OPTIMIS DALAM MENJALANI PUASA

Ketaqwaan yang kita inginkan dalam menjal;ani ibadah puasa tentu bukan sekedar kata kata semata, melainkan keinginan yang sungguh sungguh. Allah swt sendiri yang menyatakan dalam sebuah ayat yang dimuat dalam kitab suci alquran bahwa hakekat manusia diwajibkan untuk berpuasa ialah agar manusia bertaqwa. Lalu pertanyaannya ialah taqwa yang seperti apa yang diinginkan? Apakah hanya sekedar takut kepada Allah swt dengan menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya? Ataukah ada hal lain yang harus dimasukkan  ke dalamnya?

Kalau kita mengacu kepada ayat ayat alquran pada permulaan  surat albaqaeah, kita akan menemukan bahwa ciri ciri orang yang bertaqwa ialah dia percaya kepada hal hal yang gaib. Sebagaimana kita tahu  kita meyakini beberapa hal yang meskipun kita belum pernah mengetahuinya atau melihatnya, seeprti  Tuhan  sendiri, para malaikat Tuhan, surge  dan nerakan sebagai tempat tinggal manusia di akhirat nanti, kemudian juga setan  iblis dan sejenisnya dan juga pahala dan siksa di akhirta nanti. Nah, kita harus emmpercayai smeua itu sebagai tanda kita bertaqwa.

Lalu dia mau menjalankan ibadah shalat. Mungkin masih ada sebagaian diantara umat yang tidak begitu memandang penting keberadaan shalat etrsebut, padahal shalat merupakan satu satunya perintah Allah yang langsung disampaikan oelh Allah kepada nabi Muhammad saw pada saat menjalani isra’ dan mi’raj, sementara itu p[erintah yang lainnya hanya cukup disampaikan melalui malaikat jibril. Shalat juga satu satu ibadah yang tidak boleh ditinggalkan dnegan berbagai alasan. Dengan dmeikian shalat sangatb layak sebagai ibadah yang nanti akan dimintakan pertanggung jawabkan pertama kali oleh Tuhan di akhirat.

Bahkan  dari shalat itulah malaiah manusia akn dapat dinilai, yakni jika shalat seseorang baik, maka amalan lainnya tentu juga akan bernilai baik dan sebaliknya jika shalat seseorang buruk maka amalan lainnya juga buruk. Ityu disebabkan bahwa shalat yang dijalankan dnegan benar dan sesuai dnegan tuntutanan nabio Muham ad saw, tentu akan mampu emngubah diri seseorang menjadi lebih baik. Sahalat akan mampu mencegah  dari perbuatan keji dan munkar serta berbagai perbuatan maksiat. Itulah mengapa shalat merupakan salah satu ciri orang yang taqwa.

Kemudian ciri lainnya ialah dia mau menunaikan zakat. Nah, untuk persoalan zakatn ini ternyata banyak diantara umat muslim yang belum memahaminya, bahkan diantara mereka hanya mengetahui zakat fitrah saja, padahal zakat yang paling signifikank dan  memungkinkan untuk dijadikan sebagai penyelesai persoalan umat ialah zakat mal. Jadi jika masyarakat muslim semuanya mengetahui zakat dan mau dnegan senang hati mengeluarkananya, pasti umat akan lebih mudah untuk mengatasi berbagai persoalan keumatan. Persoalannya ialah karena ini masih belum dipahami oleh sebagian besar umat sehingga zakat masih terasakan seret.

Untuk itulah zakat ini  termasuk salah satu pertanda ketaqwaan seseorang, karena ini terkait dengan ketulusan orang dalam menyisihkan sebagian hartanya untuk diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat yang membutuhkan. Orang yang peduli dan peka terhadap nasib serta penderitaan pihak lain tentu akan dnegan  mudah menyalurkan sebagian hartanya untuk kepentingan  umat tersebut. Sebaliknya jika orang itu tidak peduli dan tidak empati terhadap pihak lain, maka akan sulit pula saat diminta untuk menyisihkan sebagian hartanya demi kepentingan masyarakat banyak.

