YUK BERLAKU WAJAR

Kelemahan kita terkadang ialah musdahnya kita menerima tawaran seseorang untuk diajak makan atau sekdar diajak gobrol bersama yang awalnya bias biasa saka, namun pada khirnya  kemudian meminta seuatu kepada kita. Jika kita lemah maka biasanya kita tidak mampu enolak permintaan sesuatu yang aneh dan melanggara aturan. Namun jika kita tegas dengan pendirian, maka  pihak lain tersebut pasti akan berpikir banyak sekali sebelum meutuskan sesuatau tentang kita.

Oranglain pasti akan terus mendesak kepada kita tentang peluang yang menggiyurkan, dan pasti scara ekonomi akan menguntungkan kita,meskipun resikonya psti tinggi karena itu menyangkut pelanggaran terhadap aturan main yang sudah ditetapkan. Biasnya kemudian pihak lan tersbeut menjamin tidak akan terjadi apap apa, dan di situlah kemudian biasnaya kita akan terjebak dengan permainan mereka dan setelah kita masukd alam lingkaran mereka pasti kita akan sangat sulit untuk keluar darinya.

Untuk itu harus  dip[ikirkan sejak awal bahwa bagaimanapun kalau terkait dnegan pelanggaran terhadap sesuatu aturan, maka dapat dipastikan itu bedosa dan pasti akan merugikan diri kita sendiri. Kalau misalnya di dunai masih ditutup oleh Tuhan, maka kita harus yakin bahwa di akhirat nanti pasti akan terbuka dan kita mendapatkan ganjarannya.  Jika  penghasilan dari pekerjaan yang kita tekuni memang sedikit dibandingkan dnegan penghasilan pihak lain, maka itu sudah menjadi ketentuan, dan jika kita menginginkan yang lebih, maka kita harus melakukan sesuatu yang lebih secara wajar.

Jalan pintas yang sering diambil oleh banyak orang ternyata hanya akan menyengsarakan saja, bukan menjadikannya  bahagia dan sejahtera. Kejujuran dan  ketaguhan hati dalam emmegang aturan main harus terus dipertahankan meskipun mungkin terasa berat beban hidup.  Sebaliknya berlaku curang mungkin tampaknya ringan dan menghasilkan banyak uang, namun  dapat dipastikan itu akan menyengsarakan dan  merugikan, baik di dunia maupun di akhirat. Kita tidak perlu lagi  ragu untuk persoalan ini karena itu  ajaran yang agamis.

Hidup secara  tulus dan nerimo apa adanya  yang kita hasilkan dnegan cara yang halal, pastinya akan mampu memberikan kesejahteraan, walaupun secara lahir tampak kekurangan. Hatinpastinya akan tenang dan  keseluruhan aktifitas kita juga tidak akan terkejar oleh perasaan was was  serta takut terjadi sesuatu yang menyebabkan dirinya ketahuan melakukan kecurangan dan mendapatkan hukuman.

Setan memang banyak bergantayangan di sekitar kita, apalagi kalau  salahs atu anggota keluarga kita sudh kemasukan setan lalu juga ikut merayu kita, maka akan semakin berat pertahanan kita.  Akan tetapi jika kita memang terus menerus mempertahqakan kejujuran dan keimanan  yang sudah tertancap di dada kita, tentu smeua akan mampu kita jalani dengan selamat, meskipun seribua setan meyerbu dan menggoda kita dari segala penjuru mata angina. Kekuatan Allah swt  tentu ajauh lebih kuat ketimbang kekuatan setan yang selalu mengincar kepadssetiap insan beriman.

Setan itu tidak mengenal keturunan  dan  kekuatan apapun yang dimiliki oleh seseorang, bahkan  seorang kiyai saja pasti akan diusahakan untuk digoda dengan  cara yang lebih canggih. Karean itu kita dapat menyaksikan betapa banyak tokoh agama yang justru terseret kepada hal hal memalukan, padahal secara lahir mereka itu sudah banyak memakan  garamnya kehidupan keagamaan namun masih dapat digoda apalagi kalau kita tidak membentengi diri dengan kekuatan penuh, pastinya akan dnegan mudah ditaklukan oleh setan tesebut.

