menjadi lebih baik.

Demikian juga kita harus juga waspada dengan pujian pihak lain, karena sesungguhnya substansinya sama dengan kritikan atau cercaan. Siapapun yang terbuai oleh manisnya pujian  orang lain, maka harus siap siap untuk menanggung akibatnya yang justru mungkin akan sangat  sangat menyakitkan, karena pada saat yang berbeda nanti  orang yang memuji tersbeut akan berbalik mencacinya lebih parah. Jadi cacian dan  pujian itu hanya  merupakan sesuatu yang bertolak belakang semata dan hakekatnya sama dalam hal mempengaruhi diri kita.

Biarkanlah  banyak orang berkomentar apapun sesuai  keinginan mereka, tetapi yang jelas kita harus tetap konsisten dalam menjalankan  aktifitas sesuai dnegan aturan main yang ada. Jika kita mampu bertahan dnegan sikap konsisten tersbeut, maka kita harus yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong kita dalam mengatais setiap persoaan yang muncul dan memerlukan penyelesaian dnegan baik.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.