MENGAPA BANYAK ORANG MENJALANI PUASA TETAPI MASIH JUGA BERBUAT MAKSIAT?

Pertanyaan seperti ini banyak muncul di kalangan umat karena  mereka berharap seharusnya mereka yang menjalani ibadah puasa akan dapat menjadi taqwa sebagaimana tujuan yang disebutkan secara jelas oleh Allah swt. Kanyataan tersebut tentu memunculkan pertanyaan kembali tentang  mengapa  orang sudah ebrbuasa tetqpi masih juga tidak mampu menjadi baik, bahkan kelakuan aslinya akan etrus dibawa hingga mati. Bagi mereka yang  suka berbohong, juga masih tetap berbohng, bagi mereka yang terbiasa korupsi, juga masih saja menjalaninya dan sebagainya.

Apakah puasa mereka tidak benar atau masih ada syarat dan rukun yang belum dijalani atau bagaimana, sehingga mereka tidak mampu menggapai goal yang diinginkan. Kalau secara syariat kita hanya mengetahui bahwa puasa itu merupakan ibadah yang mengharuskan seseorang menahan diri untuk tidak makan, minum dan berklumpil dnegan suami atau isterinya sejak imsak hingga maghrib. Jadi dengan definisi etrsebut siapapun yang mampu menhaan diri untuk tidak makan minum dan  berkumpul suami isteri selama rentang waktu tersbeut sudah memenuhi syarat disebut sebagai berpuasa.

Namun kita rupanya lupa bahwa untuk urusan ibdah itu bukan hanya sekedar menjalanisesuatu sesuai dnegan aturan mainnya saja, melainkan juga harus dibarengi oleh perilaku yang baik dan bahkan mampu mengambil hikmah di dalamnya. Apalagi ada sesuatu yang tidak secara langsung diberitakan bahwa siapapun yang melakukan hal hal tertentu maka akan dapat merusak puasanya. Padahal di dalam berpuasa seseroang dituntut untuk mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu yang bukan saja nafsu makan minum dan syahwati, melainkan juga nafsu lainnya yang jauh lebih banyak.

Nabi sering mengatakan bahwa sebagai seorng beriman seharusmnya  menghindari berbuat bohong atau dusta, menghindari perbuatan yang akan menimbulkan tersinggungnya perasaan pihak lain, menghindarkan diri dari memfitnah, menggunjing, menyebarkan provokasi dan kalimat kalimat yang mengandung ujaran kebencian dan sejenisnya. Karena itu larang tersebut meskipuin secara syariat tidak akan merusak puasa dan puasanya masih tetap sah jika dilakukan, tetapi akan dapat merusak pahalanya.

Nah, kalau pahala saja tidak dapat, apalagi  ketaqwaaan, tentunya akan semakin jauh. Barangkali itulah salah salah satu penyebab kenapa banyak orang menjalani puasa tetapi masih saja melakukan perbuiatan jahat dan merugikan banyak orang. Secara  jelas Nabi pernah mengatakan bahwa banyak orang yang menjalani ibadah puasa, namun tidak mendwpatkan pahala puasa, melainkan hanya mendapatkan rasa lapar dan haus semata. Itu disebabkan pada saat ebrpuasa  mereka selalu melakukan perbuatan  tidak pautut yang seharusnya dihindarinya.

Mungkin orang tidak merasa bahwa menggunjing itu akan menyakitkan pihak lain, mungkin juga orang yang bedusta tidak mengira bahwa pihak yang didustai akan merasa tidak nyaman dan bahkan sakit hati. Namun kenyataannya  siap[un yang menjadi obyek perbuatan yang tidak menyenangkan pastilah akan merasa dirugikan. Nah itulaha yang mampu menghanguskan pahala puasa seseorang. Untuk itu sangat wajar jika orang yang puasanya saja tidak emndapatkan pahala, apalagi hikmah lainnya  sebagai tujuan utamanya yakni taqwa, pastilah akan semakin tidak didapatkan.

