MENJADI LEBIH BIJAK

Secara ideal apa yang kita inginkan setelah ramadlan akan dapat kita wujudkan, namun ada persyaratannya, yakni keinginan kita sendiri dan keharusan untuk berusaha untuk itu, sebab tanpa ada keinginan diri dan usaha menuju ke sana,  maka harapan tersbeut hanya sebuah ilusi yang tidak mungkin akan dapat diraih. Puasa telah mengajarkan banyak hal baik kepada kita, namun sayangnya masih banyak diantara kita yang tidak mau mengabil pelajaran darinya. Akibatnya  sesuatu yang sudah disediakan  menjadi sia sia  tanpa manfaat seikitpun.

Banyak sifat baik yang ditawarkan oleh puasa atau ramadlan, semisal sabar dalam menghadapi apapun, karena latihan  selama ramadlan memungkinkan kita untuk menjadi sabar dan tahan uji terhadap semua kondisi. Hanya mereka yang mau dan peduli saja yang akan mendapatkan kesabaran tersbeut, sedangkan mereka yang emmbiarkannya begitu saj pastinya tidak akan mendapatkannya. Apalagi kalau selam puasa juga tidak melatih dirinya untuk bersabar, semacam masih mengumbar emosi terhadap sesuatu yang sepele.

Biasanya hal yang menyebabkan orang tidak tahan uji terhadap kesabaran ialah karena masih  menjadikan egonya sebagai sesuatu yang paling harus dihormati oleh siapapun. Ego pribadi kalau diikuti keinginannya memang akan membuat orang berbenturan dengan pihak lain, karena itu seharusnya  saat berpuasa kita akan mampu mengendalikan ego kita untuk tidak menguasi diri kita. Ego itu identic dengan nafsu diri yang ingin mendapatkan sesuatu dan tidka boleh dikalahkan oleh kepentingan apapun dan siapapun.

Memang ada  sifat sabar yang diberikan secara langsung saat menjalni puasa, yakni pada saat ingin makan buka, sebelum maghrib tiba kita meang harus sabar menunggunya dan siapapun rupanya tidak berani berbuka sebelum adzan maghrib dikumandangkan. Namun terkadang hanya garab gara masalah sedikit, lalu  emosinya  memuncak dan tidak sabaran untuk menghardik atau bahkan menyakiti pihak lain. Ketersinggungan egonya memang menjadi sangat kuat untuk  menjadikannya emosi dan  marah.

Demikian juga sifat disiplin akan dapat diperoleh pada saat berpuasa. Namun  dalam kenyataannya kita sering juga menemukan orang yang berpuasa malah tidak disiplin, termasuk disiplin waktu, meskipun ada juga disiplin yang secara langsung dijarkan dalam berpuasa.  Masih banyak diantara merka yang berpuasa namun kerjanya menjadi molor, bahkan juga ada yang dengan berbagai alasan akhirnya tidak masuk kerja dan lainnya.

Sifat peduli kepada pihak lain juga seharusnya dapat muncul dari orang yang berpuasa, karena dengan perasaan lapar dan dahaga, seharusnya  dapat berpikir bagaimana kalau mereka yang selalu dalam kondisi kelaparan dan tidak mempunyai harapan. Dengan perenungan yang kuat diharapkan akan memunculkan kondisi sadar dan kemudian disusul dengan sikap ingin berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Jika sifat empati tersebut sudah muncul menjadi  sebuah  kesadaran, maka diharapkan  sifat etrsebut akan memacu keinginan selanjutnya yakni mengentaskan orang yang menderita.

Masih banyak lagi yang dapat digapai saat kita menjalankan puasa yang kita juga dapat menyampaikannya secara lebih jelas. Usaha kita untuk mengubah diri menjadi sosok yang lebih baik tentu juga akan dapat diraih jika kita memang  berniat untuk itu. Sekali lagi semua tergantung kepada diri kita masing masing, karena untuk mengubah diri tentu mebutuhkan keseriusan  ayng tidak main main. Jika niat kita tidak kuat, maka jangan berharap akan memperoleh sesuatu yang diinginkan.

