DISPENSASI PUASA

Islam memang gama yang tidak memberatkan bagi para peme;uknya, sehingga jika ada keberatan  dan ada halangan untuk tidak menjalani  kewajiban yang dibebankan kepada seseorang, tentu ada jalan keluarnya yang dapat ditempuh dengan tanpa  mendpaatkan sanksi dari agama itu sendiri.  Contohnya berpuasa, meskipun berpuasa merupakan kewajiban  yang dibebankan kepada seluruh umat muslim, tetapi bagi yang keberatan, karena alasan tertentu dapat tidak menjalaninya, melainkan dapat diganti pelaksanaanya pada waktu lain yang memungkinkan.

Jika kita sedang sakit sehingga berat untuk menjalani puasa, maka agama memberikan dispensasi untuk tidak menjalankan puasa di bulan ramadlan, tetapi cukuplah menggantinya pada hari lain setelah ramadlan usai yang diperkirakan tidak akan emmberatkan kepada kita, atau jika kita sedang emmpunyai urusan tertentu dan harus bepergian jauh, maka jika kita me4rasa berat untuk menjalani puasa, juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa, dan hanya menggantinya di hari lain sebagaimana  ketika sakit tersebut.

Bahkan bagi orang yang karena usia terlalu renta dan berat menjalani puasa, malahan diberikan keringanan untuk tidak menjalani puasa, dan cukup membayar fidyah saja yakni emmberikan makan kepada orang miskin tanpa harus membayar puasanya di waktu lain. Itu karena kalau orangntua renta karena usia, tidak mungkin akan kembali menjadi muda, jadilah ada jalan keluar yang sangat memudahkan kepada umat. Belum lagi  ijtihad para ulama yang meberikan dispensasi juga bagi para ibu ibu yang sedang hamil yang hawatir dengan kandungannya serta para permpuan yang sedang menyusui anak bayinya juga diberikan dispensasi tidak menjalanin puasa.

Dengan demikian Islam itu sungguh sangat bijak kepada para pemeluknya dan tidak memaksakan untuk  dijalankannya kewajiban jika ada kendala yang memberatkan. Lalu  mengapa masih banyak  umat yang tidak mau menjalankan keqwajiban meskipun tidak ada kendala? Tentu jawabannya ialah karena  mereka itu tidak taat dan mengambil jalan sendiri yang nanti pasti akan dipertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Kalau soal orang yang tidak patuh itu di mana mana pasti ada dan mereka biasanya akan rugi sendiri, baik  ketika masih ada di dunia ini apalagi  ketika nanti di akhirat.

Lalu apakah diperbolehkan jika ada oprang yang dengan sengaja  untuk mendapatkan keringanan tersebut semacam karena terasa berat menjalani puasa maka agar tidak emndapatkan dosa, lalu dia merancang untuk bepergian ke tempat yang jauh yang menurut ketentuan syariat sudah boleh untuk membatalkan puasa, lalu setelah itu dia kembali lagi? Jawbannya  ialah itu sangat tergantung niatnya, jika niatnya hanya untuk kepentingan tidak p[uasa semata, maka secara etis sngat buruk meskipun secara syariat itu sah dan boleh.

Tujuan diberikannya dispensasi ialah untuk memberikan jalan keluar bagi mereka yang mempunyai  urusan tertentu dan teras berat untuk menjalankan puasa sekaligus, lalu agar urusannya tetap dapat berjalan dan puasanya juga tidak mendapatkan dosa, maka diberilah keringanan etrsbeut. Jasdi dispensasi etrsbeut bukan untuk main main dan untuk alaasn yang tidak ada kaitannya dengan persoalan agama. Memang benar kalau kita hanya berpedoman kepada persoalan syariat, maka aasalkan sudah memenuhi persyaratannya maka boleh orang tidak menjalankan puasa.

Tetapi dalam beragam itu juga ada kalanya kita harus meegang etika dan tidak semata mata urusan syariat. Sebagai contohnya ialah bahwa definisi puasa ialah mengendalikan diri untuk tidak makan, minum dan berkumpuil suami isteri  sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Jadi kalaupun ada orang yang sudah menjalani itu maka sah puasanya, meskipun pada sat berpuasa dia juga ghibah, berdusta, bahkan mencuri dan melakukan perbuatan maksiat lainnya. Lalu katika kita tanyakan  kenapa  puasanya masih juga saha padahal dia melakukan perbuatan maksiat?

