MARI WUJUDKAN KEDISIPLINAN

Bulan puasa ini seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa, dan pada saat sedang berpuasa mereka smeua sangat mentaati aturan yang diberlakukan, khususnya terkait dnegan larangan untuk makan, minum dan berkumpul dengan pasangan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan kata lain mereka sangat disiplin dalam menjalani puasa, dan tidak akan berani makan ataupun minum sebelum bedug maghrib ditabuh, atau merweka juga sudah tidak berani makan dan minum lagi setelah  adzan subuh dikumandangkan.

Bahkan untuk waktu yang cukup longgar saja mereka juga sangat menghargai kedisiplinan, semacam ketika  pelaksanaan shalay dhuhur. Artinya pada saat sedang menjalankan puasa ternyata mereka sangat disiplin dalam menjalani shalat, yakni sebelum masuk waktu shalat saja mereka sudah bersiap dating ke masjid untuk melanjalankan shalat secara berjamaah. Seolah mereka  merasa  rugi jika ketinggalan jamaah shalat. Semua itu menunjukkan  sebuah kondisi disiplin yang begitu bagus.

Alangkah indahnya kondisi etrsebut jika kemudian dapat diciptakan untuk seluruh  waktu, dan bukan hanya pada saat ramadlan saja. Harapan dan tujuan puasa ialah untuk mendapatkan kletaqwaan, yakni sebuah kondisi tertentu dimana  orang akan emnghiasi dirinya dengan sifat sifat baik yang sudah dibiasakan  saat menjalankan ibadah puasa. Nah, karena itulah untuk mendapatkan status ketaqwaan yang sebagaimana diinginkan Tuhan tersbeut, kiranya tidak ada jalan lain bagi kita yang saat ini sedang menjalani ibadah puasa untuk ebrusaha dengan sekuat tenaga untuk melestarikan kebiasan baik yang sudah kita praktekkan saat berpuasa.

Mari jadikan kedisiplinan sebagai  watak kita yang sejati, jangan sampai  saat puasa kita menjaga disiplin diri, namun setelah selesai puasa kita kembali lagi kepada watak buruk kita yang tidak disiplin. Sifat dan watak disiplin merupakan modal dasar yang sangat menentukan langkah kita selanjutnya dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Jika kita berdisiplin  saat kita bekerja, maka hasilnya pun juga  akan kita lihat dan rasakan. Saat kita dating memulai bekerja sesuai dnegan waktu yang telah ditentukan oleh aturan main dan demikian jiga saat mengakhiri kerja.

Saat kita sedang mengerjakan sebuah pekerjaan yang memerlukan  konsentrasi penuh dan juga menerus serta tidak boleh jeda, maka kita secara disiplin akan melakukannya dengan kalkulasi waktu yang sudah kita tentukan. Jangan sampai kita banyak  keluar masuk  tempat kerja yang mengakibatkan pekerjaan etrsebut menjadi terbengkelai dan bahkan mungkin akan gagal karena tidak diikutinya prosedur pekerjaan  sebagaimana mestinya. Dengan begitu ketidak disiplinan akan menghambat pekerjaan yang sedang kita lakukan.

Sangat mungkin juga bahwa dengan indisiplin yang kita laikukan, pada saatnya ketika ada inspeksi dari atasan atau dari petugas yang memang diberikan kewenangan untuk memeriksa  dan mengawasi, lalu kita tidak ada di tempat dan bahkan mungkin  kawan kita saja tidak mengetahui  atau bahkan atasan saja tiodak tahu kemana kita pergi, maka  kita harus bersiap siap untuk mendapatkan sanksi, mungkin teguran,. Atau mungkin sanksi yang lebih lagi.

Sudah barang tentu jika  watak kita suka tidak disiplin, para sahabat kita juga akan mengetahui dan  pimpinan juga apsti akan mengetahuinya, lantas ketika ada promosi jabatan, maka  pasti kita tidak akan dilirik, karena ketidak disiplinan yang kita lakukan. Lain halnya jika kiota menjaga kedisiplinan diri dalam hal apapun, maka  suatau ketika pasti aka nada pihak yang meliorik dan memberikan kepercayaan penuh kepada kita karena  disiplin diri yang kita pegang teguh.

