PENGALAMAN SHALAT TARAWIH

Mungkin hamper setiap muslim akan merasakan betapa shalat tarawih tersebut di bulan ramadlan, namun jarang yang merenungkannya sedemikian rupa. Artinya pada umumnya merka yang tidak merenungkan tersebut akan lebih memilih tarawih yang pendek dalam arti hanya delapan rakaat ditambah dengan tiga witir, sehingga seluruhnya hanya sebelas rakaat. Bahkan saat ini ada gejala yang lebih praktis lagi yakni ada yang memilih jumlah rakaatnya lebih pendek dan pelaknsaannya juga lebih cepat.

Biasanya  masyarakat mengenal tarawih yang dijalankan dengan  jumlah 20 rakaat ditambah tiga rakaat witir dilaksanakan dengan  lebih cepat sehingga kalaupun dijalankan secara bersamaan, yakni  dengan tarawih yang delapan rakaat yang biasanya dijalankan dengan lambat, maka selesainya juga kemungkinan akan bersama, kalaupun terpaut juga hanya sedikit  saja. Meskipun dmeikian  kita juga mengenal ada shalat tarawih yang dijalankan dengan dua puluh rakaat tetapi juga  dengan lambat bahkan  yang dibaca dalam shalatnya ialah satu juz alquran.

Bagi mereka yang merenungkan tarawih tersbeut terkadang malah lebih memilih tarawih dua puluh rakaat dan  lambat, karena akan lebih mersapi dan menghayati pelaksanaan shalatnya. Kebanyakan orang zaman sekarang sudah tidka lagi mempesoalkan tentang dalil mana yang 8 rakaat dan mana yang 20 rakaat, karena maisng masing sudha dapat dijelaskan dengan masuk akal. Karena itu pwersoalan yang saat ini sering m7uncul adalah kepraktisannya saja. Hanya saja  tentu masih banyak juga yang  mengedepankan alaan  lainnya dan kemudian lebih memilih yang 20 rakaat.

Artinya  ada juga umat yang menjalankan tarawihnya sebanyak 20 rakaat dan itu lebih disukai karena akan membuat dirinya lebih bersemangat dan  dapat berkeringat, sehingga setelah seharian  berpuasa, lalu  setelah malam dapat berkeringat, maka itu sangat nikmat dan tentu harapannya sehat. Meskipun dmeikian juga ada yang beralasan bahwa dengan shalat yang lebih banyak tentu pahalanya akan menjadi lebih banyak, bahkan ada sebagian umat yang justru menjalankan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat.

Kita memang  mengetahui ada beberapa cerita tentang shalat tarawih yang dianggap sebagai super cepat atau kilat yang tentu kalau melihat cara pelaksanaannya kita tidak mungkin mengikutinya, karena sepeti nya memang tidak ada tumakninahnya yang merupakan sbeuah rukun yang harus dijalani dalam setiap shalat. Bacaannya juga mungkin banyak yang salah karena terlalu cepat sehingga tidak sempurna, terutama  bacaan alfatihahnya.  Tarawih super kiolat tersbeut juga pastinya tidak akan mungkin diikuti oleh mereka yang sudah lansia, karena tidak mungkin akan dapat mengikutinya.

Jika  masih dalam batas batas  ikemungkinan, maka kita juga dapat mengerti, namun jika sudah dalam kondisi yang kita sendiri tidak mampu membayangkan, tentu itu sangat disyangkan, kenapa terjadi tarawih yang super kilat tersebut, sehingga tidak mengindahkan aspek rukun dalam shalat. Hanya saja kita juga tidak tahu persis apakah meang demikian kondisinya ataukah  video tersbeut sudah diadt sedemikian rupa sehingga tampak seperti superr kilat, padahal mungkin dalam kenyataannya masih dalam batas kewajaran.

Saya sendiri memang pernah mengalami dan mengikuti shalat tarawih yang sngat cepat, namun masih dalam batas kewajaran, hanya saja setelah membaca alfatihah, surat atau ayat yang dibaca hanya  fawatihus suwar, seperti  alif lam mim, yasin, nun dan sejenisnya sehingga menjadi cepat selesainya, tetapi sekali lagi tumakninah masih diperhatikan sehingga masih dapat diterima oleh siapapun.

