MBALAH

Pada umumnya  para santri akan memanfaatkan kesempatan di bulan ramadlan untuk memperkaya diri persoalan keagamaan dengan cepat. Orang biasanya menyebut dengan posonan. Ada beberapa pondok pesanteren yang sengaja membukan ngaji posonan dengan membaca kita tertentu dengan cepat bahkan sejak pagi hari hingga sore dan hanya beristirahat sebentar saja, sehingga diharapkan pada sebelum mengakhiri ramadlam semuanya akan hatam dan ada sebagiannya yang  ngaji  beberapa kita sekaligus.

Biasanya para santri yang dating untuk tujuan etrsebut memang sudah  terbia mengaji dan dapat mengikuti ngaji etrsbeut dengan  baik, karena terkadang ada yang niatnya hanya ngalap berkah semata atau hanya  ingin mendapatkan sesuatu dari kiyai yang emmbacanya. Akan tetapi bagi santri yang masih pemula tentu tidak dapat mengikutinya dnegan baik, karena cara membaca kitabnya sangat cepat dan mungkin juga tidak akan dapat memahaminya. Namun tidak sedikit saat ini yang juga membuka diri untuk membaca atau ngaji kitab kecil dengan pembacaan yang tartil dan juga dipahamkan.

Hal tersbeut disadari bahwa untuk saat ini para santri yang ada kebanyakan adalah mereka yang sekolah dan  kurang menguasai persoalan kitab kuning, sehingga untuk memhamqakan dan sekaligus  mendapatkan pahala  ngaji di bulan suci, maka mereka diharapkan dapat mengikuti ngaji dengan kitab kecil dan dibaca secara pelan dan dijelaskan maksud kandungannya. Dengan begitu para santri akan dapat mengetahui isi kandungan kitab yang dibaca dan diharapkan pula nantinya juga akan dapat membacanya ulang dengan benar.

Bervariasi memang kitab yang dibaca dan dikaji di pesantren, dan kebanyakan ialah kitab fiqh karena itulah yang dianggap praktis dan langsung dapat diamalkan. Namun tidak sedikit juga yang membaca dan mengkaji kita tafsir, kitab hadis, kitab tasawuf dan juga kitab ushul serta nahwu dan lainnya. Biasanya juga  sangat dipengaruhi oleh kecenderungan kiyainya sebab kalau kiyai memang dikenal sebagai ahli tafsir, maka kebiasananya ialah mengkaji kitab tafsir, jika ahli dalam bidang fiqh, biasanya juga membaca kitab fiqh dan begitu seterusnya.

Hanya saja kalau kiyainya membaca kitab yang cukup tebal dan biasanya juga dimulai sejak bulan syakban itu hanya diikuti oleh santri pendatang dan mereka sudah banyak yang dewasa, sehingga mereka juga tidak memikirkan untuk sekolah sehingga dapat konsentrasi ngaji untuk seluruh waktunya.  Pada umumnya mereka juga memngikuti ngaji  sekehendaknya dan tidak ada yang melarang apakah dia itu akan serius dalam mengkuti ngaji ataukah ingin tiduran dan bahkan kalau ingin jalan jalan dan bahkan sampai pulang sebelum selesai bacaan kitabnya.

Pada zaman dahulu biasanya yang sangat dikenal saat ngaji pasanan ialah ngaji mblah tersebut dan santri satu pondok biasanya ingin mendapatkan pengalaman di pondok lain hanya pada saat posonan semata. Sudah lumrah bagi santri untuk mendatangi pondok yang belum pernah dijamahnya dan mengikuti posonan serta mengaji beberapa kitab dan kemudian dia juga dapat tabarukan kepada kiyainya. Meskipun dmeikian ada juga yang pada awalnya hanya pososnan, tetapi karena menyukai tinggal di pondok tersebut, lalu menetap di sana.

Rupanya  untuk saat ini kita agak kesulitan untuk mendapatkan pondok yang ngaji pososnan seperti itu, terkecualihanya di bebrapa daerah tertentu, karena kebanyakan pondok pesantren saat ini   hanya memberikan kesempatan kepada para santri yang sekaligus juga dengan sekolah atau kuliah, sehingga biasanya kalau puasa  juga hanya mengaji sebegaimana biasa dan tidak mengkhususkan mbalah sebagaimana pososnan tersebut.

