PUASA SYAWWAL

Masyarakat sekarang rupanya sama sekali tidak tertarik untuk membicarakan  puasa  setelah lebaran, yakni puasa enam hari di bulan syawwal, tidak sebagaimana masyarakat zaman dahulu yang terbiasa membicarakan puasa syawwal tersebut. Bahkan untuk saat ini, jangankan untuk berpuasa  enam hari bulan syawwal, untuk menyelesaikan puasa ramadaln yang wajib saja banyak yang merasa kewalahan dan terpaksa. Namun masih perlu disyukuri bahwa meskipun terasa berat dan terpaksa untuk ramdlan, tetapi nyatanya mereka tetap menjalaninya hingga akhir bulan.

Ini tentu jika kita berpikir positif dan tidak  melihat sisi negatifnya. Sebab kita juga melihat adanya sebagian orang yang mempermasalahkan mereka yang terpaksa menjalani puasa ramadlan. Memang mereka  mungkin sudah dalam tingkatan yang lebih tinggi, sehingga semua amalnya harus didasarkan kepada sebuahn keikhlasan, bukan karena ketepaksaan. Namun sekali lagi dalam perspektif lain, kita tetap harus ebrbangga yakni kalauipun mereka merasa terlksa, tetapi masih tetap mau menjalani. Itu artinya mereka masih ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang dijanjikan oleh Allah swt.

Terkait dnegan puasa enam hari di bulan syawwal, memang ada hadis Nabi yang menjelaskannya dan memberikan sebuah motivasi yang sangat luar biasa, yakni barang siapa berpuasa ramdlan dan kemudian ditambah dnegan puasa enam hari di bulan syawwal, maka  seakan dia berpuasa satu tahun penuh. Motivasi dalam beribadah di dalam islam itu sudha menjadi sebuah kelziman, karena biasanya manusia itu mempunyai sifat bosan sehingga diperlukan semangat untuk memompa spirit agar kembali sebagaimana semula.

Ambil contoh misalnya pada saat  Allah memerintahkan untuk berpuasa  sebulan penuh dan kemudian malamnya juga disunnahkan untuk shalat tarawih dan amalan baik lainnya, maka biasanya ketika sudah sampainkepada pertengahan, ada rasa bosan atau enggan untuk menjalaninya sebagaimana pada saat awal ramadlan. Contoh kongkrit yang dapat kita saksikan ialah  pada sikap anak anak yang pada awal ramadlan begiotu antusias mengikutio shalat tarawih, namun kemudian semakin akhir akan semakin berkurang.

Nah oleh karena itulah kemudian Islam memberikan motivasi kepada umat agar bertambah gairahnya di pengjhujung bulan, yakni dnegan dihadirkannya malam lailatul qadar yang nilainya melebihi seribu bulan. Ini tentu merupakan  motivasi yang tidak tanggung tanggung dan lailatul qadar tersebut diberikan oleh Allah pada  sepuluh malam terakhir ramadlan, sehingga dengan  demikian masyarakat muslim bukannya akan semakin mengendor di akhir ramadlan, melaionkan justru malah akan semakin trengginas menjalankan ibadah di akhir tersebut.

Pada saat  manusia sedang enak enaknya beristirahat tidur malam, lalu Allah juga emmberikan motivasi yang begitu besar untuk menjalankan shalat tahajjud malam hari, karena  siapapun yang mau menjalankannya maka Allah akan memberikan tempat yang layak dan terpuji kepadanya. Dan tentu masih banyak lagi cerita tentang pemberian motivasi oleh Islam agar umat melakukan pekerjaan ibadah dengan semangat tinggi, meskipun secara manusiawi akan mengendor disebabkan oleh kondisi yang menyertai manusia itu sendiri.

Jadi bagaimanapun manusia itu memerlukan motivasi tertentu untuk mampu menjalankan sebuah perintah yang mungkin terasakan beratnya. Motivasi tersebut dimaksudkan agar ada semangat baru yang timbul sehinga pelaksanaan ibadah etrsebut dapat berjalan dengan baik dan  tidak ada rasa ogah ogahan serta malas. Biasanya orang akan tidak menyukai memberikan  sebagiaan hartanya kepada orang lain yang tidak ada hubungan apapun dengannya, namun Islam memberikan motivasi agar manusia mau memberikan sebagian rizkinya kepada orang lain yang membutuhkan, karena itu akan semakin membuatnya dibukanakan pintu rizki yanglebih luas dan diberikan balasan yang berlipat ganda.