Nah, dengan latihan selama bulan suci Ramadlan dalam memperbaiki diri tersebut, diharapkan hasilnya akan dapat dipetik pada saat setelah menyelesaikan ibadah ramadlan tersbeut, yakni  kepedulian terhadap nasib orang lain dan sekaligus ketertarikan untuk selalu bebrbuat baik kepada siapapun juga.  Akan muncul; dalam dirinya bahwa semua harta yang berada di tangannya ialah hanya titipan Tuhan semata sehingga dia harus berusaha untuk mentawsarufkannya dan jika Tuhan memintanya pasti harus dengan rela hati menyerahkannya.  Artinya jika Tuhan meminta untuk berzakat, maka dengan psti dia akan mengeluarkannya.

Bahkan dalam bahasa alquran ciri orang taqwa tersebut bukan hanya mau mengeluarkan zakat yang memang diwajibakan, melainkan juga mau menginfaqkan sebagian hartanya kepada mereka yang membutuhkannya. Banyak orang yang karena rajin berinfaq ternyata bukan  menjadi fakir, melainkan malahan bertambah kaya dan bahagia hidupnya. Mereka tentu sangat meyakini bahwa siapapun yang memberikan sesuatu yang baik, pasti Tuhan akan membalasnya sepuluh kali lipat yang dia keluarakan, bahkan mungkin malah bisa lebih.  Jika keyakinannya tersebut benar benar mendarah daging, bukan tidak mungkin Tuhan justru akan semakin emmberikan kemudaha demi kemudahan kepadanya.

Ciri lainnya ialah bahwa dia mempercayai apapun yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan juga apapun yang dibawa oleh para utusan sebelum beliau. Ini penting untuk ditekankan karena  banyak diantara umat yang tidak mau mempercayai apa yang dibawa oleh beliau dengan berbagai alasan, padahal kita sudah total mempercayainya dan sekaligus apapun yang dibawanya, baik terkait dnegan informasi tentang akhirat maupun terkait dengan persoalan kehidupan di dunia dan masalah lain yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia.

Ciri berikutnya ialah mempercayai kehidupan akhirat, tentu ini akan terasa berat bagi mereka yang tidak mau percaya karena kehidupan akhirat itu abstrak bagi mereka dan belum dapat dibuktikan secara nyata. Termasuk persoalan akhirat ialah alam barzah atau alam kubur, bahwa di dalam kubur itu ada nikmat dan adzab, dan kalau seseorang tidak mempercayainya, pasti akan sulit bagi kita untuk meyakinkannya karena kita sulit membuktikannya terkecuali mereka diberikan hiodayah oleh Allah swt.

Pada saat nanti hari kiamat sudah dating dan seluruh makhluk sudah mati, maka Tuhan lalu menghidupkan nya kembali dan setelah itu mereka akan mengikuti pengadilan Tuhan yang paling adil dan semua  akan diperlakukan sama. Nah, pada saat itulah  semua akan  kebingungan terkecuali bagi mereka yang saat di dunia mempercayai Tuhan dan mau mengamalkan banyak hal yang menjadi bekalnya di akhirat saat itu. Pada saat itulah  Tuhan kemudian semacam menguimumkan bahwa smeua hamba harus mengikuti perhitungan atau hisab dan smeua harus berkumpul menjadi satu, meskipun ada orang orang durjana akan dipisahkan.

Nah, informasi yang dmeikian tentu tidak akan mudah diterima oleh mereka yang memang tidak ada keyakinan tentang akhirat dan hanya mereka yang sudah mempunyai keyakinan sajalah yang akan mempercayainya. Karena itu bagi orang yang berpuasa  dan dilatih untuk senantiasa mengngat Tuhan dan mengerjakan amalan untuk memperoleh  pahal itul;ah yang nanti akan emngantarkannya sebagi orang yang bertaqwa dan  mempercayai apa yang terkait dnegan pemberitaan akhirat.

Jadi ketika merka sudah mempunyai ciri sebagai orang yang bertaqwa tersebut, tentu mereka akan mendapatkan petunjuk dari Allah swt dan mereka akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Untuk itu mari kita jalani puasa ini dengan penuh keoptimisan dan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita jika kita mampu menjaolani ibadah puasa ini dengan baik dan penuh ketulusan serta kepatuhan. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.