BAITULLAH

Secara harfiyah baitullah itu dapat diartikan sebagai rumah Allah, tetapi kenapa rumah Allah, apakah Allah emmerlukan rumah sebagi tempat tinggal? Kalau itu dijawab ya, maka kebaradaan Allah tiu sama dengan manusia yang membutuhkan tempat tinggal, padahal Tuhan itu maha Segalanya, sehingga Dia itu tidak seperti makhluk Nya dalm segalanya. Lalu kenapa   ka’bah itu disebut sebagai baitullah atau rumah Allah? Twenrtu untuk menjawab persoalan ini diperlukan penjelasan yang lebih luas, bukan sekedar menjawah ya atau pun tidak semata.

Rumah Allah itu hanyalah sebuah ibarat saja, yakni jika semua orang muslim membutuhkan  Allah swt dan karena itu mereka membutuhkan menyembah dan beribadah kepada Nya. Nah, tempat yang paling strategis dan memungkinkan  bagi manusia untuk mendekat dan ebribadah kepada Nya ialah di rumah Nya, tapi bukan berarti Tuhan berada di rumah tersebut. Kita juga menyebut masjid dan mushalla, dimana manusia banyak menyembahNya di sana  dnegan rumah Nya juga meskipun dengan menyebut nama lainnya dari nama Allah.

Kita tahu bahwa Allah swt mempunyai 99 nama yang disebut sebagai asmaul husna dan biasanya masjid  di sekitar kita diberi nama dengan nama rumah Tuhan yang Maha Kasih, saying dan lainnya. Jadilah sebuah masjid diberikan nama baikturrahman, baiturrahim, baitul mukmin, baitul hadi, baitu s alam, dan lainnya. Hanya  ka’bah sajalh yang diberi nama baitullah dan di sanalah seluruh manusia di dunia mengarahkan wajahnya pada saat menyembah nYa melalui shalat dan smeua orang juga merindukan dapat mendekat kepada baitullah tersebut.

Saat ini kita dapat menyaksikan betapa antusia manusia di dunia untuk mendatangi baitullah tersbeut, baik untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Kalau musim haji tiba masyarakat begitu berebut untuk dapat menjalankannya, bahkan di negeri kita ini orang yang baru akan menjalaninya harus mengantri hingga puluhan tahun. Sementara untuk pelaksanaan ibadah umrah karena tidak dibatasi waktunya, maka setiap hari juga  orang berbondong untuk mendatangi baitullah tersbeut untuk menjalankan ibadah umrah dengan melaksanakan  thawaf mengelilingi baitullah tujuh  kali.

Orang biasanya untuk pertama kalinya menyaksikan dan melihat baitullah akan merasa bergetar hatinya dan bahkan tidak jarang mereka menangis terguguk hanya mensyukuri kondisi dapat melihat langsung baitullah etrsbeut dan sekaligus dapat mendekatinya. Tidak terbayangkan betapa gembiranya orang yang mampu mendekati adan beribah di dekatnya sehingga seolah mereka  berada di rumah Allah dan  di dekat Allah swt.

Meskipun sesungguhnya Allah sendiri sudah berfirman bahwa Allah tiu sangat dekat kepada kita, hanya saja kita belum mampu merasakannya. Nah, pada saat kita berada di baitullah itulah kita baru dapat merasakan betapa kita sangat dekat dengan Nya. Tentu ada sebuah harapan bahwa pada saat nantinya sudah berada di tanah air kembali yang jauh dari baitullah, kita juga masih akan mampu emmpertahankan kedekatan kita tersebut karena pada dasarnya untuk hal etrsbeut tergantung kepada pikiran dan semangat kita.

Artinya jika kita mampu memfokuskan pikiran dan hati kita kepada Allah swt, dimanapun kita berada kita tetap akan mampu mendekat kepada Nya dan kita akan measakan kedekatan kita yang dmeikian sehingga pada saat kita melaksanakan ibadah dan berdoa, seolah kita memang sangat dekat dengan Nya. Namun bukan berarti kemudian kita tidak emmerlukan lagi baitullah dan ibadah di tanah suci, sama ssekali bukan begitu, emlainkan hanya sekedar untuk menyadarkan kita bahwa Allah itu memang sangat dekat dengan kita.

