PERLU KOORDINASI DAN PENYATUAN HALAL BI HALAL

Mungkin kita merasakan betapa hamper seluruh waktu saat ini tersitan unutuk halal bi halal, karena  hamper setiap hari sejak mulai masuk kerja, ada saja kegiatan halal bi halal. Kalau digambarkan semisal  di perguruan tinggi, maka ada halal bi halal yang level universitas dan diikuti oleh seluruh warga kampus, lalua ada halal bi halal level fakultas, sehingga semua fakultas  mengadakannya dan juga mengundang hamper seluruh warga, belum lagi mahaisa juga mengadakannya.

Tidak cukup yang di dalam, melainkan juga undangan halal bi halal yang datangnya dari luar juga tidak kalah banyaknya, baik itu dari propinsi, kota, dari instansi, dari sekolah dan dari kelurahan serta kecamatan, bahkan juga  lembaga pemeasyarakatan dan lainnya. Mungkin ada diantara kita yang akan dengan mudahnya menjawab bahwa  cukuplah diucapkan terima kasih dan tidak usah didatangi, namun jika kita sudah mengalami pertemanan dan juga hubungan kedinasan, mungkin kita tidak akan dapat mengatakan dmeikian, karena semua menjadi penting untuk didatangi.

Belum lagi ada undangan halal bi halal tingkat kementerian yang harus didatangi juga, meskipun jika kita ijin untuk tidak mendatanginya juga dapat dimaklumi, namun terkadang kita juga merasa penting untuk bertemu karena akan sangat sulit mencari waktu tersendiri  untuk dapat bertemu dnegan mereka. Itulah mengapa terkadang kita secara ideal dapat mengatakan dan mel;akukan sesuatu, namun setelah menjalannya sendiri menjadi sangat sulit untuk menghindar.

Terkait dengan pelaksanaan halal bi halal dalam kampus, mungkin  ke depan dapat dikoordinasikan sehingga  mungkin cukuiplah dilaksanakan di tingkat universitas saja, karena substansisnya sudah kena. Halal bi halal di level fakultas memang dipandang  masih perlu dilaksanakan oleh pimpinan fakultas karena ada factor kesejarahan yang sulit untuk diabaikan, sehingga smeua fakultas akhirnya menyelenggarakannnya sendiri sendiri dan itulah yang kemudian menyita banyak waktui para pimpinan di tingkat universitas karena mereka biasanya diundang untuk menghadirinya.

Setidaknya kalau hal tersebut dikoordinasikan, mungkin pelaksnaannya dapat dibarengkan sehingga tidak menyita banyak waktu. Artinya  setelah ada halal bi halal di tingkat universitas, lalu selang satu hari di tingkat fakultas tetapi pelaksanaannya serentak sehingga cukup disediakan waktu satu hari saja. Sementara itu untuk undangan halal bi halal yang dari luar tentu kita tidak dapat mengaturnya, hanya saja diharapkan mereka akan mengundang tidak pada hari hari efektif setelah lewat hari ke sepuluh.

Mungkin juga diperlukan sebuah regulasi yang menghimbau bahwa instansi  yang menyelenggarakan halal bi halal sebaiknya di bawah hari ke sepuluh dari idul fitri sehingga tidak akan banyak mengganggu aktifitas resmi dari instansi. Meskipun itu hanya sebuah himbauan, namun jika dibuat secara tertulis insya Allah juga akan sedikit manjur, apalagi kalau yang membuat itu pihak kementerian atau gubernur di wailayah masing masing.

Atau kalau memungkinkan malah diselenggarakan secara internal pada hari tidak efektif seemacam sabtu ataupun minggu sehingga akan lebih leluasa dengan berbagai hiburan yang inginkan. Bahkan jika dikellola dengan baik, maka halal bi halal yang dmeikian akan lebih produktif karena dapat dilaksanakan bersama dengan seluruh keluarga masing masing dan mungkin juga  dengan berbagai tawaran untuk hal hal positif yang memberikan keuntungan kepada para hadirin.

