BERHARAP LAILATUL QADAR

Kata lailatul qadar, hamper semua umat muslim pernah mendengarnya, meskipun belum pasti mengetahui maksudnya. Mayoritas umat muslim hanya tahu bahwa lailatul qadar itu sebuah malam yang nilainya sangat luiar biasa karena lebih baik ketimbang seribu bulan. Dengan begitu siapapun yang mendapatinya dan beramal baik di alamnya maka sama dengan mengerjakan kebaikan selama sekitar 83 tahun lebih. Namun juga ada yang memahaminya sebagai sebuah motivasi semata dan tidak hakiki dalam hal kebaikannya tersebut.

Bahkan saat ini  masyarakat sudah mulai memelesetkannya dengan persoalan yang bersifat duniawi, seperti saat puasa mendapatkan THR misalnya kemudian disebutnya sebagai mendapatkan lailatul qadar, atau ketika mendapatkan keuntungan dalam  daganganya juga disebut mendapatkan lailatul qadar. Namun asalkan bukan dengan maksud merendahkan atau mengdegradasikan makna lailatul qadar tentu semua sah sah saja, karena yang dimaksudkan dengan itu ialah mendapatkan naugerah besar yang tidak disangka sangkanya.

Sebagaimana kita tahu, para ulama sepakat bahwa lailatul qadar itu akan muncul dan dating pada malam malam terakhir bulan ramadlan atau sepuluh terakhir bulan suci tersebut, sehingga pada awal ramadalan tidak akan mungkin dating. Pada saat  ramadlan memang umat muslim sangat getol menjalankan ibadah termasuk di dalamnya menjalankan tarawih, dan kebiasaannya ialh pada wal ramadlan sangat banyak masyarakat yang mengikuti shalat tarawih, namun seiring dengan  semaikin mendekati selesainya ramadlan, semakin sedikit pula yang masih bertahan.

Pada masa Nabi dimana  wahyu masih turun dan Nabi juga berkepentingan untuk memberikan motivasi kepada para sahabatnya, pastilah nabi akan mencari cara bagaimana agar umat tetap semangat menjalankan ibadah hingga akhir bulan. Untunglah kemudian ada lailatul qadar yang nilai sangat luar biasa sehingga para sahabat kemudian dnegan semangat yang menyala tetap bersemangat untuk menjalani ibadah di akhir bulan, bahkan mereka juga beri’tikaf setiap malamnya hingga akhir ramadlan.

Dengan dmeikian lailatul qadar tersebut mampu membangkitkan semangat para sahabat yang  tentu sudah mulai kendur setelah menjalankan ibadah setiap malam sejak awal bulan. Nah,  menyalanya semangat tersebut tentu akan membanggakan semua pihak yang menyaksikannya dan itu juga dapat dinilai sebagai sebuah kepatuhan yang hakiki dari umat kepada perintah.  Tetapi amat disayangkan untuk umat zaman ini, meskipun sudah ada berita tentang lailatul qadar yang bernial sangat dahsyat seperti itu, tetapi masuih belum mampu membangkitkan semangatnya.

Mungkin tetap masih ada yang tersengat dengan  lailatul qadar tersebut, yakni dengan menambah semangat baru  dalam beribadah di akhir ramadlan, namun mayoritas umat sungguh sangat tidak memperhatikannya. Seakan mereka tidka mempedulikan adanya lailatul qadar yang dmeikian  mengesankan. Bahkan merka lebih memilih persiapan hari raya dan persiapan mudik bagi yang akan mudik. Bahkan shalat tatawihnya saja ditinggalkan apalagi shalat tahajjud dan lainnya, sungguh ironis dan kasihan kepada mereka.

Para ulama juga tidak  kurang kurangnya memberikan pencerahan kepada umat tentang lailatul qadar tersebut, namun  ternyata masyarakat juga masih belum beranjak dari kesibukan mereka sendiri selain beribadah kepada Allah swt. Apa mungkin ada kaitannya dengan perilaku para ulama  sendiri yang memang belum memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari hari, karena banyak diantara mereka yang justru santat mengecewakan masyarakat, khususnya terkait dengan amalan yang seharusnya dijalankan juga oleh mereka, swepetri  gemar sedekah yang ternyata tidak mereka teladankan.