Mengubah diri bukan dalam arti tampilan lahir, melainkan yang lebih penting ialah bagaimana kita mengubah watak kita sendiri. Artinya  bagaimana kita mampu mengubah dari kikir menjadi dermawan, dari malah menjadi  aaktif, dari  emosian menjadi penyabar, dari uring uringan menjadi disiplin diri, dari  acuh tach menjadi empati dan lainnya. Memang tidak mudah untuk mengubah watak, karena kebiasaan yang sudah mengakar dalam diri kita pastinya akan selalu muncul kembali meskipun sudh kita kubur dalam dalam.

Mungkin jalan terbaik untuk tujuan tersebut ialah jika kita mau menghapus seluruh memori kita dan memulai hal yang barui sama sekali berdasarkan pengalaman selama menjalankan ibadah p[uasa. Kita yakin bahwa jika kita mau melakukan hal tersbeut, sedikit banyak akan dapat membantu untuk mewujudkan perubaghan tersebut. Yakinlah bahwa kalau memori dalam diri kita tidak kita hapus, pasti pada saatnya akan muncul dan merusak rencana yang sudah kita  tuangkan, sehingga apapun yang kita inginkan akan  mentok di tengah jalan.

Manusia itu  makhluk social yang sangat mungkin untuk berubah, termasuk berubah menjadi baik, namun  harus ada keingiann yang kuat dari diri sendiri, dan didukung oleh lingkungan yang sangat baik. Rencana sebaik apapun kalau kemudian dikembangkan di dalam lingkup lingkungan yang tidak kondusif, maka  akan sulit juga dijalankan. Kita juga harus paham bahwaa untuk berubah menjadi baik itu sedikit lebih sulit ketimbang untuk berubah menjadi buruk. Itu sudah pasti karena untuk berubah menjadi buruk akan dengan sangat mudah dan bahkan dengan sendirinya, sedangkan untuk berubah menjadi baik tentu harus didahului adnya niat yang baik dan tulus.

Kemudian juga tekat yang kuat serta lingkungan yang mendukung. Kita sudah seringkali membuktikan bahwa lingkungan memang mempunyai peran yang sangat kuat dalam emngubah diri seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknay emnjadi lebih buruk. Karena itu untuk mengubah diri kita, selain mengupayakan untuk menjalankan berbagai kebajikan, sekaligus juga berusaha untuk melupakan sesuatu yang buruk yang pernah menimpa kita. Trauma  mengalami keburukan tentu akan sangat mempengaruhi jiwa  dan pikiran kita dan jika tidak kita hapuskan memorinya, pasti akan sangat berat untuk mengusirnya.

Kisah perubahan yang snagat menonjol dalam wartak seseorang biasanya terjadi di pesantren. Yakni manakala ada  seorang yang sangat binal dan nakal, lalu dia  dititipan di pesantrean untuk dibina menjadi lebih baik, awalnya memang sangat berat, karena  semua kegiatan adalah sesuatu yang selama ini dibencinya. Namun  akhirnya  dia merasa terpaksa untuk menjalani hidupnya yang saat ini, namun seiring dnegan berjalannya waktu dia  ternyata semakin  akrab dengan dunia santri etrsebut. Jadilah dia  sebagai orang yang mel;akukan sesuatu secara terpaksa, namun lama kelamaan  dunia yang sudah berubah tersbeut memang harus dijalaninya.

Setelah berada di dalam pesantren untuk beberapa saat atau bulan, maka dia sudah dapat merasakan betapa dunia tersebut juga sangat mengasyikkan. Keterpaksaan bangun malam dan langsung shalt malam ternyata  menjadi sesuatu yang ngangeni sehingga dia  semakin merasakan betapa hidup santri yang dmeikian itu  tidak terlalu menyakitkan dan keterpaksaan yang dahulu dirasakan sudah menghilang sama sekali.

Beberapa bulan berikutnya saat dia harus pulang kampong untuk sekedar menengok kampong halamannya,  semua orang sudah melihat perubahannya yang signifikan menuju kesempurnaan hidup. Bhakn cara bicaranya juga sudah sama sekali laindengan sebelumnya yang cenderuny sombong dan meremahkan orang. Orang tuay tentu yang pertama kali merasakan kebanggan terhadapnya karena perubahan etrsbut memberikan harapan masa depan yang cerah dan menjanjikan.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.