LUPA

Ketentuan agama  memang tidak kaku, dalam arti  dalam setiap peruintah pasti ada pengecualian, seprti perintah puasa itu ada pengecualiannya, yakni jika sedang sakit dan atau bepergian, maka boleh tidak menjalankan puaa di Ramadlan, dan harus menggantinya di hari lain. Kalaupun perintah shalat itu tidak ada pengecualiannya, yakni dalam kondisi sakit pun tetap harus shalat, namun  diperbolehkan shalat sambil duduk, jika memang tidak mampu berdiri. Demikian juga jika dengan duduk pun juga tidak sanggup, maka boleh shalat sambil berbaring, jika masih tidak mampu dapat menjalankan shalat dnegan telentang, dan  akhirnya boleh juga menjalankan shalat dengan isyarat saja.

Shalat juga boleh tidak dijalankan sebegaimana biasanya  karena ada dispensasi, semacam jika sedang beperguian jauh yang sudha memenuhi kadar tertentu, maka boleh shalat itu diqashar atau diringkas, yang tadinya empat rakaat menjadi dua rakaat, dan juga bolegh dijamak, jika ada  keperluan yang membolehkannya, seperti sedang bepergian atau kesulitan menjalankannya, yakni dengan menggabungkan dua shalat dalam satu waktu, semisal  shalat dhuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya’, baik di waktu yang awal, yang kemudian disebut sebagai jamak takdim maupun di waktu yang akhir yang kemudian dikenal dengan jamak ta’khir.

Nah, persoalannya ialah  bagaimana jika perintah tersebut lupa tidak dijalani, bukan karena kesengajaan, melainkan memang benar benar lupa, karena manusia  terkadang lupa. Kalau kejadiannya demikian maka  jika terkait dengan puasa, seperti jika pada siang Ramadlan lalu minum atau makan, lalu seteah itu baru ingat kalau dirinya sedang berpuasa, maka puasanya tidak batal dan tetap sah, karena hakekatnya itu merupakan karunia Tuhan yang diberikan pada seseorang yang sedang berpuasa.

Namun harus diingat bahwa kalau  ingatnya baru separoh jalan minum ataupun makan, maka segera harus dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan. Namun jika lupa tersebut dikaitkan dengan kewajiban shalat, maka setelah ingat harus segera menjalankannya, meskipun sudah tidak pada waktunya, bahkan kalau ingatnya  setelah lewat satu hari pun tetap harus segera menjalankannya.  Tentu Tuhan tidak akan mempemaslaahkan lupa tersebut, dan tidak akan memberikan sanksi kepada orang yang benar benar lupa, dan dalam istilah fiqhnya  pen untuk mencatat amal itu diangkat ataun tidak digunakan pada saat ada aspek lupa.

Jadi dalam hal apapun kalau lupa itu seharusnya ada pengampunan, namun kalau terkait dengan pelanggaran terhadap aturan sesuatu, tentu harus dijeqaaslkan terlebih dahulu dan untuk memberikan kepastian hokum, maka  biasanya aspek lupa tersebut tidak diterima, karena akan rawan dan udah disalah gunakan oleh mereka yang memang tidak bertanggung jawab. Artinya jika lupa dapat diterima dalam persoalan pelanggaran hokum, maka akan banyak pihak yang memanfaatkannya untuk kepetningannya sendiri agar terhidnar dari jeratan hokum.

Tentu lain dengan lupa yang terkait dengan pelanggaran yang ada hukumannya yang jelas, semacam lupa lalu melakuklan hubungan seks dengan isterinya di siang Ramadlan, maka tetap saja akan mendapatkan sanksi sebagaimana mestinya. Demikian juga terhadap pelanggaran atas ketentuan hokum lainnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan kepastian hokum, karena persoalan lupa adalah sesuatu yang mudah untuk disalah gunakan atau digunakan untuk alasan menghindari sanksi hokum.

