MARI SALING MEMAAFKAN

Bangsa Indonesia  dahulu dikenal sebagai bangsa yang santun dan suka memaafkan sehingga tidak ada pertentangan atau pertengklaran, namun saat ini rupanya sudah berubah seratuis delapan puluh derajat bahwa bangsa ini  sepertinya sudah suka  berseteru dan saling menghujat, hingga untuk memaafkan saja  agak susah. Minta dan memberi maaf saja harus pada waktu tertentu, semisal pada saat idul fitri, sheingga kalau salahnya pada bulan syawwal, maka harus menunggu waktu sekitar satu tahun baru meminta maaf.

Saling memaafkan pada saat iduil fitri memang merupakan tradisi bagus dan harus dilestarikan, namun bukan berarti saat meminta dan memaafkan itu harus pada idul fitri, sama sekali tidak begitu, melainkan setiap saat jika kita merasa bersalah, sebaiknya cepat cepat meminta maaf dan bagi yang dimintai maaf tentu akan jauh lebih bagus  jika dengan ringan memberikannya, sehingga di dada kita sudah tidak tersisa dendam atau perasaan tidak nyaman yang hanya akan mengganggu saja.

Kalau toh saat ini kita merasa khilaf karena persoalan pemilu yang lalu ada ganjalan dan salah serta mungkin menyakitkan, maka  saat ini juga  sebelum ramadlan usai, sebaiknya saling memaafkan dan membang semua perasaan tidak baik. Kita tentu masih mengharapkan mendapatkan pahal puasa dan berbagai macam aktifiotas ibadah kita. Nah, tentu akan jauh lebih utama dan mulia jika di dalam hati kita juga sudah bersih dari noda dan salah dengan kawan sendiri. Jalan tersebut masih sangat etrbuka hingga saat ini, yakni meminta dan memberikan maaf dengan penuh  kesungguhan dan ketulusan.

Bukankah Allah swt sendiri sesungguhnya Maha Pengampun, lalu kenapa kita yang tidak berdaya apapun harus menyimpan dendam dan tidak mau memaafkan? Nabi  Muhammad saw sebagai utusan Nya juga selalu memaafkan kesalahan siapapun, termasuk mereka yang memosisikan diri sebagai musuh sekalipun. Ingat banyak cerita  tentang akhlak Nabi yang  tidak pernah dendam atau sakit harti meskipun selalu saja dihina dan dicaci. Bahkan kemudian banyak diantara mereka yang sebelumnya sangat membencinya, kamudian dengan rela hati berbalik mengikuti dan masuk  Islam.

Lalu ada apa dengan diri kita yang mengaku sebagai umatnya tetapi kemudian memosisikan diri berbalik dengan sikap beliau yang santun dan selalu andap asor. Apakah pantas bagi kita  kalau ikutan kita saja selalu memaafkan kesalahan orang lain,  orang yang tidak mau memberikan maaf bahkan kepada siapapun yang meminta maaf. Harusnya kita merasa malu dengan posisi kita tersebut. Jika masih ada sisaa perasaan yang tidak nyaman di dalam diri kita, maka seharusnya kita mampu blajar untuk memberikan maaf, meskipun untuk pertama kalinya masih disertai dengan keterpaksaan.

Jika memberikan maaf tersebut te5rus disampaikan, maka lama kelamaan pasti akan terbiasa dan itu bukan lagi masalah karena ternyata setelah memberikan maaf hati dan pikiran menjadi sangat lega dan nyaman. Nah, karena itu sejak saat ini seharusnya kita dapat memulai sesuatu yang baik yang telah dicontohkan oleh junjunagn anbi Muhammad saw dalam  perjalanan hidupnya. Jika kita mau mencontoh uswatun hasanah yang sudah diberikan, maka kemungkinannya ialah bahwa kita akan menjadi lebih baik dan lebih mampu untuk memberikan dan memerankan diri sebagai orang yang bijak.

