SELAMAT IDUL FITRI 1440 H

Mungkin tidak banyak yang berkesempatan untuk membuka tautan web atau mrdia social pada saat idul fitri sepeti ini, namun tidak mengapa kalaupun  tulisan ini baru terbaca setelah beberapa hari kemudian, karena maksud dan tujuannya ialah  ucapan selamat setelah satu bulan lamanya  menjalankan ibadah puasa denagn segala  yang mengirinya. Ucapa selamat tersbeut juga teriring doa semoga apa yang telah kita jalani selama bulan ramadaln kemarin itu menjadi amal baik kita dan akan emndapatkan paha dan balasan dari Allah swt.

Memang ada  pihak yang mempermasalahkan dengan ucapan mohon maaf lahir dan batin yang dianggapnya tidak ada dalilnya, baik dari alquran maupun dari hadis secara langsung, karena  halal bi halal dan ucapan  mohon maaf lahir dan batin tersebut merupakan tradisi baik yang sudah dibangun oleh para pendahulu dan ulama. Tidak smeua kebiasaan baik itu harus ada dalilnya di alquran maupun hadis, karena terlalu banyak perbuatan baik yang muncul dari pemahaman ulama dan pendalaman merekka.

Namun jika dirunut dengan seksama tentu dapat dihubungkan dengan sebuah dalil, walaupun tidak  selalu sama. Memohon maaf itu sangat dianjurkan di dalam Islam, bahkan di saat kapanpun. Nah, kalau ucapan senada  disampaikan pada saat idul fitri tentu ada sambungannya dengan bulan ramadlan. Coba perhatikanlah sebuiah riwayat hadis dari nabi Muhammad saw yang artinya “ barang siapa yang menjalankan puasa dengan didasari iman dan  ihtisab atau hanya berharap keridlaan Allah, maka segala dosanya akan diampuni oleh Allah swt”.

Nah hadis tersbeut dapat dimaksudkan ialah bahwa orang yang puasa dengan mengikuti petunjuk dari Nabi tentu akan memperoleh pengampunan atas segala dosanya yang terkait dnegan hak Allah. Sedangkan  dosa  yang berkitan dnegan hak adami tentu tidak akan penah dimaafkan sebelum yang bersangkutan meminta maaf kepada yang disalahi. Untuk itulah tradisi halal bi halal dimaksudkan untuk menyempurnakan kebersihan diri sehingga hak Allah dan hak adami sama sama bersih, dan karena itu diucapkanlah  minal aidin   yang sesungguhnya  membuang pernyataan Mudah mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang yang kebali bersih fitrah dan juga faizin atau beruntung.

Saat ini sudah menjadi lazim saat idul fitri kemudian  saling mendoakan  minal aidfin wal faizin. Kebiasaan pula  kemudian juga diteruskan denagn pernyataan mohon maaf lahir dan batin, dan itu bukan terjemahannya, melainkan untuk memperjelas kita memohon maaf lahir hingga batin sehingga sudah tidak ada dosa lagi atau perasaan dendam dan sejenisnya lagi. Namun juga boleh mendoakan dnegan doa semoga Allah menerima puasa kita dan smeoga kita selalu diberikan kesehatan dan kebaikan oleh Allah taala sepanjang tahun dan doa lainnya.

Bagi saya ucapan selamat idul fitri itu sangat baik dan itu sesungguhnya juga termasuk tradisi Islam yang harus dipertahankan karena akan membuat umat semakin baik dan menyadari pentingnya saling memaafkan dan kebersamaan. Lalu bagaimana mungkin kalau kita harus terus mempermasalahkan dalil kebaikan? Sesuatu yang tempak  baiknya untuk semua orang tentu tidak membutuhkan dalil, melainkan  jalankan saja tentu akan mendapatkan kebaiakan tersebut.  Namun jika kita melarang terhadap sesuatu tentu diperlukan alasan yang jelas agar tidak timbul perbedaan yang semakin menajam dan sulit untuk didamaikan.

