MENJADI SEMAKIN SALIH

Sebagaimana kita tahu bahwa tujuan diperintahkannya puasa bagi umat muslim ialah agar mereka menjadi lebih bertaqwa, dalam arti menjadi lebih baik dalam segala perilakunya.  Sudah barang pasti dnegan menjalani latihan selama satu bulan penuh  sangat layak untuk diharapkan akan memperoleh penyadaran dan sekaligus komitmen untuk menjalankan semua kebajikan, baik yang menyangkut aspek pribai maupun dnegan aspek social dan lingkungan. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami bahwa setelah menjalankan puasa akan lahir sosok yang ideal sebagai manusia beriman.

Tanda tanda manusia ideal beriman ialah kalau akhlaknya begitu bagus dan perilaku kesehariannya juga bagus dan menyenangkan kepada masyarakat. Terhadap sesame dan terutama mereka yang lemah dia akan  tersentuh dan akhirnya berbagai atas karunia yang dititpkan oleh Allah kepadanya. Pastinya dia akan  selalu siap untuk membantu siapapun yang mengalami kesulitasn dalam hal apapun, termasuk kesulitan dalam hal finansial.

Puasa memang sering diibaratkan sebagai pusat latihan dalam meningkatkajn mental dan perilaku, sehingga  harapannya ialah setelah selesai latihan, hasilnya akan dapat dinikmati dan disaksikan. Nah, kalau dalam kaitannya dengan pelaksanaan puasa tersebut, sesungguhnya banyak hal yang dapat dip[eroleh darinya, seperti kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu, menjadi semakin disiplin dalam semua hal, menjadi semakin empati kepada merka yang tidak mampu dan semakin peduli terhadap mereka yang lemah dan tidak berdaya.

Mengingat itu semua seharusnya puaa itu digandrungi, bukan dijauhi atau dihindari, karena manfaatnya yang begitu besar bagi kita dan dalam rangka membentuk diri kita yang semakin salih. Lalu pertanyaannya ialah emngapa banyak diantara kita malah bersikap sebaliknya, yakni jika tidak merupakan sebuah perintah, maka pasti tidak akan emnjalani puasa, karena dianggapnya puasa itu hanya  membuat diri lapar, hausd an melas bekerja. Ini sudha barang pasti bwertentangan dengan tujuan puasa itu sendiri dan secara teori kita juga pasti akan membenarkan bahwa puasa itu akan mampu membuat diri semakin baik.

Namun tentu  bukan secara otomatis  setiap orang yang menjalankan puasa akan mendapatkan kebaikan seperti itu, karena dalam kenyataannya masih banyak orang berpuas namun bukan kebajika yang menjadi meningkat, melainkan malah keburukannya. Mungkin karena kenyataan itulah nabi Muhammad saw pernah mengingatkan kepada umatnya bahwa masih banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun terkecuali hanya lapar dan dahaga. Kenapa d,eikian? Ya karena pada saat menjalankan puasa sama sekali tidak mampu mengambil hikmahnya, bahkan malahan selalu mengeluh dan sejenisnya.

Jadi kalau ada orang menjalani puasa dengan keteerpaksaan dan  sama sekali tidak mau memikirkan bahwa  dengan berpuasa tersebut akan dapat diambil hikmahnya yang banyak, maka dia pasti tidak amampu mengambil manfaat di dalamnya dan yang dapat diperoleh ialah keterpaksaan menjalankannya dan, akhirnya malahan berandai andai kalau misalnya kewajiban puasa diganti dnegan sebuah anjuran semata atau mungkin diganti dengan perintah lainnya yang bukan dnegan cara menahan makan dan minum di siang hari.

Memang akan berbeda mereka yang mnejalankan puasa dengan terus mengeluh dengan mereka yang menjalaninya dengan penuh keyakinan dan optimism akan mendapatkan kabaikan. Bagi mereka yang selalu mengeluh dapat dipastikan  menjalaninya dnegan sangat berat dan mungkin juga pasti sangat tersiksa menahan lapar dan haus. Namun sebaliknya bagi mereka yang meyakini akan mendapatkan kebaikan, pastinya akan emnjalani puasa  dengan kegembiraan dan sama sekali tidak tersiksa dnegan kondisi lapar dan haus, bahkan mungkin  malahan akan mendapatkan nyaman dalam badannya.