Memberikan maaf itu tidak perlu mengeluarkan ongkos sehingga seharusnya dapat dilakukan dengan mudah, namun  biasanya kalau ego dan nafsu sudah  berkolaborasi menguasai diri, maka kekuatan hati dan pikiran akan terkalahkan. Akibatnya  untuk sekedar memberikan maaf saja pasti akan sangat berat, bahkan  inginnya hanya  akan mencari musuh dan menyingkirkan smeua orang yang dianggap sebagai rival. Segaralah sadar dengan posisi tersebut karena kalau kiota sudah dikalahkan oleh musuh kita, yakni nafsu yang memang sengaja disetir oleh musuh abadi kita, yakni setan, maka semuanya akan berantakan.

Mungkin kita sama sekli tidak menyadari hal tersebut, akan tetapi pada saatnya pasti kita akan  mengetahui bahwa kita telah diperdaya oleh musuh kita yang sesungguhnya yakni setan dan kita sudah tidak mungkin lagi dapat kembali kepada kondisi awal. Untuk itu mumpung saat ini kita masih emmpunyai waktu dan kesempatan, lakukanlah yang terbaik dan mengusir semua kejahatan dengan terus mengedepankan hati nurasi dan dipandu dnegan keimanan serta terus berusaha memohon diberikan taufiq dan hidayah dari Allah swt, agar kita mampu untuk tetap menjadi orang yang baik, yang taqwa  dan selalu mengikuti teladan Rasul.

Pada saat ini, setelah semuanya sudah selesai, yakni pesta demokrasi sudah selesai dan mungkin masih ada sedikit ganjalan yang masih akan segera diselesaikan, tentu kita harus kembali kepada  kondisi semula sebagaimana sebelum pemilu. Artinya  kita harus kembali kepada habitat masing masing untuk meneruskan  pekerjaan kita yang mungkin sedikit terabaikan. Momentum  bulan suci ini juga  sebaiknya kita gunakan untuk merenung dan berusah memperbaiki diri sambil terus berupaya menjadikan diri kita  sebagai umat terbaik karena mampu merengkuh keberkahan ramadlan.

Kita perbaiki hubungan dengan sahabat yang sempat sedikit merenggang akibat pemilu yang lalu. Untuk apa kita pertahankan  kondisi tidak nyaman diantara kita, toh smeuanya sudah terjadi dan tidak akan kembali lagi. Jika kita ingin mengulangnya maka tungguilah lima tahun ke depan dengan persiapan yang lebih matang.  Kegagalan  pada pemilu kali ini janganlah dijadikan sebagai pemicu untuk membenci pihak lain, melainkan untuk evaluasi diri agar ke depan  akan menjadi lebih baik dan sukses.

Namun bagi kita kebanyakan umat yang tidak terkait dnegan pemilu secara langsung, sebaiknya memang segera melupakan apapun yang terjadi padav saat proses pemilu tersebut. Mungkin pilihan kita berbeda dan pilihan kita justru yang mengalami kekalahan, namun kita harus tetap satu untuk kondisi Indonesia yang lebih baik. Siapapun yang  memenangkan kontestasi itulah  pemimpin kita termasuk yang saat pemilu tidak memilihnya, karena itu semuanya harus mau dan rela untuk membantu dan berusaha untuk menjalankan  hal hal posistif dan bermanfaat bagi diri dan masyarakat.

Benturan kecil yang sempat terjadi saat pemilu juga harus segera kita buang jauh jauh karena kalau itu masih tetap kita pelihara pastinya akan menjadi penghmabt bagi kita untuk menjalankan kebaikan bersama. Sikap legowo memang harus dikedepankan karena tanpa itu akan sangat sulit bagi kita untuk dapat mengakui kekalahan dan seteruysnya akan menjadi “musuh” abadi, padahal kita adalah sahabat. Pihak yang harus kita jadikan sebagai musuh abadi ialah setan yang memang sejak awal berhadapan dengan kita dan tidak mungkin kita akan bersahaba dengannya.

Semoga kita akan mampu melupakan berbagai kejadian yang tidak nyaman untuk dikenang dan kembali menjalin hubungan serta merajut kebersamaan untuk membangun masa depan kita bersama. Jika kita lebih mengedapankan ketaqwaan pastinya kita akan mampu mewujudakn kebersaman dan saling memeafkan atas segala salah dan khilaf yang pernah kita perbuat, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.