BUKA BERSAMA

Mungkin pada zaman dahulu tidak banyak kegiatan yang dilakukan pada  saat berpuasa, khususnya yang terkait dnegan berbuka bersama. Kebanyakan orang zaman dahulu akan menggunakan  seluruh waktunya untuk mengaji dan berdzikir dan selebihnya untuk berkumpul dengan ekluarga, terutama menjelang berbuk puasa. Namuns aat ini kondisinya sudah jauh berbeda,  pada saat menjelang berbuka puasa malah banyak kegiatan terutama yang diteruskan dnegan berbuka bersama.

Kegiatan ngabuburit, seminar dan diskusi serata rapat dan sejenisnya justru dilaksanakan pada sore hari dan dilanjutkan dnegan buka bersama. Terkang ada sebagian orang yang hamper separoh waktunya selama Ramadla tidak pernah ebrbuka bersama keluarganya, emlainkan  bersama dengan banyak orang lainnya.  Kbiasaan yang dmeikian ternyata bukan hanya milik dan monop[oli orang tua dan para pejabat yang mempunyai relasi banyak, namun juga sudah diikuti oleh anak anak kta yangmasih sekolah di  sekolah menengah.

Aanak anak SLTA sudah terbiasa dengan  buka bersama  dengan alasan gaul dan ingin membicarakan banyak hal termasuk rencana halal bi halal di sekolah dan rencana acara liburan idul fitri dan lainnya.  Tidak ketimnggalan pula  anak anak sekolah menengah pertama juga tidak ketinggalamn menyelenggarakan buka berama dnegan para guru mereka untuk sekedar menjaga silaturrahim dan kebersamaan, bahkan kemudian juga dilanjut dnegan shalat tarawih bersama di sekolah.

Hal yang  menjadi pertanyaan ialah kenapa anak anak SD juga ikutan buka bersama  dan bahkan terkadang malah merepotkan orang tua, karena merka juga harus diantar oleh orang tua. Jadilah yang berbuka bersama bukan hanya siswa SD, melainkan juga para orang tua. Masih beruntung kalau makanan takjil dan buka puasa disiapkan oleh sekolah sehingga ada kebersamaan dan tidak menimbulakn masalah, tetapi ada juga yang buka puasanya membawa sendiri sendiri, sehingga orang tua akhirnya jor jora dengan buka puasa tersbeut.

Bagi mereka yang kaya tentu tidak menjadi maslaah, tetapi bagi yang pas pasan tentu harus mencari akal bagaimana agar anaknya tidak malu saat berbuka bersama. Akhirnya terpkaslah orangtua harus  mebngutang dmei untuk buka anaknya di sekolah. Mengingat hal tersebut, sebaiknya untuk penyelenggaraan buka bersama anak anak sekolah harus dipikirkan untung dan ruginya. Jangan sampai keingiannnya baik tetapi yang terjadi malah sebaliknya yakni terjadi kecwemburuan dan ketidak bersamaan diantara para orang tua dan juga murid.

Tentu saat ini tidak mungkin kita melarang penyelenggaraan buka berama karena itu juga diklaim sebagai salah satu bentuk syiar islam itu sendiri, tetapi menurut saya harus ada pikiran yang cerdas tentang bukber tersebut, yakni jangan sampai niatnya baik malah menjadi blunder sendiri dan menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian orang. Karena itu pembenahan sistemnya juga harus dilakukan, semisal seluruh buka dan takjil harus diurusi oleh satu pihak meskipun harus urunan, karena ini akan membuat kebersaman semakin terasa dan mereka yang pas pasan pun juga merasa terbantu.

Sisi bagusnya buka bersama ialah menolong mereka yang kebetulan tidak mempunyai buka  dan diundang ikut berbuka bersama, seperti mereka yang bekerja di tempat jauh dari rumah atau para perantau atau para mahasiswa yang tentu  uangnya paspasan sehingga mereka akan merasa senang kalau diundang untuk berbuka bersama.  Dalam kasus kasus seperti itu tentu buka bersama akan sangat bagus  asalkan  ada sesuatu misi yang disampaikan untuk memperbaiki kondisi mereka secara umum.