Saat ini harus diakui bahwa halal bi halal meskipun ada kaitannya dengan ramadlan, namun sudah menjadi milik bangsa dan tidak monopoli umat muslim, buktinya  mereka yang beragam lain saat ini juga sudah menyelenggarakan halal bi halal, karena  acara ini dapat dijadikan sebagai saran untuk mengumpulkan orang dan sekaligus bermafaa maafan serta  menjalin kebersamaan diantara anggota komunitas beserta keluarga. Awalnya kita memang terkejut saat diundang oleh komunitas kaum nasrani misalnya yang mengundang acara halal bi halal, namun  saat ini hal; tersebut sudah dianggap lumrah dan biasa.

Dengan begitu tradisi halal bi halal tersebut memang sudah  dianggap baik dan memberikan manfaat bagi warga tanpa terkecuali dan tanpa memandang keyakinan mereka. Pantas aaja kelau kemudian  seluruh umat berkeinginan menyelenggarakannya. Hanya saja mungkin terkait dengan waktu pelaksanaannya saja yang perlu diatur sehingga tidak akan mengganggu kegiatan wajib yang seharusnya  diprioritaskan. Jika kita menghendaki, maka smeua dapat dilakukan dengan tanpa merugikan pihak manapun.

Sebagai bagian dari umat muslim tentu kita menjadi bangga dengan diakuinya  halal bi halal sebagai milik bangsa dan bukan hanya milik umat muslim, karena itu merup[akan kontribusi nyata dari Islam untuk bangsa Indonesia. Tradisi halal bi halal memang sangat strategis untuk membangun sebuah perdaban yang unggul karena  saat itulah kita akan mamp[u menyatukan semua perbedaan dan kepentingan. Dengan halal bi halal kita akan mampu menarik semua kepentingan menjadi satu tujuan mulia yakni bersatu untuk membangun bangsa secara bersama sama tanpa beban dosa yang biasanya akan emnjadi ganjalan.

Inti dari halal bi halal ialah saling memaafkan diantara sesame dan itu sangat bagus serta mengandung filosofi penting bahwa kita semua sebagai umat manusia memang harus emnyadari kelemahan dan ekkurangan masing masing sehingga untuk tujuan yang mulia kita harus saling emmeaafkan dan bekerja sama . Kita harus meninggalkan smeua  kata yang tidak baik, ujaran kebemncian, perrasaan dendam dan bahkan keinginan untuk melakuka  hal hal yang emmbahayakan pihak lain.

Bangsa ini akan dapat dibangun hanya dengan kebersamaan dan persatuan yang kokoh. Nah, melalui halal bi halal inilah momentum yang sangat tepat untuk membangun kebersamaan tersebut. Harapan selajutnya ialah kita akan dapat bersaam melakukan ebrbagai terobosan dan upaya memajukan  sesuatu yang kita harapkan, baik itu kehidupan secara individual maupun secara bersama dan juga institusi yang kita berada di dalamnya. Kita menyadari bahwa hanya untuk sekedar meminta maaf kepada  kawan pada saat  tertentu saja  agak berat, namunpada saat momentum halal bi halal tentu tidak ada yang berat untuk memaafkan kesalahan dan kekhilafan masing masing pihak.

Kembali kepada persoalan awal bahwa untuk pelaksanaan hala bi halal tersbeut perlu dikoordinasikan sehingga   ada banyak kesempatan untuk dapat kita gunakan untuk hal hal lain yang lebih  memberikan harapan. Bukan berarti halal bi halal tidak emmberikan manfaat, melainkan jika dilaksanakan setiap[ hari maka itu  sama dengan menghabiskan waktu hanya untuk hal yang sama dan itu tentu tidak efektif dan tentu juga bukan keputusan yang bijak kalau dapat dijalankan secara lebih efektif.

Unrtuk itu  sekali lagi perlu dipikirkan ke depannya untuk  pengaturan yang lebih baik dan  efektif sehingga  maish tersedia waktu yang dapat kita gunakan untuk hal lainnya yang mungkin lebihbermkana untuk kepetniangan institusi kita dan meraih prestasi yang lebih baik lagi. Kita yakin bahwa kita akan mampu menjalaninya dengan lebih baik lagi di tahun depan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.