BAGAIMANA PUASA KITA DAPAT BERHASIL

Semua orang yang menjalani ibadah puasa tentu berkeinginan untuk  menjadi lebih baik dan puasa yang kita jalani akan menghasilkan sesuatu yang memang kita inginkan. Setidaknya  puasa  yang kita jalani akan menghasilkan pahala dari Tuhan,  juga akan mampu mengubah watak kita dari yang kurang baik emnjadi lebih baik, atau dari yang sudha baik menjadi lebih baik lagi. Namunh harapan etrsebut tidak mudah dan tidak semua orang yang menjalani puasa akan memtik hasilnya sebagaimana harapan.

Itulah mengapa nabi Muhammad saw  mengingatkan kepada umatnya tentang kegagalan mendapatkan pahala ppuasa, yakni melalui katany yang kita kenal bahwa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apapun terkecuali hanya lapar dan dahaga. Pertanyaannya ialah bagaimana mungkin  bisa begitu? Jawabannya ialah  kalau dia bwrpusaa dalam arti menahan  diri dari makan, minum dan berkumpul dengan pasangan di siang hari, tetapi dia masih menjalankan kemaksiatan, seperti dusta, menyakiti pihak lain, berbohong, mencuri dan sejenisnya.

Beberapa  aktifitas yang bermuara kepada kemaksiatan etrsebut memang dapat menghapus pahala puasa meskipun tidak merusaknya. Artinya secara syaraiat orang berpuasa dan melakukan kemaksiatan berdusta atau meyakiti pihak lain, baik dnegan   anggota badaannya maupun dengan mulutnya, maka puasany masih tetap sah, tetapi dia pasti tidak akan mendapatkan pahala puasa, apalagi mendapatkan hikmah puasa atau ketaqwaan. Karena itu snagat tepat jika yang didapatkannya ialah kelaparan dan kehausan.

Dengan dmeikian jika kta ingin mendapatkan pahala puasa, maka sayarat utamanya ialah kita menjalani puasa sebagaimana yang dituntunkan oleh Nabi, yakni dnegan memenuhi syarat syaratmnya, lalu juga menjaga mulut kita agar tidak mengatakan sesuatu yang dapat melukai pihak lain, tidak melakukan kemaksiatan lainnya dan yang pasti selalu melakukan perbuatan positif yang akan mendukung puasa kita.

Lebih jauh lagi jiika kita tidak hanya menginginkan pahala p[uasa semata, melainkan juga hikmah dan manfaat dari puuasa tersbeut, maka kita hartus mampu menggali sesuatu yang sudah biasa kita jalankan selama puasa untuk kita lestarikan pada saat nanti sudah keluar dari Ramadlan.  Salah satu yang dapat kita jalankan ialah  bangun malam dan menjalankan tahajjud serta membaca kitab suci. Kegiatan ibadah lainnya juga dapat kita jalankan semacam berzikir, bersedekah dan lainnya.

Jadi kalau kita menginginkan mendapatkan sesuatu yang  baik, maka cukuplah kita melestarikan amalan baik yang sudah biasa kita jalankan selama Ramadlan, karena  semua amalan ramadlan kalau kita  praktekkan  setelah ramadlan tentu akan sangat baik dan kita secara riil mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan  dan akan emmbawa kita menjadi manusia yang beruntung serta  bahagia.

Bukankah kita sering menyebut bahwa ramdlan ialah  pusat pelatihan  kita sebagai mukmin yang ingin meningkatkan ketaqwaannya. Nah, karena itu latihan yang kita jalani harus berhasil dan kita akan  mendapatkan hasilnya setelh selesai menjalani latihan etrsebut. Dengan dmeikian hasil puasa itu bukan pada saat latihan, melainkan akan dapat kita lihat nanti setelah selesai latihan, yakni pada bulan bulan setelah ramadlan. Jika pada saat latihan sudah bagus tetapi setelah selesai menjadi buruk lagi, maka latihan yang kita jalani dapat dianggap gagal.

Tentu hasilnya akan lebih baik dan bahkan melebihi kebiasaan  yang dihasilkan oleh sebuah latihan, jika kita juga menambah porsi latihan sendiri, semacam kita lakukan banyak kabiakan selama menjalani pelatihan etrsebut, yakni dnegan melakukan  ibadfah yang sunnah, melakukan  sedekah, melakukan tadarrus alquran, mengkaji kitab kitab agama islam, menyantuni anak anak yatim serta  menyenangkan mereka dengan berbagai  kegiatan yang positif, serta tentu dengan meberikan  sesuatu yang bermanfata bagi orang banyak.

