MERAIH KEBAHAGIAAN SEJATI

Puasa sekali lagi dimaksudkan  agar semua orang beriman akan mendapatkan status muttaqin  yang sebenarnya, yakni selalu dihiasi oleh sifat baik dan ingin berbuat yang terbaik bagi dirinya dan bagi umat serta lingkungannya. Dengan begitu jika  ada orang berpuasa lalu menunjukkan sikap dan perbuatan yang mengarah kepada ketiodak baikan, tentu harus segera diingatkan agar tidak terus menerus dalam kesalahan arah dan tujuan.  Orang mukmin itu satu dnegan lainnya bersaudara sehingga mereka harus saling mengingatkan dan berwasiat yang terbaik dan sema asekai tidak saling menghujat dan memperolok.

Ajaran agama kita  mengajarkan bahwa orang yang berpuasa hendaknya berprilaku yang sangat baik, menjaga lisannya agar tidak berbicara yang buruk dan juga menjaga anggota tubuh lainnya agar tidak melakukan hal hal buruk yang hanya akan menghilangkan pahala puasa. Jangan sampai orang yang seang berpuasa justru malah memprovokasi pihak lain untuk melakukan aksi yang tidak terpuji dan  dalam kerangka melakukan hal hal lain yang berpmuara kepada  terciptanya  kondisi chaos dan merugikan masyarakat.

Biasanya seorang tokoh menyarankan dan memprovokasi massa disebabkan oleh adanye kepentingannya yang tercabik oleh keadaan sekitar lalu dia akan melakukan aksi sendirian juga tidak mampu, lalu  dia melakukan provokasi tertentu dengan melakukan pwembelokan arah yang seolah membela agama tertentu, padahal itu hanyalah jualan  agar laku dan tega menggunakan tameng agama sebagai  sarananya. Sungguh amat tega mereka itu untuk menjadikan agama sebagai mainan belaka.

Secara ideal kita memang masih harus menunggu waktu yang cukup lama dahulu, karean pernagkat untuk menuju kesana rupanya masih terlalu kurang. Untuk itu apa yang dapat kita persiapkan saat ini ialah dengan cara membenahi diri kta masing masing melalui perilaku kita. Kebetulan saat ini kita juga sedang berada di bulan suci dan sedang menjalankan ibadah puasa, karena itu alangkah baiknya jika kita mulai dengan menjalankan semua anjuran selama  puasa dan berusaha untuk menjauhi semua larangan. Dengan begitu kita akan mempunyai sedikit modal untuk meraih kebahagiaan yang kita impikan.

Memang kalu secara lahir  saat ini kita sudah memperoleh kebahagiaan, yakni pada saat berbuka puasa, karena menurut sebuah riwayat dari Nabi, bahwa bagi orang yang menjalankan puasa itu akan endapatkan dua kebahagiaan, yakni pada saat ebrbuka puasa dan nanti di akhirat sata dapat melihat Allah swt. Namun sesungguhnya yang kita inginkan ialah kebahagiaan sejati  dan  bukan kebahagiaan lahir semata. Kebahagiaan sejati itu akan  semakin lengkap jika semua  keinginan kita dapat dipenuhi dan  kondisi hati serta pikiran kita juga tenang dan  puas.

Pada saat lebaran mungkin kita juga dapat merasakan kebahagiaan etrsebut, karena seluruh keluarga dan family berada di rumah dan kita dapat berbagi cerita dengan mereka, apalagi kalau bagi mereka yang sudah mempunyai cucu pasti kebahagiaannya akan semakin bertambah. Namun kebahagiaan etrsebut tentunya masih kita ketegorikan sebagai kebahagiaan lahir, sebab bisa saja dalam wakatu yang bersmaaan kiota masih memikirkan sesuatu yang seperti hilang atau mungkin kita masih ada kekosongan dalam pikiran sehingga belum mampu memenuhi kepuasan batin kita.