Saat ni kita juga dapat menyaksikan siaran langsung tarawih di masjidil haram Makkah dan dijalankan dnegan demikian khusyu’ sehingga kita dapat menikmatinya. Bahkan seolah kita terbawa  iramanya dan menjadikan kita seolah berada di sana. Tarawih yang dijalankan secara berjamaah dengan baanyak jamaah tentu akan semakin menambah   spirit dan gairah, sehingga berapapun rakaat yang dijalankannya seolah tidak terasa berat. Tentu akan berbeda sekali dengan jika shalat tarawih tersebut dijalankan secara sendirian, maka  aka nada kebosaanan jika dijalankan dnegan rakaat yang banyak.

Namun sekali lagi itu juga secara umum karena secara masing masing orang pasti tergantung kepada mereka sendiri. Tentu ada juga umat yang emskipun menjalankan tarawih secara sendirin, semisal  bertepatan dnegan kepergiannya ke suatu tempat yang tidak ditemukan jamaah, lalu menjalankan tarawih sendirin, namun masih tetap bersemangat meskipun hanus menjalaninya dnegan rakaat yang cukup banyak. Jika niatnya serius lillahi taaala tentu rintangan apapun akan dapat disobraknya.

Selanjutnya kita juga  mengetahui bahwa cara menjalankan shalat disamping perbedaan  jumlah rakaatnya juga kita jumoai cara menjalankannya ada yang dua rakaat salam, tetapi ada yang empat rakaat dengan satu salam, hanya saja yang menjalankan sejumlah dua puluh rakaat rupanya tidak ada yang menjadikannya empat rakaat baru salam satu kali, melainkan mereka akan menjalaninya dengan dua rakaat salam.

Sementara itu  mereka yang menjalaninya dnegan dua rakaat salam sebanyak sepuluh kali salam juga ada yang  pada saat dua kali salam lalu beristirahat  dan berdoa sehingga di situlah letak  tarawihnya, lalu  begitu seterusnya setiap empat rakaat mereka berdoa agak lama dan meneruskannya kembali. Rupanya itu merupakan penafsiran dari mereka karena  ada riwayat dari Aisyah bahwa nabi saat menjaani shalat malam itu empat rakaat, lalu empat rakaat lagi, bukan diinfokan dua rakaat dua rakaat, meskipun secara lisan beliau mengatakan bahwa shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.

Dengan ebrdasar kepada riwayat etrsebut maka shalat tarawih jga dijalankan dengan dua rekaat salam dua rakaatt salam, namun setelag empat rakaat tetap berhenti dan ebrdoa sebagai  pelaksanaan Nabi shalat empat rakaat yang begitu bagusnya. Penafsiran umat muslim terhadap  praktek shalat Nabi yang digambarkan di ddlama riwayat tertulis memang tidak mungkin dihindari karena maisng masing pasti mempunyai  kepercayaannya dan ingin menjalankan praktek sebagaimana yang dijalankan oleh Nabi. Hanya saja justru mereka tidak mengikuti cara Nabi menjalankannya, yakni di waktu tengah malam atau setelah tengah malam, melainkan saat ini shalat tarawih dijalankan masih sangat sore  yakni setelah shalat Isya’.

Namun sekali lagi saat ini kita sudah saling memahami sehingga meskipun berbeda pelaksanaanya tetapi umat masih tetap rukun dan mampu menjalankan masing masing seuai dnegan keyakinannya. Kondisi seperti itu tentu sangat kita syukuri sehingga  meskipun berbeda namun semarak ramadlan masih tetap syiar dan kta mampu berbangga menjadi uamt muslim yang tetap menghidupkan malam malam ramadlan dnegan amalan yang baik.

Hal yang berbeda lagi dalam pelaksanaan shalat tarawih ialah pada saat menjalankan shalat witir setelah pertengahan  ramadlan, sebagiannya ada yang membaca doa qunut dan sebagiannya tidak emmbacanya, bahkan jutga di shalat subuh. Itu juga  tidak maslah karena masing masing mempunyai argumentasinya dan  bagi mereka yang membaca doa qunut tentu beralasan untuk emmeinta perlindungan kepada Allah atas segala mara bahaya dan godaan yang semakin banyak di akhir ramadlan dan lainnya. Semoaga kebersamaan etrsbeut tetap akan dapat dipertahankan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.