Betapa banyak masyarakat muslim yang merindukan untuk dapat merapat ke baitullah tersbeut namun terkendala oleh keadaan yang belum memungkinkan. Karna itu berbahagialah bagi mereka yang dapat menjalankan ibadah haji ataupun umrah serta dapat memenfaatkan kedkatan etrsebut untuk sebuah kebaikan yang akan dipeliharanya sampai akhir zaman nanti.

Sebentar lagi musim haji akan dating dan  jutaan manusia di dunia akan menjalankan ibadah hai di tanah suci tersebut, dan kita juga tahu bahwa menjalankan ibadah haji itu saat ini sangat berat karena  pada tempat yang sempit  harus dihuni oleh jutaan manusia dalam waktu yang berasamaan sehingga dibtuhkan stamina yang prima sehingga akn dapat menjalankan semua kewajiban, kesunnahan dan rukun.  Kita tahu bahwa ibdah haji itu merupakan ibadah amaliha, bukan doa lagi, karena itu  fisik kita memang harus kuat untuk menjalaninya.

Saudara saudara kita yang dari Indonesia begitu banyak dan  kebanyakan diantara mereka juga masih belum berpengalaman dan tingkat pendidiannya pun juga masih relative rendah, karena itu memang dibutuhkan pembimbingan yang efektif dan  secara terus menerus dilakuakn pendampingan agar  manaisk haji mereka dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Kita harus  prihatin kalau ada jamaah haji yang tidak mampu menjalankan manasiknya dnegan baik sehingga biaya perjalanan haji yang dmeikian banyak harus sia sia karena  tidak mampu menjalankan ibadah haji dengan benar.

Sekali lagi meskipun pelaksanaan ibadah haji itu dibeberapa tempat dan centrenya di arafah, dan juga ada di mina serta di masjid haram, akan tetapi  biasanya  kemudian orang menyebutnya yang terpenting ialah berada di masjid haram yang di dalamnya ada baitullah. Nah, terkait dengan baitullah tersebut biasanya  banyak orang awam yang menyalah gunakannya untuk kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan ibadah haji dan bahkan akan dapat membuat orang tersbeut semakin jauh dan berbahaya.

Karena itu  harus ada pengetahuan mengenai hal hal  yang terkait langsung dengan baitullah tersbeut, sebab kita menyaksikan ada beberapa orang yang sama sekali tidak memakai ilmu dalam melakukan sikap terhadap baitullah tersbeut. Ada yang memanfaatkannya untuk mencari  kesaktian atau sejenisnya, yakni dengan berusaha untuk mendapatkan kain kiswah ka’bah atau dengan menangis meraung raung dengan membenturkan badannya ke ke’bah dan lainnya. Karena itu masyarakat awam tersbeut harus diberikan penderahan oleh pembimbing yang ditugaskan agar mereka terarah dan tidak melakukan hal hal yang membahayakan diri mereka sendiri.

Demikian juga bagi mereka yang sudah dapat mendekat kepada baitullah sebaiknya juga tetap menjaga  diri agar tidka terjatuih kepada hal hal yang justru kontra produktif, seperti menjadi sombong dan seolah dirinya sudah bersih dan menjadi orang paling hebat dan lainnya. Allah swt itu tidak akan melihat manusia dari sisi luarnya, melainkan hanya hati dan  amal perbnuatannya. Dengan dmeikian kalaupun ada orang yang karena sesuatu hal lalu tidak mampu berangkat ke baitullah dan hanya ada di kampungnya sendiri, tetapi kalau hatinya baik dan amaliahnya juga baik, maka dia termasuk orang yang  dilihat baik oleh Allah swt.

Sebaliknya meskipun  ada orang yang setiap tahun dapat pergi haji dan  bahkan setiap bulan berangkat umrah sehingga setiap bulan  dapat mendekat di baitullah, namun kalau hatinya jelak dan amaliahnya juga buruk, maka Tuhan tidak akan memandanganya sebagai orang baik. Itulah mengapa kita  memerlukan dating ke baitullah  tetapi yang terpenting ialah bagaimana hati kita dan perbiatan kita, bukan frekswensi kedatangan kita ke baitullah.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.