Hanya ketika kita sudah menjalankan ibadah puasa dengan semua yang mengirinya dengan baik, seperti menjalankan shalat tarawih, tahajjud,  hajat, dluha dan  tadarrus alquran serta sedekah kepada mereka yang lemah, tenu hati akan semakin tenteram dan itulah kiranya yang akan mendekatkan kita kepada kebahagiaan sejati. Dengan hati dan pikiran yang penuh dnegan ketenangan serta hanya berpikir tentang  Allah semata, maka pikiran tentang hal hal lainnya akan terkalahkan oleh pikiran tentang Tuhan, dan saat itulah kiranya kita menemukan status kondisi yang benar benar  bahagian lahir dan batin.

Namun sebalinya bagi mereka yang masih saja memprovokasi pihak lain untuk melakukan hal hal yang tidak kondusif, tentu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan sejati tersbeut, karena pasti hati dan pikirannya akan tersita untuk memikirkan bagaimana  dapat  memberikan efek negative kepada lawannya.  Pada saat umat sedang  tenang menjalankan ibadah puasa, tetapi  dia malah tidak terima dengan keputusan apapun, lalu berusaha untuk merusak suasana, maka dia pastui akan dikuasi oleh emosi dan nafsunya. Dan jika nafsu sudah berbicara maka hati tidak akan mendapatkan ketenangan itu tendanya kebahagiaan tidak akan pernah singgah di dalamnya.

Sesungguhnya merka itu harus dikasihani karena telah salah jalan, meskipun mereka sesungguhnya iorang yang tahu, namu karena  desakan  emosi dan nafsu, akhirnya  akalnya tertutup sehingga mereka sama sekali tidak beripikir rasional bahkan tidak mampu berpikir untuk menyelamatkan umat.  Sampai kapan pun  mereka akan terus dikuasai oleh nafsu dan tidak akan pernah puasa serta selalu akan mencari kesempatan untuk emmukul balik kepada mereka yang dianggap lawan.

Ini sungguh memperihatinkan dan sehartusnya segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar, namun biasanya ego mereka akan menghalanginya dan akhirnya mereka akn tetap dalam kondisi demikian. Beruntunglah bagi mereka yang bersikap biasa saja, karena mereka akan elbih mudah untuk emndapatkan kebahagiaan sejati, jika mau mengikuti  apapun yang disarankan oleh nabi Muhammad saw, khususnya  saat menjalankan ibadah puasa dan dilanjut dengan tetap menjalakannya setelah usai ramadlan nanti.

Kita memang tahu dan menyadari bahwa para politisi itu orientasinya ialah ekkuasaan bahkan terkadang juga tidak  membawa rasa malu, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa elit politik, yang saat ini  masih  mempunyai keinginan untuk tetap menjadi penguasa. Bayangkan saja  baru berapa hari yang lalu merek bersitegang dan asling “berantem” namun kemudian setelah ada  tanda tanda kemenangan pada salah satu pihak  lalu pihak lainnya dengan tanpa etika harus mendekat dengan  harapan tentu akan dapat bergabung dalam koalisi pemenang pemilu.

Apakah dalam politik tidak ada etikanya dan smeua dapat ditempuh meskipun harus dnegan meruntuhkan harga diri? Mungkin saat ini kondisinya sudha berubah seiring dnegan kepentingan yang semakin mendesak dan digadang gadang semua pihak, atau mungkin sudah ada orientasi lain dan  ada kondisi lain yang meungkinkan  siapapun dalam politik itu saha untuk melakukan apapun demi keuntungan diri atau partainya, entahlah kita semakin bingung dan dobuat tidak mengerti.

Kita yakin bahwa dalam kekuasan itu tidak akan ditemukan kebahagiaan sejati melainkan hanya kebahagiaan semua karena smeuanya diukur dari kepentingan dan bukan  diukur dengan hati nurani yang benar. Lalu kenapa banyak orang menginginkannya? Kenapa tidak ada diantara mereka yang beruaaha untuk mendapatkan kebahagiaan sejati meskipun melalui jalur politik? Pertanyaannya ialah masih adakah orang politik yang masih memperjuangkan akhlak dan kepentingan  umat secara serius?

Jawaban atas pertanyaan tersbeut tentu dapat diberikan dnegan  nada  membahagiakan, yakni “tentu masih banyak”, tetapi kenyataannya kita tidak pernah menyaksikannya. Lalu yang mampu memberikan kebahagiaan sejati tentu bukan melalui jalur politik, melainkan  jalur pendidikan dan pesantren.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.