TANGGUNG JAWAB INDIVIDUAL

Terkait dengan urusan  ibadah kepada Allah swt, masing masing manusia tentu akan  bertanggung jawab sendiri sendiri, karena itu  tidak ada ibadah yang dapat dititipkan kepada pijhak lain, meskipun sangat dekat hubungannya. Sebagai contohnya ialah jika seseorang emmpunyai sahabat dekat dan akrab atau bahkan mempunyai anak yang salih sekalipun, lalu dia sedang tidak enak badan atau sedang malas untuk ebribadah, lalu berpesan  dan meinta kepada sahabatnya atau kepada anaknya untuk menggantikan shalat dhuhur yang dia  sedang malas, misalh, maka itu smeua tidak  dapat diterima dan tidak akan terjadi.

Demikian juga pada saat  puasa yang semua orang juga wajib berpuasa, sehingga orang tidak boleh mewakilkan puasa kepada pihak lain dnegan cara diupah sekalipun. Namun segala sesuatu itu pasti ada perkecualiannya,  yakni jika seseorang sakit lalu tidak berpuasa  pada bulan Ramadlan, lalu meninggal dunia, maka  sebagian ulama membolehkan puasnay digantikan oleh anaknya misalnya. Atau karena  sakit tua yang tidak mampu menjalankan puasa, lalu digantikan oleh membayar fidyah, maka itu diperbolehkan.

Sementara itu untuk menjalankan ibadah haji, jika  masih mampu menjalaninya, maka harus dijalaninya sendiri, tetapi jika sudah tidak mampu menjalankannya, maka boleh digantikan oleh pihak lain yang memenuhi syarat, yakni  yang menggantikan tersbeut sudah pernah haji dan syarat lainnya. Sedangkan untuk zakat itu memang bolehlah dilakukan oleh pihak lain, semacam anaknya yang menjalankannya karena memang tidak harus dijalankan sendiri terhadap hartanya atau terhadap dirinya terkait dengan zakat firtrah misalnya.

Khusua terkait dnegan ibadah shalat yang emmang harus dijalankan oleh yang bersangkutan dan tidak bnoleh ditinggalkan selama akalnya masih sehat, maka  itulah yang harus tetap dilakukan oleh setiap muslim. Jika tidak mampu berdiri, masih diberikan  kesempatan untuk menjalankannya dengan duduk, jika pun dengan duduk juga tidak mampu, maka  dapat dijalankan dnegan berbaring, lalu dnegan telentang dan denganisyarah . Itu smeua menunjukkan bahwa ibadah shalat itu merupakan ibadah yang istimewa  yang harus dijalankan.

Keistimewaan shalat juga dapat dilihat dari sisi perintah yang secara langsung diberiakn oleh Allah swt pada saat nabi Muhammad saw sedang perjalanan isra’  dan lalu mi’raj ke sidratul muntaha. Demikian juga keistimewaannya juga dapat dilihat dari isyarat nabi Muhammad saw bahwa  shalat itu merupakan hal yang pertama kali akan ditanyakan di akhirat oleh Allah swt sebelum pertanyaan yang lain. Lalu sikap kita  tentu harus  konsen terhadap ibadah shalat etrsebut, kapan pun di manapun dan dalam kondisi begaimanpun.

Kita smeua memang mempunyai tanggung jawab individual yang terkait dnegan perintah Allah swt yang harus jika jalani, sebab kalau tidak kita taati, pastinya kita akan emndapatkan balasan siksa dan itu tentu tidak masuk akal jika bebannya dilemparkan kepada pihak lain. Kita diperintah oleh Allah swt untuk berbuat kebajikan, maka  kebajikan yang kita perbuat itulah yang akan menjadi kepunyaan kita dan bukan kebajikan yang dilakukan oleh pihak lain. Sebagaio gambarannya ialah jika kita sendiri  tidak baik dengan tetangga, sedangkan anak kita sangat baik kepada mereka, maka yang akan mendapatakn  kebaikan ya anak kita, bukan kita.

Kita juga  diperintahkan untuk selalu banyak membaca alquran, berdzikir, menjalankan shalat, puasa dan bersedekah serta perintah lainnya. Itu pastinya berlaku secara indoivisual, bukan lainnya, sehingga ketika kita menjalani dengan baik, maka kitalah yang akan mendapatkan balasan kebaikan, dan jika kita tidak menjalaninya, maka kita juga yang  akan mendapatykan balasan yang setimpal. Karena itu kita harus membiasakan diri untuk ebrbuat yang terbaik, bukan mengandlkan kepada pihak lain.