Pada pagi buta selepas shalat subuh kita menyaksikan betapa umat muslim, tua muda laki laki dan permpuan  berbondong bonding menuju tempat shalat iedul fitri. Alangkah montoknya hati ini  dan seolah bergetar karena rasa bangga sebagai umat muslim. Hanya saja kita masih sedikit perihatain dnegan ulah beberapa anak yang masih bermain petasan, bahkan  bentuknya yang sangat besar sehingga suaranya menyurupai bom. Memang sih  lebaran sejak dahulu selalu identic dnegan petasan dan mungkin tidak akan ramai jika tidak ada petasan, namun barang tersbeut sangat berbahaya.

Sebaiknya para orang tua mengingatkan dan melarang anak anaknya bermain petasan, sebab kalau kecelakaan, pasti mereka juga yang akan direpotkan. Setidaknya peringatan untuk berhati hati dengan petasan etrsebut. Mungkin masih dapat diotoleransi jika bentuknya kembang api yang secara riil tidak akan berbahaya sebagaimana petasan. Terlepas dari semua itu  kita memang harus mengucapkan selamat kepada seluruh kaum muslimin yang telah berhasil menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, denagn iringan doa semoga Allah  akan emmberikan yang terbaik bagi umat.

Hari ini  hampir seluruh masjid dan lapngan terbuka digunakan  shalat ied untuk menunjukkan syiar islam. Semua khusyuk menjalaninya dan juga mendengarkan khutbah yang disampiakn oleh khatib. Tentu ada pesan yang disampaikan untuk dijalani oleh masyarakat secara umum, biasanya pesan tersebut tentang kepedulian kita umat muslim kepada mereka yang berposisi lemah agar mereka juga mendapatkan kebahagiaan pada hari raya ini, bukan hanya sekedar  zakat fitrah, melinkan juga santunan lainnya akan akan mamp[u mengangkat mereka.

Kalau zakat fitrah sesungguhnya sudah berlalu karena waktunya  selesai sebelum menjalankan shalat ied, karena itu yang lebih penting dari sekedar zakat fitrah ialah bagaimana kita peduli kepada mereka yyang miskin, apakah kita akan mengangkat anak anak mereka untuk diberikan pembiayaan pendidikannya ataukah dalam bentuk lainnya. Biasanya pula  akan diangkat maksud dari surat al,aun yang intinya bahw kita percuma menjalankan ibadah  individual seperti shalat, zakat, haji dan puasa ramadalan, jika kita masih emmbiarkan  anak anak yatim tidak terurus  di sekitar kita atau membiarkan orang orang miskin tetap dalam kesengsaraannya.

Artinya keberadaan kita tersebut dianggap hanya sebagai pecundang agama karena kita membiarkan mereka  padahal kita shalat dnegan rajin, umrah setiap bulan dan lainnya. Kita memang sangat penting untuk peduli dan mengasah rasa empati kita kepada masyarakat sekitar yang masih emmbutuhkan uluran tangan kita dan berbagi   atas apa yang dititipkan Allah kepada kita. Tanp itu kita hanyalah pihak yang tidak akan dipercaya keimanan dan keislaman kita, semoga Tuhan menjauhklan kita dari sikap seperti itu.

Sehabis shalat ied biasanya umat muslim saling mengunjungi rumah untuk bersilaturrahim dan sekaligus memohon maaf atas segala salah yang pernah dijalaninya, baik sengaja  maupun tidak sengaja. Tradisi saling mengunjungi tersebut memang sangat baik dan perlu dilestarikan dan tidak usah dipertanyakan dalilnya. Bagaimanapun bersilaturrahim itu sangat dianjurkan, namun dengan momentum idul fitri ini akan menjadi semakin terasa karena masing masing orang biasanya juga sekaligus sudah siap dengan hidangan khas idul fitri.

Mngkin juga ada yang kemudian melanjutkan langkahnya untuk berziarah ke makam orang tua atau family lainnya yang telah mendahului menuju alam baka. Tradisi ziarah tersebut juga bagus karena akan mengingatkan kepada kita tentang kematian yang  pada saatnya apsti juga akan menimpa diri kita, karena itu kita tidak boleh jumawa atau sombong dengan apa yang telah diberikan oleh Allah swt, melainkan justru semakin bertawadlu’ agar semakin disayang oleh Nya. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.