Bahkan sering juga disertai sebuah  ancaman bahwa jika tidak emnjalankan sesuatu yang diperintahkan, akan mengalami keburukan dan mendapatkan kesulitan, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sebuah surat di salah satusurat alquran Allah bahkan memberikan cap kepada manusia sebagai pembohong jika dia  menyia nyiakan anak yatim dan membiarkan orang miskin tidak diberikan bantuan dan jalan keluar, meskipun  orang tersebut menjalankan ibadah individual  dengan baik, sepeti shalat lima waktu, haji dan umrah setiap waktu, mungkin juga beribah lainnya.

Semua itu dimaksudkan agar manusia mau peduli kepada sesamanya dan menolong sesamanya. Karena pada hakekatnya smeua harta yang dia punyai itu hanyalah titipan Allah swt, karena itu sewaktu waktu Allah memintanya untuk dikembalikan, maka harus dilakukan. Cara Allah meminta kembali harta tersebut dapat dilakukan melalui tangan orang orang miskin, anak anak yatim, yang itu hakekatnya adalah  tangan Allah untuk meminta kembali harta yang dipinjamkan kepada kita. Untuk itu kita tidak boleh menolak jika ada orang msikin meminta minta kepada kita, dan anak yatim yang dating kepada kita.

Persdoalannya ialah  mampukah kita menyadari hal tersebut sehingga kita dengan mudah dan rela memberikan  harta yang kita miliki untuk orang yang memang benar benar membutuhkan. Karena itu kita memang harus lebih banyak belajar untuk merenungkan semua  sifat Allah dan mencoba untuk memahaminya sedemikian rupa sehingga kita akan lebih mampu untuk mencerna  semua kondisi yang kita alami di dunia ini.

Kekuranga kita yang mencolok saat ini ialah kita belum mampu untuk memahami hakekat sesuatu terkait dengan kehendak Allah swt. Kita diberikan rizki oleh Tuhan, dan kita sama sekali tidak mengetahui untuk apa sesungguhnya Tuhan emmberikan itu semua kepada kita  dan bukan kepada orang lain.  Jika kemudian kita mampu merenungkan hal etrsbeut dan tiba pada kesimpulan bahwa kalau begitu kita memang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi perantara menyampaikan  amanah rizki etrsebut kepada orang lain yang membutuhkan.

Kalau kita mampu memahami hal tersbeut, tentu kita akan semakin mempercayai Allah dan akan lebih bersyukur karena ternyata Allah memilih kita untuk menjadi perantara dan dan penyampai tentang amanah harta yang dititipkan oleh Nya kepada kita. Namun  kebanyakan diantara kita memang tidak sampai bnerpikir ke situ dan hanya mau menikmati harta dan rizki yang kita peroleh saja, bahkan tidak sedikit yang kemudian menganggap semua yang kta peroleh adalah atas usaha kita sendiri. Inilah yang berbahaya yang sudah emniadakan keberadaan Allah swt. Kita berharap agar kita dihindarkan dari pemikiran yang demikian, karena pasti nantinya akan merugikan diri kita sendiri.

Kembali kepada puasa syawwal yang saat ini sudah tidak banyak dijalankan oleh umat ini, kita tetap berharap masih ada orang orang yang mau melaksanakannya karena kebaikannya sungguh sangat banyak. Kalaupun kita tidak mau menjalankannya, sebaiknya kita tidak berpendapat bahwa puasa syawwal itu sebaiknya tidak dijalankan, karena  kita tahu ada sebagian orang yang sudah mulai mengatakan bahwa sebaiknya masyarakat muslim tidak menjalankan puasa syawaal, karena  dikhawatirkan akan emngganggu silaturrahim masyarakat.

Memang ada pendapat yang mengatakan puasa syawwal itu harus dimulai di hari kedua sampai ke tujuh sehingga pada saat masih banyak tamu di lingkungan kita lalu malah berpuasa, makanya kemudian lalu disarankan untuk tidak berpuasa syawwal. Padahal puasa syawwal itu boleh dijalankan kapan saja asalkan masih di bulan syawwal dan pelaksanaannya juga tidak harus menerus. Mari kita  tetap sarankan kepada masyarakat untuk menjalani puasa enam hari syawwal tersbeut agar kegemaran berpuasa umat akan tetap terpelihara, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.