Maka jawabannya ialah karena puasa secara syariat memang hanya itu persyaratannya, sedangkan untuk urusan apakah puasanya nanti mendapatkan pahala dan dampak positif yang dikandungnya, tentu itu merupakan persoalan lain. Justru menurut nabi Muhammad saw puasa yang demikian, yakni yang dibarengi dnegan perbuatan maksiat, maka tidak akan diganjar atau tidak mendapatkan pahala, dan bahkan dikatakan dia hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga, namun kewajibannya untuk menjalankan puasa sudah gugur.

Ternyata masih banyak lagi ketentuan syariat yang pelaksanaannya harus disertai dnegan memperhatikan etika di dalamnya agar tujuannya dapat digapai. Sangat tidak mungkin kalau orang ingin menggapai taqwa melalui menjalankan puasa, lalu pada saat menjalaninya malah melakukan perbuaatn dosa yang akan menjauhkannya dari  sifat taqwa. Bahkan untuk menjalani ibadajh shalat saja juga harus memperhatikan  etikanya, seperti mendalami makna yang dibaca sehingga akan memberikan dampak yang inginkan.

Sebagaimana kita tahu bahwa shalat yang kita jalani  akan mampu menjauhkankita dari perbatan keji dan mungkar, lalu begaiamana mungkin kita dapat menggapainya jika sata menjalankan shalat hati kita kosopng dan mungkin kita juga tidak berkonsentrasi, meskipun rukunnya kita jalani. Mungkin kita tetap akan terbebas dari kewjiban menjalankan shalat karena kita sudha menjalaninya, tetapi kita tidak akan emmperoleh dampak pelaksanaan shalat yang sangat luar biasa bermanfaat, yakni menajdi pribadi yang baik.

Dispensasi puasa juga tidak boleh kita jadikan sebagai alasan saja, karena  kita tidak ingin menjalani puasa, semacam berpura pura sakit sehingga lingkungan akan memahami ketidak puasaan kita, namun Tuhan tidak akan dapat ditipu dengan pura pura sakit tersebut. Dengan begitu pasti Tuhan akan mencatatnya sebagai pribadi yang tidak taat dan akan diberikan  dosa yang setimpal. Jadi sebagai hamba Tuhan yang mempercayai penuh kepada Nya, tentun kita harus mencoba untuk menggali hikmah di dalam setiap perintah agar kita dapat dengan kesadaran penuh mau mentaatinya.

Hal terpenting bagi kita ialah bagaimana kita menetapkan hati kiota untuk mengikuti dengan ketaatan penuh kepada setiap perintah Tuhan, karena itulah yang akan mengantarkan kita kepada sbeuah kondisi yang  sangat sadar dalam menjalani  setiap perintah agama dengan penuh ketaatan yang benar benar tulus dari dalam hati sanubari, baukan hanya akal akalan saja.

Kewajiban apapun yang secara langsung disampaikan oleh Tuhan untuk dilaksanakan oleh sleuruh umat, maka sebaiknya kita tidak mempertanyakannya dan mencoba untuk mengelak darinya, sebab  di dalam setiap perintah Tuhan sudah memperhitungkan tentang manfaat dan  keuntungan yang akan dip[eroleh oleh umat, meskipun umat belum mengetahuianya secara pasti. Namunyang jelas kita harus percaya bahwa smeua printah pasti akan memberikan dampak yang baik bagi  umat itu sendiri.

Keyakinan itulah yang harus terus kita pupuk dan kembangkan dalam pikiran kita sehingga kita akn selalu berbaik sangka kepada Tuhan dan kita juga akan bersemangat dalam mejalani setiap perintah yang diberikan. Keyakinan itulah yang dibutuhkan bagi kita sehingga kita tidak akanterjebak kepada persoalan lahiriyah yang  terkadang kita otak atik untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi, meskipun itu mungkin akan berkibat buruk bagi kita sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.