Bahkan kalau kita menggunakan pendekatan sufi, berpuasa itu bukan saja menahan diri dari beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, melainkan juga menahan diri dari smeua perbuatan yang tidak layak untuk dilakukan. Semacam menjaga semua anggota badan dari m,elakukan  perbuiatan yang  dapat menyinggung pihak lain.  Lisan misalnya harus terus dijaga jangan sampai mengatakan sesuatu yang justru  menjadi penyebab permusuhan dan sejenisnya. Tangan juga demikian jangan sampai diperguanakan untuk mengambil milik pihak lain, jangan sampai digunakan untuk memukul pihak lain dan lainnya.

Bahkan saat ini denagn perkembangan teknologi, bukan hanya lisan dan tangan yang banyak melakukan perbuatan yang  tidak layak, melainkan juga jari jemari yang justru mampu membuat sesuatu yang lebih dahsyat. Kita tahu bahwa  alat komunikasi  HP misalnya saat ini sudah begitu mudahnya kita menyebarkan berita, apapun yang kita inginkan. Nah, jika kita menyebartkan berita bohong atau membuat kebohongan, membuat fitnah, hoaks, dan berbagai macam informssi yang tidak layak serta tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, sehingga merugikan pihak lain, maka itu dosanya jauh lebioh besar ketimbang lainnya.

Bahkan hanya sekedar menshare berita yang belum diketahui kebenarannya,  lalu menimbulkan  geger maka itu juga merupakan perbutan dosa besar yang mungkin juga akan semakin besar jika kemudian dishare lagi oleh orang lain kepada pihak yang lainnya lagi. Jadi akiobat teknologi yang begitu tinggi terkadang malah akan mampu menjadikan kita semakin terpuruk karena ketidak tahuan atau ketidak hati hatian kita dalam memanfaatkannya.

Barangkali factor inilah yang sangat mempengaruhi banyak orang yang sedang menjalankan ibadah puasa tetapi masih saja tetap pada kelakuan buruknya dan sama sekali tidak ada perubahan mengarah kepada kebaikan. Melihat kondisi yang dmeikian, maka sudah saatnya para ulama harus turun gunung untuk memberikan pencerahan kepada umat dengan berbagai cara yang mampu menyadarkan mereka, sehingga mereka akan benar benar menjadi taqwa yang sesungguhnya.

Harapan selanjutnya jika sudah banyak orang bertaqwa dalam arti yang sebenarnya, kita akan dapat berharap bahwa dunia ini akan semakin membaik karena banyk orang yang menyadari hak dan kewajiban masing masing orang. Kita juga akan menyadari bahwa orang yang bertaqwa itu mempunyai sifat sifat terpuji yang akan membantunya untuk selalu berbuat kebajikan dan menghindari keburukan, sifat sabar, disiplin, peka terhadap penderitaan pihak lain, mengetahui hak dan kewajibannya dan  pijhak lain, sedrhana dan selalu ingin berbuat kebaikan.

Jika puasa kita smeua  mampu melahirkan sifat taqwa sebagaimana yang diharapkan oleh Allah swt tentu kita akan dapat merasakan betapa nyamannya hidup di dunia ini. Semua akan aman dan tidak ada rasa was wasa sedikitpun pada saat kita meninggalkan sesuatu , baik di rumah maupun di tempat lainnya, karena tidak ada yang akan mengambil  atau merampasnya. Bahkan kalau kita kehilangan barang berharga sekalipun kita akan  dapat menemukannya kembali, baik  di tempat yang masih utuh atau bahkan dikembalikan oleh pihak yang menemukannya.

Kasus kasus korupsi yang saat ini marak di negeri kita juga pasti akan semakin berkurang dan pada saatnya akan habis, Namun  itu hanyalah  sebuah teori yang sampai saat ini belum dapat kita wujudkan, karena maish banyaknya orang yang belum mempu menjalani puasa dengan benar sehingga ketaqwaan yang diharapkan etrsebut masih belum dapat ditemukannya. Namun kita akan dapat berharap jika para ulama kemudian mau turun gunung memberian pencerhan kepada umat secara baik dan benar, pada saatnya pasti akan terwujud apa yang kita cita citakan.

Dengan begitu pertanyaan awal sebagaimana disebutkan di atas  sudah dengan sendirinya terjawab, dan kita masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar kita mampu meweujudkan  keinginan TUhan  saat kita menjalani puasa di bulan Ramadlan ini, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.