Lupa memang merupakan salah satu hal yang biasa dialami oleh manusia, karena itu terkait dnegan pelaksanaan kewajiban, lupa memang dapat menjadi  alasan pembenar jika terjadi kelalaian menjalankan kewajiban ibadah yang sifatnya individual, Bahkan kalau terjadi kelupaan terhadap sesuatui di dalam shalat,  sebagian ulama berpendapat dianjurkan untuk melakukan sujud sahwi atau sujud karena lupa, semacam kalau orang terbiasa membaca doa qunut dalam shalat subuh, lalu lupa menjalankannya, maka sebelum dia salam  dan ingat, maka dianjurkan untuk menjalankan sujud sahwi.

Termasuk jika dia lupa tidak  tasyahud awal, setelah menjalankan dua rakaat langsung saja berdiri tanpa duduk, maka itu juga  dianjurkan untuk menjalankan sujud sahwi dan shalatnya tidak batal. Tentu akan lain halnya jika yang terlupakan adalah sebuah rukun yang memang harus dijalankan dalam shalat, seperti lupa tidak membaca alfatihah atau lupa tidak rukuk dan lainnya, maka wajib bagi orang yang lupa tersebut untuk menjalankan kekurangan yang terlupakan tersebut manakala  ingat. Jadi bisa sja dia menjalankan shalat yang empat rakaat secara lahir dia akan menjalankannya menjadi lima rakaat, karena  satu rakaat dia lupa tidak membaca alfatihah sebagai sebuah keharusan.

Ada kalanya memang lupa itu menjadi penyebab seseornag harus meyakini sesuatu yang diingatnya, seperti jika ada orang yang shalat lalu dia lupa  sudah berapa rakaat yang dilakukannya, apakah sudah dua rakaat ataukah masih baru satu, maka dia harus meyakinkan dirnya, dan biasanya  dengan meyakini yang lebih sedikit, dan dia harus menyempurnakan hingga rakaat yang dimaksud. Aatau kalau dia sedang berthawaf di baitullah, apakah  sudha tujuh kali ataukah baru enam kali, maka dia juga harus meyakini dnegan mengambil yang terendah lalu menyempurnakannya menjadi tujuh kali sebagaima aturan yang ada.

Lalu bagaimana jika ada orang lupa tidak makan sahur, apakah harus mengulanginya pada saat ingat? Tentu tidak demikian karena sahur itu hanyalah kesunnahan belaka, sehingga kalau ada orang bangunnya sudah subuh, maka dia harus tetap puasa meskipun tidak sahur. Bagi ulama yang memang mengharuskan menginapkan niat puasa, maka  dia harus niat terlebih dahulu sebelum tidur sehingga kalaupun dia kesiangan bangunnya tetap saja masih dapat berpuasa dan sah puasanya.

Namun bagi ulama yang tidak mewajibkan dmeikian karena dengan  niat satu kali pada saat memasuki ramadaln saja sudah mencakup dan sah untuk puasa selama satu bulan, maka  langsung saja meneruskan puasanya tanpa harus menggantinya di hari lain. Memang ada yang  mengharuskan mengganti di hari lain, walaupun dia tetap harus meneruskan puasanya di hari itu karena belum niat puasa di malam haarinya.

Walaupun lupa itu manusiawi, namun kita sesungguhnya dapat merwencanakan sendiri untuk tidak lupa melalui berbagai alat teknologi yang saat ini sudah begitu canggih, semacam kalau kita menginginkan untuk bangun pada jam tertentu kita dapat menyetelnya sendiri sehingga pada saat yang kita inginkan kita akan dibangunkan oleh alat yang sudah kita setel tersebut sehingga tidak akanlupas untuk bangun. Kalaupun kita menginginkan tidak lupa pada saat kita sibuk bekerja, maka ada alat juga yang dapat kita  jadikan pengingat untuk mengingatkan kita dan begitu seterusnya.

Karena itu seharusnya  untuk saat ini kita dapat merencanakan sendiri apapun yang kita inginkan, sehingga  kita akan dapat menjalankan kewajiban kita sebegaimana mestinya tanpa harus diganggu oleh  sifat lupa kita yang terkadang memang mendominasi diri kita. Namun dmeikian jika memang Tuhan menghendaki kita lupa  tentu tidak ada appun yang mampu mengingatkan kita meskipun kita sudah menyetel alat tertentu untuk mengingatkan diri kita.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.