Namun ada juga sisi negatifnya yang biasanya ketika buka bersama beersifat umum dan siappun dapat mengikutnya, karena terkadang banyak orang yang tidka berpuasa juga ikutna makan buka tersebut, dan  mereka setelah itu langsung pergi tanpa harus ada kepedulian untuk shalat maghrib. Nah, kalau ini yang terjadi tenu akan rugi karena ternyata yang ikut berbuka bersama bukan mereka yang berpuasa, padahal niat awalnya ialah  meberikan buka kepada yang berpuasa agar mendapatkan banyak pahala.

Secara umum memang buka bersama itu bagus, apalagi kalau dalam sebuah majlis kajian kitab tertentu sudah  selesai lalu dilanjut dnegan syukuran  melalui buka bersama. Meskipun menunya sangat sederhana tetapi kalau itu yang terjadi pasti akan terasa nikmat. Jadi semua  tergantung pada situasi yang mengriringinya. Namun secara keseluruhan tradisi bukan bersma amemang mempunyai tujuan yang bagus, hanya saja mungkin masih perlu dilakukan perispan dan pertimbanganyang matang sehingga tidak akan menimbulkan ekses yang negative yang justru akan merugikan kepada umat  muslim sendiri.

Pertanyaannya ialah apakah boleh buka bersama dnegan dihadiri oleh masyarakat non muslim? Jawabannya tentu boleh asalkan yang mengundang memperbolehkannya, karena untuk ajang silaturrahim dan kebersamaan. Bahkan mungkin sangat diperlukan untuk memberikan kesan baik kepada mereka yang tidka berpuasa. Harapanya ialah  agar mereka dapat meraakan betapa bahagianya saat makan buka tersebut sehingga merka pada saatnya akan tertaik juga untuk melakukan hal yang sama atau malahan mereka tertaik untuk masuk islam. Hal yang tidka mungkin dilakukan ialah dengan mengajak merka untuk shalat maghrib berhajamah karena mereka bukan orang muslim.

Kalau  mereka yang mengundang juga mempunyai keperluan lainnya dan akan  membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka yang bukan muslim, maka hal tersbeut juga tidak maslah, karena setelah menjalankan shalat maghrib, mereka bebas untuk  bersiap menjalankan shalat isya’ dan tarawih maupun shalatnya nanti nanti secara sendiri. Memperkenalkan tradisi islam kepada mereka yang non muslim karena ada kedekatan dengan merka dalam hal relasi tertentu tentu akan bagus apalagi kalau kemudian juga diniati untuk dapat menarik mereka bergabung dengan agama islam secar damai.

Buka berama hanya lah sebuah tradisi yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun kebersmaan dan relasi yang lebih bagus dalam hal bisnis dan lainnya. Dengan dmeikian sah sah saja ketika kita mengundang mereka yang non muslim untuk juga makan berbukan bersama demi kebersaman dan mempereart silauturrahim. Tidak ada birma yang dialnggar dnegan  buka bersama tersebut karena semuanya didasarkan kepada tradisi makan bersama  namun dinamakan dnegan bukan berama karena  kebetulan pas bulan puasa dan umat muslim melakanakan bukan puasa.

Bahkan karena sudha menjadi tradisi bangsa , maka jika ada undangan untuk menghadiri buka bersama  yang diselenggarakan oleh relasi kita yang kebetulan non muslim, kita juga tidak masalah menghadirinya, asalkan nanti kita dapat menjalankan shalat magjhrib tanpa kesulitan, dan kiranya merk juga sudh paham bahwa bagi masyarakat muslim ada kewajiban shalat  sehingga merka pasti juga akan menyediakan tempat beserta fasilitasnya.

Sudah barang tentu juga menunya harus halal dan tidak tercampur dengan makanan yang diharamkan, dan itu juga pastinya sudha diketahui oelh mereka yangm megundang dan karena itu biasanya merka juga mengundang  catering yang memasak secara halal. Jadi dalam era yang seperti saat ini kita tentu sudah saling mengenal dan mengetahui amsing masing yang dibtuhkan,s ehingga  tidak mungkin akan diperlakukan secara tidak baik apalagi kalau kita diundang. Semoga kita dapat lebih menyadari lagi tentang pentingnya bukan bersama tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.