KUALITAS KEIMANAN

Tujuan berpuasa sebagaimana disampaikan oleh Allah swt ialah untuk meningkatkan taqwa atau memperoleh ketaqwaan, yang berarti menginginkan bahwa seluruh hidupnya akan dihiasi oleh sifat sifat taqwa. Namun kita juga harus paham bahwa khitab atau firman Allah swt tentang kewajiban berpuasa etrsebut ditujukan kepada mereka yang beriman, bukan yang lainnya. Dengan begitu kita dapat memahami bahwa  untuk mendapatkan ketaqwaan tersbeut seharusnya terlebih dahulu harus didasari oleh keimanan.

Dengan kata lain meskipun seseiorang sudah beriman, namun ada kemungkinan bahwa dia itu belum bertaqwa, karena taqwa itu harus beriman terlebih dahulu. Atau secara teori seharusnya dapat dikatakan bahwa orang yang berrtaqwa tentu sudah p[asti beriman. Dalam kenyataannya kita sering mendengarkan beberapa tausiyah dari beberapa ulama yang orientasi ibadahnya selalu saja dikaitkan denan  surge dan pahala, lalu bagaimana jika ada orang yang beribadah, namun sama sekli tidak menginginkan surge atau pahala tersebut?

Hampir dapat dikatakan bahwaa cara penyampaian dakwah oleh para ulama terdahulu itu sama sekali tidak dapat dilepaskan dari orientasi surge dan pehala, dan itu memang tidak salah, karena Tuhan sendiri  juga dalam friman Nya seirng menghubungkan persoalan tersebut. Demikian juga dengan nabi  Muhammad saw selalu saja menghubungakn antara ketaqwaan dengan akhirat dan tempat kembali yang nyaman.

Di dalam alquran juga banyak diinformasikan mengenai kondisi surge yang dmeikian nyaman dan nikmatnya sehingga semua orang beriman diminta untuk mentaati perintah perintah Nya agar nantinya dapat memperoleh surge tersebut. Nah untuk memperolweh tiket ke surge seseorang harus banyaak menyimpan pahala, karena siapapun yang tidak banyak pahala maka akan sulit untuk dapat menghuni surge yang dijanjikan tersebut.

Jadilah kita sudha terbiasa dnegan orientasi tersebut. Sebagai contohnya ialah pada saat ramadalan dating, kita pasti juga akan menyebut ramadlan sebagai bulan penuh pahala karena Allah akan melipat gandakan pahala siapapun yang menjalankan kebajikan di bulan suci etrsebut. Bahkan juga disampaikan  di salah satu malam di bulan tersbeut ada satu yang mal;am yang nilainya lebih baik ketimbang seribu bulan. Nah, semua itu tentu berorientasi kepada pahala yang berlipat ganda.

Namun kemudian muncul orientasi baru yang lebih mengedepankan kepada kehendak Tuhan, yakni  tidak adfa tujuan lain dalam menjal;ankan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah terkecuali hanya menginginkan  ridlo Allah, bukan ingin masuk surge ataupun ingin terjuhkan dari neraka. Dengan kata lain yang diinginkan hanyalah kecintaan kepada Allah, secara tulus, dan bukan karena menginginkan sesuatu yang lain.

Secara substansi sesungguhnya semau itu bermuara kepada hal yang sama, yakni kalau Tuhan sudah ridlo kepada hamba Nya, pastilah Tuhan tidak akan menempatkan hamba Nya tersebuit di tempat yang menyengsarakan, melainkan akan ditempatkan di sebuah tempat yang nyaman dan penuh dnegan kenikmatan. Hanya saja sejak semua  etikanya jauh lebih baik karena  menjalankan perintah bukan karena takut atau karena berharap sesuatu, melainkan hanya ingin menjalaninya saja karena cinta kepada Allah swt. Ketulusannya begitu menyatu dnegan seluruh tindakannya.

Dengan pendkatan tersebut pasti dia tyidak akan pernah menghitung seberapa banyak pahalanya. Dia juga sama sekali tidak akan mempertimbangkan pahala yang menyertai sebuah perintah, semacam perintah berpuasa enam hari di bulan syawwal yang dikatakan sama denagn berpuasa selama satu tahun penuh, dengan  menghtungnya secara matematis, yakni setiap satu kali puasa  diberikan paha sepuluh kali lipat, dan kalau satu bulan dihitung tiga puluh hari lalu ditambah dnegan enam hari menjadi tiga puluh enam dan kemudian dikalikan sepuluh, maka sama dengan  satu tahun atau tiga ratus enam puluh hari.