Mungkin saja kita dapat mendapatkan manfaat dari pihak lain, semacam, anak anak kita yang mendoakan kepada kita untuk ampnan dari Tuhan misalnya, tetapi sekali lagi untuk amalan kebajikan tentu harus kita sendiri yang menjalaninya.  Sama halnya dengan ketika kita berbuat sesuatu yang melanggar hokum, tentu kita sendiri yang akan emmeprtanggungbjawabkannya, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Tidak bisa kita mengalihkan tanggung jawab kepada pihak lain, meskipun dengan imbalan tertentu.

Karena itu terkait dengan perbuatan yang menghasilkan pahala ataupun dosa masing masing tentu akan bertanggung jawab secara individu. Jika berbuat kesalahan dan dosa saat di dunia, maka akibatnya nanti di akhirta dia juga harus menanggung dosanya, bukan pihak lainnya, sebaliknya juga jika dia menjalankan perbuatan baik dan mendatangkan pahala, maka dia sendiri yang akan menikmatinya bukan orang lain. Hal yang dapat kita lakukan saat di dunia ini ialah dnegan mengajak kebaikan kepada siapapun agar kita mendapatkan kebaikannya.

Kalaupun kemudian ada seorang anak yang baik lalu ingin membuat orangtuanya bahagia dan mendapatkan  banyak pahala, meskipun mereka sudah meninggal, maka satu satunya jalan ialah dnegan mendoakan kepada mereka agar segala dosanya diampuni dan seluruh amal baiknya diterima dan diganjar. Itu disebabkan setelah seseroang meninggal dunia segala amal perbuatannya akan menjadi terputus sehingga tidak mampu mendapatkan pahala lagi, walaupun kemudian dibacakan alquran lalu dimintakan agar pahalanya diberikan kepada  yang sudha meninggal dunia.

Pahala akan terus mengalir jika seseorang saat hidupmnya melakukan amal jariyah, semacam membangun masjid atau tempat ibadajh dan pendidikan lainnya yang masih terus dimanfaatkan oleh banyak orang, maka  dia masih akan mendapatkan pahalanya. Aatau kalau dia pernah berbuat amal  dengan mengajarkan ilmunya kepada pihak lain sehingga pihak lain tersebut mengajarrkannya legi kepada pihak lainnya dan begitu seterusnya, tentu dia yang awal mula mengajarkan ilmu etrsebut masih akan mendapatakn manfaat dan ganjarannya, atau anak baik yang selalu mendoakannya.

Karena itu bagi kita yang masih diberikan kesempatan hidup di dunia ini kiranya harus mengerjakan tiga tiganya atau salah satunya agar nanti pada saat kita sudah meninggal masih tetap emndapatkan pahala atau manfaat yang kita lakukan. Amal jariyah itu cukup banyak bahkan yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, seeprti membangun rumah sakit, pendidikan  dan juga peribadatan atau sarana lainnya yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Jadi amal jariyah itu bukan saja membangun masjid semata.

Lalu mengajarkan ilmu pengetahuan kepada pihak lain, terutama ilmu tentang agama sehingga masyarakat mampu mengetahui  agamanya dnegan baik dan lalu melaksanakannya dengan baik pula. Terakhir kita harus mendidik anak anak kita dengan baik, dan emmperkenalkan mereka tentang agama dengan ebnar serta mengamalkan  agama tersbeut dnegan benar pula sehingga mereka akhirnya akan menyadari tentang pentingnya mendoakan kepada orang tua setiap saat. Jika anak anak kita baik dan mau mendoaan kebaikan untuk kita , maka satn kita sudha berada di alam barzah sekalipun kita masih akan mendapatkan kemanfaatannya.

Semoga kita akan menyadari masalah ini dan kemudian kita mau menjalankan kebaikan dan kewajiban kita  dan tidka mengandlkan kepada pihak lain yang memang bukan porsinya. Sekaligus kita akan mampu menjadikan keluarga kita sebgai keluarga yang harmonis dan dipenuhi oelh kasih dan saying serta rahmat Allah swt. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.