Saat ini  para ulama yang biasanya penampilannya sederhana saja, sudah mulai ada keinginan tampil beda dengan penuh wibawa dari sisi pakaian, jadilah meeka kemudian sudha mulai menyukai hal hal yang ebrbau duniawi. Nah kalau sudah begitu maka akan dengan mudahnya merka masuk dalam benak  para ulama kita tersebut dan biasnya kemudian mereka akan sedikit demi sedikit mulai menyesatkan mereka melalui  perlakuakn mereka terhadap umat, khususmnya yang miskin yang sudha tidak lagi dihargai dan diperlakukan dengan baik.

Terkadang kita sedih menyaksikan betapa ada ulama dan kiyai yang terperosok dalam kubangan keduniawiyan dan bahkan kemudian malah  sama sekli meninggalkan dunia kesufiyannya.  Hidup hedonis menjadi  kebiasaan barunya sehingga tidak salah kalau kemudian mereka ingin mendapatkan kemudahan demi kemudahan untuk memperoleh dunia tersebut. Mereka sudh lupa kalau mereka itu pemimpin umat yangharus mengayomi dan menghargai semua umat tanpa terkecuali.

Saat ini dunai mungkin memang sudah terbalik, karena banyak diantara orang pintar yang tidak lagi memperhatikan orang yangawam denagn terus memberikan pencerahannya, melainkan justru malah asyuik dengan kemewahannya  dan meninggalkan umatnya yang miskin. Merka hanya mau melayani mereka yang berduit dan sama sekli menjauh dari orangmiskin tyang seahrsunay menjadi garapannya.  Itu tentu menjadi malapetaka besar bagi umat karena tidak ada lagi panutan yang dapat diandalkan untuk menuntun mereka.

Yang teertinggal hanyalah mereka yang  masih berpegang teguh dnegan kejujuran dan itupun akhirnya hanya  tinggal sedikit karena sel;alu dipojokkan dan bahkan dimusuhi oleh merweka yang cinta kepada dunia. Karean itu mari kita sadari bersama tentang kondisi demikian dan kita  tetap teguh memegang  kebenaran serta tetap mendekat kepada kaum yang perlu kita tolong. Kita memang membutuhkan uang dan harta, tetapi itu bukan satu satunya dan menjadi tujuan hidup, karena kita hanya ingin mendapatkan kebahagiaan  yang sesungguhnya bukan kebahagiaan semu.

Untuk diri kita sendiri kita juga harus mulai curiga jika keinginan kita sudha mulai banyak dan tidak lagi sedrhana, karena boleh jadi itu merupakan keinginan setan yang sudah mulai merasuk ke dalam diri kita. Nah, jika kita menyadarinya sehjak awal, tentu kita akan mendapatkan kesadaran yang lebih sehingga kita akan mampu untuk menangkalnya dan tidak lagi berkompromi dengan setan yang hanya akan menyengsarakan saja. Kita tahu mungkin nafsu kita akan memberontak karena  keinginan kita terhalangai oleh sikap kita yang bertentangan dnegan keinginan nafsu kita tersebut.

Jadi selama tindakan kita masih wajar dan sesuai dnegan norma kebiasaan yang sudah berjalan selama ini maka kita masih aman dalam hal perlakuan terhadap pekerjaan, namun jika sudah cenderung kepada keinginan terhadap sesuatu yang tidak wajar, maka  saat itu pula kita harus mencurigai dirinkita sendiri dan lalu introspeksi diri sekaligus menentang keinginan nafsu kita sedniri tersebut. Kita harus yakin baha keinginan diri tersbeut hanyalah bujukan setan yang akan menjerumuskan kita.

Jadi jika kita ingin selamat dunia dan akhirat, syaratnya hanya ada satun yakni kita harus terus mengontrol diri kita dari segala macam keinginan. Jadilah kita sebagai pihak yang tulus menerima apapun yang kita hasilkan secara halal,meskipun  mungkin akan bertentangan dengan keinginan diri kita sendiri. Kita harus terus mengingat dan membuka ketentuan gaji yang seharusnya kita terima dan itulah yang harus kita pertahankan. Jangan sampai kita justru menginginkan tambahan yang tidak benar atau tidak saha menurut  aturan main.  Semoga kita akan mampu mempertahankan diri kita  sebagai pihak yang jujur dan memenangkan pertarungan melawan setan, amin

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.