Orang seperti itu juga tidak akan memperhitungkan jika shalat dijalankannya secara berjamaah yang disampaikan oleh Nabi akan m,endapatkan derajat sebanyak dua puluh tujuh derajat dibandingkan dnegan shalat sendirian, dan lainnya. Jadi orientasi ibadahnya memang bukan untuk memperbanyak pahala  melainkan cukup hanya ingin dekat dan mencinta Tuhan semata. Soal nantinya dia akan diputuiskan seperti apa oleh Allah swt, itu terserah kepada Allah karerna dia sangat percaya bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Maha Adil.

Namun  itu tentu menjadi persoalan lain, karena kebanykan manusia itu pastinya juga akan bertindak secara lahir sebagimana yang diinginkan oelh Allah dan Nabi Muhammads aw. Dengan dmeikian sesungguhnya orientasi ibadah kepada Allah kerena ingin surga Nya juga tidak akan menodai peribadatannya karena Tuhan memang Maha mengetahui hati setiap kita. Apa yang dianjrukan oleh nabi juga kiranya akan jauh lebih baik ketika kita mampu menjalaninya meskipun tetap dengan pengharapan pahala yang sangat banyak.

Rangkaian ibadah puasa dnegan berbagai amalan baik lainnya juga  pasti dikaitkan dengan persoalan motivasi untuk mendapatkan pahala yang lebih, seperti membaca kitab suci, menyantuni mereka yang lemah secara ekonomi, memberikan takjil buka puasa, mengkaji kitab kitab syariat, membaca sejarah orang baik zaman dahulu, berdzikir, bershalawat,  dan menjauhi smeua hal yang berpotensi menyakitkan dan emnyinggung perasan pihak lain dan lainnya.

Nah, untuk mengukur kualitas keimanan seseoramng tenu tidak dapat dilakukan dengan mengetahui apakah  ada niat untuk surge ataukah tidaknya, melainkan dapat dilakukan dengan  melihat lahir perbuatan manusia, termasuk pada saat bulan ramadlan seperti ini, apakah dia semakin baik amalnya ataukah biasa biasa saja  ataukah malah menurun. Kita tahu biasanya saat memasuki bulan suci ada sebagian orang yang berubah total perilaku dirinya yakni menjadui sangat baik, meskipun setelah selesai ramadlan kemungkinan kembali kepada watak asilinya.

Kalau itu tentu merupakan  persoalan tersendiri. Sebagai manusia biasa kita memang hartus selalu mengembangkan sikap baik sangka kepada siapapun, apalagi kalau ada orang yang berubah emnjadi lebih baik. Hanya saja  kita tetap berharap semua yang sudah berubah menjadi baik di bulan suci ini, akan dapat dipertahankan hingga setelah selesai ramadlan nanti. Kalau itu dapat terwujud maka akan sangat membantu untuk menata kondisi umat secara umum, yakni kondisi yang ideal sebagai orang beriman yang selalu cenderung untuk melakukan hal  yang terbaik.

Jangan sampai kita mengembangkan  sikap buruk sangka, dan belum belum sudah menyangka kepada pihak lain tentang keburukan yang nanti akan dilakukan kembali. Sikap yang terbaik bagi kita ialah  memohon kepada Allah agar semua orang yang menjalani puasa akan mampu mengubah dirinya menjadi elbih baik sesuaid engan sifat sifat yang diinginkan dari puasa itu sendiri, seprti sifat sabar, disiplin, peduli kepada pihak lain, suka membaca kitab suci, mengkaji buku buku yang bermanfaat dan amalan baik lainnya.

Jika pun nantinya  ada pihak yang setelah ramdalan usai kembali kepada wataknya yang semula, maka kita tetap mendoakan kepada mereka agar diberikan  penyadaran sehingga mereka akan kembali kepada perbuatan baik, meskipun tidak sebagaimana saat sedang bulan ramadlan. Itul;ah maksimal yang dapat kita lakukan karena selebihnya adalah kembali kepada masing masing orang.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.