Dengan tanpa ingin merendahkan santri zaman sekarang, tetapi kalau dilihat dari  ketrampilan para santri dalam membaca kitab kuning rasanya kita masih akan memberikan nilai tinggi untuk santri zaman dahulu, atau santri yang memang khusus untuk nyatri dan tidak disambi dnegan sekolah> biasanya para santri yang hanya nyantri akan serius dan seluruh waktunya hanya untuk menekuni dan membaca kitab kuning. Lain dnegan para santri yang juga  sekolah yang biasanya waktunya lebih banyak digunakan untuk konsentrasi sekolahnya, sedangkan ngajinya hanya disambi belaka.

Memang kalau kita berbicara substansi soal emmbaca kitab kuining atau mengajai tersebut bukanlah pokoknya, karena itu hanya sarana untuk mengetahui ilmu di dalam kitab tersebut. Untuk itu hal terpenting saat ini ialah bagaimana sntri mampu membaca dan menguasai serta memahami isi kandungan kitab yang ada. Sebab kalau santri sudah mampu emmbaca kitab tersbeut, lalu dia membacanya di manapaun pasti juga akan mampu mendapatkan informasi tentang isi kandungannya. Hanya saja dalam dunia santri kalau seseorang tidak berguru dan hanya membaca sendiri terhadap sebuah kitab, dianggap tidak muktabar.

Memang terkadang juga kita akan menemukan pemahaman santri terhadap buku yang salah karena hanya memahaminya sendiri dan ketika ada yang janggal juga hanya ditafsiri sendiri, tidak ditanyakan kepada guru yang memang mengetahui rahasianya. Namun secara umum buku buku yang dibaca santri yang terkait dengan sekolah itu jauhn lebih intens ketimbang buku yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran dis ekolah. Dengan demikian biasanya santri yang juga sekolah kurang mendalam dalam hal keilmuannya dalam bidang ajaran agama,  karena memang tidak biasa mendalaminya.

Ke depan kita akan sangat merindukan sebuah pesantren yang mendidik bukan saja  setengah setengah terhadap santri yang sekolah, melainkan juga  membuat target tertentu yang memungkinkan santri disamping enguasai keilmuan di sekolah sekaligus juga menguasai kitab kuning. Tentu ada metode yang harus disusun dan dijalankan dengan konsisten. Jika harapan tersebut nantinya dapat digarap dengan serius,  pastilah akan dapat dilahirkan generasi yang ideal dan dapat diandalkan untuk membuat maraknya dunia Islam lahir kembali.

Kita juga akan mampu menghidupkan kembali mbalah sebaguiamana zaman dahulu, namun juga akan diikuti oleh santri muda yang sehari harinya juga sekolah atau kuliah, sebab dengan system yang sengaja diberlakukan tersbeut, kiranya  akan semakin banyak ilmu yang akan dikuasai oleh para santri kita, bukan hanya  sekedar  menampangkan nama santri tetapi pengetahuannya tentang agama Islam  jauh dari harapan. Tentu kita semua  akan mendukung usaha nyata yang dilakukan untuk memenuhi harapan sebagaimana tersebut.

Biarlah saat ini kita hanya menyaksikan para santri mengaji dnegan kitab kitab kecil tentang fiqh praktis dan juga pengetahuan serba sedikit tentang tafsir dan juga hadis Nabi, namun mereka akan benar ebnar mengerti dan memahami  secara benar. Kita tidak ingin menyaksikan banyak santri yang sama sekali tidak mampu emmahami ayat ataupu  hadis, dan jika memahami hanya berdasarkan harfiyah semata yang umjung ujungnya akan meresahakan masyarakat, karena  pemahamannya justru bertentangan dengan pemahaman banyak ulama salaf.

Kita harus  mampu menciptakan kodnsi yang memungkinkan anak anak kita bangga menjadi santri yang sesungguhnya.  Mereka harus diberikan pelajaran yang disesuaikan dnegan kondisi dan situasi saat ini, bukan kemabali kepada zaman bahula yang hanya dikenal oleh para orang tua saja. Untuk itulah sudah saatnya ada  diantara umat yang peduli terhadap masalah ini dan memulainya, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.