Namun yang jelas  masyarakat saat ini belum tertarik untuk memanfaatkan mencari lailatul qadar tersebut, padahal sudah sangat  jelas tempat dan waktunya. Jika ada yang lebih mensefisiknya dalm malam malam ganjil sepuluh terakhir ramadalan, maka  ada pula yang lebih mengambil keumuman  sebuah hadis shahih yang menyatakan bahwa  lailatul qadar akan muncul di sepuluh terakhir bulan ramadlan. Dengan dmeikian kalau kita masih agatk ragu dnegan tanggal ganjil, maka dapat menjalaninya  pada setiap malam  di sepuluh terakhir bulan ramadalan.

Ini merupakn rahmat kepada umat muslim karena ada amalan yang begitu berarti dan sudah ditunjukkan waktunya, sehingga umat tinggal menjalaninya saja. Seharusnya secara teori seluruh uamt muslim akan tertarik dan  berebut mendapatkannya sehingga semua tempat ibadah akan penuh sesak oleh manusia yang menginginkannya. Aneh memang ternyata beberapa tempat ternyata malah tampak sepi tanpa ada aktifitas masyarakat dalam menyongsong  lailatul qadar tersebut.

Pada akhirnya memang semua terpulang kepada masing masing orang, apakah akan emmpercayai adanya lailatul qadar yang diturunkan oleh Allah setiap bulan ramadlan ataukah tidak, sebab smeuanya masih dalam tataran perbedaan yang memungkinkan juga. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa lailatul qadar itu hanya sekali turun yang pada saat alqura diturunkan untuk pertama kalinya, dan selanjutnya tidak ada lagi lailatul qadar. Sementara yang lainnya ettap saja meyakini ada lailatul qadar setiap ramadalan, hal tersebut dibuktikan sendiri oleh Rasul yang  mengatakannya dan sekaligus juga menjalani malam malam akhir ramdalan dengan emmperbanyak  I’tikaf dan beribadah kepada Allah swt.

Setidaknya kita harus memberikanpengertian kepada anak anak kita agar mengetahui hal ini sejelas jelasnya sehingga mereka akhirnya juga tertarik untuk mendapatkannya. Ketika a da orang yang berpandangan sebaliknya, kita biarkan saja mereka mengikuti pahamnya sendiri, tetapi kita juga berhak untuk memahaminya karena ada dalilnya yang snagat jelas. Dengan sikap demikian  kita akan tetap mampu memberian keteladanan kepada anak anak sekaligus juga tidak akan menyakitkan pihak lain.

Harapan kitantenrtu anak anak kita akan mempercayai lailatul qadar dan selalu mencarinya untuk kebaikan mereka  sendiri. Dengan mempercayainya tentu akan semakin tertarik untuk menjalani sesuatu yang baik dan memberikan manfata baik bagi dirinya, keluarganya maupun kepada masyarakat secara umum. Kita berharap agar  masyarakat juga  banyak yang mau berusah menjalankan kabaikan demi kebaikan yang dapat mereka lakukan  khususnya di bulan suci ramadalan, karena hal tersebut termasuk mensyiarkan islam secara umum.

Kita juga dapat berpedoman bahwa Tuhan pernah berfirman melalui hadis qudsi bahwa Aku Allah itu hanya mengikuti apa yang disangkakan hamba Ku, bilamana dia menyangkaKu baik  maka aku juga akan berbuat baik, dan sebaliknya jika hamba Kua menyangka Ku buruk maka aku juga akan berbuat buruk. Nah, jika kita beroendangan dan yakin bahwa lailatul qadar itu ada dan akan turun setiap ramadlan akhir, maka tentu kita juga berharap akan menemukannya dan mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang begitu banyak.

Apalagi kalau kemudian kita  mengamalkan banyak amalan baik yang mendukung tercapainya pahala, seperti membaca kitab suci alquran, berzikir dan munajat kepada Allah swt sambil terus beri’tikaf di masjid, pastinya akan semakin menambah  pahala bagi kita. Kalaupun kita bukan berkeinginan untuk mendapatkan pahala, melainkan keridlaan Nya semata, kita juga akan dapat semakin mendekat dan  bermunajat kepada Nya dengan penuh kekhusyukan dan keheningan. Semoga kita benar benar mendapatkannya, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.