Jika pada saat berpuasa kita tidak berani melanggar aturan main dan selalu disiplin sesuai dnegan aturan, lalu mengapa kita tidak melakukannya pada saat yang lain. Jika ada kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka  kita harus ingat bahwa Tuhan pasti mengetahuinya dan kita menjadi orang yang tidak jujur. Pertanyaannya ialajh beranikah kita meminum pada saat siang hari bulan puasa, meskipun tidak ada satupun orang yang melihat? Kalau jawaban kita kalaupun tidak ada yang melihat, maka kita yakin bahwa Tuhan pasti melihat dan kita akan menjadi rugi karena telah melakukan pelanggaran puasa.

Seharusnyalah kita juga bersikap demikian  di luar ramadlan. Artinya kita harus mempertahankan keimanan kita  dan  keyakinan kita bahwa Tuhan akan senantiasa melihat apapun yang kita lakukan, meskipun diantara sahabat tidak ada yang  melihat kita, dan kita akan merasa berdosa karena tel;ah melakukan kecurangan dan pelanggaran disiplin atau ketantuan yang seharusnya kita hindari. Jika kita sudah bersiakp demikian, tentu ini merupakan modal yang sangat kuat untuk menciptakan kondisi diri yang luar biasa dan siap untuk membuat  sebuah bangunan untuk  membentuk lingkungan yang islami dan  ideal.

Sekali lagi factor disiplin memang menempati factor utma dalam semua  kondisi, apapun pekerjaan kita dan apapun posisi kita, jika kita yakin dengan disiplin yang harus dijalankan, maka  Tuhan pasti akan meninlai kita sebagai hamba Nya yang taat dan pada saatnya  pasti akan diberikan keprcayaan yang utuh untuk sebuah tanggung jawab yang lebih besar. Ketulusan juga akan menentukan  masa depan dan nasib kita ke depan. Tuhan pasti tidak akan membiarkan orang jujur dan tulus terus m,enerus dalam kesulitan.

Semua pekerjaan, apapun bentuknya, pasti memerlukan kondisi disiplin karena dengan disiplin itulah target dapat direncanakan dan  hartapan dapat ditancap[kan. Banyak  perusahaan yang sukses  dengan dukungan kedisiplinan dari para menegernya dan sebaliknya banyak perusahaan besar yang kemudian bangrut juga disebabkan ketidak disiplinan para pimpinannya. Kebiasan manusia yang suka bosan  akan menjadikan orang tersebut menyesal dalam hidupnya. Sebagai contoh ada banyak orang yang saat mengalami kesulitan, lantas bekerja kerasa dan menjaga kedisiplinan secara ketat, lalu setelah mendapatkan kesuksesan, lalu emngendur kedisiplinannya.

Dalam kondisi tidak disip[lin tersebut perusahaan mengalami kemunduran, namun sayangnya  dia tidak merasakan  akibat dari pola tidak disiplin yang mulai merambat pada banyak orang di perusahaan etrsebut. Akibatnya setelah benarr benar hancur, barulah dia menyadarinya dan sudah etrlambat. Itulah kalau jiwa disiplin tidak menyatu dengan hati dan pikirannya, melainkan hanya sebagai alat untuk mendapatkan kesuksesan semata. Temntu sebagai seorang yang beriman kita harus menghindari hal tersebut, karena pasti akan sangat rugi dan sulit untuk mengembalikan kondisi sebagaimana semula.

Karena itu aspek disiplin ini memang harus kita jadikan sebagai watak kita yang menyatu dalam diri kita sehingga dalam kondisi apapun kita mesti konsisten dalm menjaga kedisiplinan etrsebut dan juga harus menanamkan hal etrsebut kepada siapapun yang bekerja untuk kita. Sekali kita tidak disiplin maka selamanya kita akan rugi dan mungkin juga akan lebih parah daripada sekedar rugi,m melainkan justru malah bengrut dan jatuh.

Mari jadikan puasa ini sebagai wahana untuk melatih diri menjadi manusia yang disiplin dan mengupayakan disiplin tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita. Orang yang sukses itu pasti  diringi dengan kedisiplinan, karena itu hukumnya wajib bagi kita untuk merapkan disiplin tersbeut seluruh hidup kita.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.