Memang yang terpenting ialah bagaimana kita mampu menghasilkan sesuatu, bukan dalam arti kuantitasnya, melainkan  kontinyunya atau keberlangsungannya. Biasnya kalau kita menginginkan jumlah yang banyak atau kuantiotasnya, maka akan tidak bisa kita pertahankan, atau keberlangsungannya  sangat berat, karena itu ada saran agar kita menjalaninya satu atau dua saja kebaikan yang biasa kita sudah jalankan selama ramdalan.  Hal yang terpenting ialah bagaimana kita mampu melanggengkan aktifitas baik etrsbeut untuk selamanya.

Bukankah  sesuatu amalan sedikit itu lebih bagus jika  dijalankan secara terus menerus dan langgeng ketimbang sesuatu amalan yang benyak tetapi hanya sekali dua kali saja  Jdi istiqamah itu menjadi urgen dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Misalnya menjalani shalat dluha atau tahajjud scukup dua rakaat saja nemun dijalankan secara ajek  maka itu jauh lebih bagus ketimbang menjalaninya  delapan rakaat tetapi hanya sessekali saja dan selebihnya tidak menjalankannya lagi.

Sesungguhnya  mudah  bagi smeua orang jika menginginkan mendapatkan  hikmah dan sesuatu  dari puasa ramadlan walaupun masih banyak yang belum mengetahuinya. Kuncinya ialah kemampuan kita untuk menjalankannya secara istiqamah. Untuk itu memang menjadi berat, terkecuali bagi mereka yang memang sudah ada komitmen diri yang kuat untuk mendapatkan hasil puasa yang dapat dinikmati setelah puasa. Jika niat kuat dan tekat yang bulat, maka tidak ada sesuatu yang dirasakan berat, mungkin pada awalnya  sangat berat, namun kelau sudah terbiasa, maka akn menjadi terasa ringan.

Selanjutnya  kita tidak boleh meremehkan sesuatu yang dianggap sedikit, semacam  shalat dluha kok hanya dua rakaat, saya akan mampu menjalaninya empat atau delapan rakaat. Pernyataan seperti itu tentu karena dia belum menjaklaninya dan hanya membayangkan untuk melakukan shalat beberap rakaat. Namun jika sudah menjalaninya, maka akan etrasa sangat berat, bukan karena jumlah rakaatnya, melainkan lebih banyak pada kemampuannya untuk merutinkan dalam menjalaninya. Kalu hanya shalat sesekali saja mungkin akan mudah baginya, tetapi yang terpenting ialah bagaimana dapat mengajekkannya, dan biasany orang gagal dalam menjalani secara rutin atau istiqamahnya.

Atas dasar semua yang disampian tersebut, maka untuk mendapatkan hasil dalam menjalani puasa pasti diserahkan kepada masing maisng orang, karena yang menjalani ialah mereka sendiri. Jika meninginkannya secara sungguh sungguh, maka dia dapat melakukan apa yang sudah dijelaskan di atas dnegan kesungguhan yang maksimal. Namun jika dia memang tidak menginginkan mendapatkan sesuatu dari puasanya, maka cukuplah dia menjalankan kewajiban dan gugur kewjibannya, walaupun yang didapat hanya lapar dan haus saja.

Sebagaimana ibadah haji, p[uasa juga akan dapat disaksikan atau dilihat hasilnya setelah selesai menjalaninya. Orang yang haji dan  kemabrurannya hanya akan dapat dilihat pada saat  seseorang selesai menjalani ibadaha haji dan berkuimpul dengan masyarakat kembali, bukan diukur pada saat  di tanah suci dan menjalankan berbagai aktifitas di sana. Demikian juga orang yang berpuasa, ukuran berhasilnya bukan pada saat berpuasa, melainkan setelh selesai menjalaninya dan dia  sudah berada di luar Ramadlan.

Karena itulah kita mesti berhati hati dan serius dalam menghasilkan puasa tersebut, karena bioleh jadi pada saat puasa  seseornag akan berbuat yang terbaik, namun setelah selesai ramadlan justru malah mengulang apa yang sudah pernah dijalaninya dnegan sangat buruk. Semoga kita mampu menjalani puaa  dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik pula, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.