Bahkan sebagian diantara mereka  melakukan puasa dengan mensiasatinya sedemikiah rupa sehingga tidak akan etrasa kalau sedang berpuasa, yakni dnegan menjalanknkan aktifitas  kebaikan, semacam tadarrus, mengajai dan mengkaji kitab tertentu atau melaksanaan kegioatan ssosial yang menyita banyak waktu sehingga tidak akan sempat memikirkan makan dan minum. Tentu  apa yang dilakukan tersbeut akan menjadi tambahan kebaikan bagi dirinya dan sekaligus juga akan membuatnya tidak berpikir tentang makan dan puasanya.

Terkadang bagi kita yang tidak terbiasa bekerja keras secara fisik akan  sedikit terkejut dan heran, mengapa banyak orang puasa tetapi masih juga menjalankan aktifitas fisik yang cukup berat?. Namun kalau kita kemudian mengingat baha dengan menjalankan akttifitas kerja, kita akan melupakan lapar atau haus dan hanya focus menjalankan pekerjaan, namun  mestinya juga harus dibatasi sehingga tidak kemudian malah menjadi masalah, yakni ketika  tubuh kehilangan banyak tenaga dan cairan.

Kembali kepada pokok persoalan awal yakni bahwa puasa itu akan mampu mengubah diri seseorang menjadi lebih salih, itu kalau dijalanka dnegan sebuah keinginanndiri yang kuat untuk memperoleh hikmah puasa sebagaimana yang diajarkan dalam puasa itu sendiri. Puasa itu mengedalikan diri dari  makan, minum dan hubngan badan dengan pasangan. Mestinya kalau kita mengingat  sabda Rasul kita juga semestinya menahan diri dari berkata kotor, mengucapkan kata kata yang menyakitkan, mencaci, menghardik dan sejenisnya. Demikian juga menahan diri dari melakukan dosa dengan melakukan kemaksiatan atau  membiarkan anggota tubuh kita melakukan aktifitas yang termasuk dosa.

Jika demikian kondisinya, yakni  disamping menahan diri dari makan, minuam dan hubungan badan juga menahan diri dari perbuatan buruk yang dilakukan oleh anagota badan kita, niscaya kita akan denagn mudah mendapatkan hikmah puasa. Pada saat menjalankan puasa kita harus disiplin, harus sabar, harus melakukan kegoatan yang baik dan ebrbagai lainnya yang berknotasi kebaikan, maka  tinggal kita meneruskan kebiasaan baik yang sudahnkita lakukan selama satu bulan penuh. Jadinya sudah tidak berat lagi untuk meneruskannya dan itulah kebaikan yang dimaksud.

Salah satu kebaiakn yang bersifat individual jika kemudian kita  langgengkan seperti shalat malam, tentu itu akan emmbuat diri kita menjadi semakin santun dan mampu menghayati kehidupan dnegan lebih baik lagi. Kebaikan lainnya yang terkait dengan social ialah bagaimana kita  dimudahkan dalam hal berbagi dengan sesame yakni berderma atau sedekah. Lalu pada saat kita sudah tidak berpuasa lagi, kita akan tetap melestarikan kegiatan beramal etrsebut,  dengan penuh kesungguhan. Nah kalau itu yang kita lakukan maka sudah barang pasti kita akan semakin baik dan  bijak dalam menghayati hidup di dunia ini.

Dengan dmeikian  maka  puasa yang kita jalankan meang benar benar akan mampu emngubah diri kita menjadi semakin baik dan salih. Itualh yang memang kita inginkan, bukan sebaliknya setelah puasa kemudian kita lkembali kepada kebiasaan buruk yang pernah kita lakukan. Atau dnegan kata lain seteah usai puasa lalu kita katakana merdeka dari semua kungkungan dan perintah yang memberatkan. Kalau benar speerti itu kondisi kita, maka amat disayangkan sekali karena puasa yang penuh dnegan janji kebaikan tersbeut justru kita lewatkan dnegan begitu saj tanpa hasil.

Semoga kita akan mampu mengubah diri kita menjadi lebih baik melalui aktifitas puasa kita yang kita jalani denganpenuh keyakinan dan ketulusan karena Allah swt.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.