MENGAPA BANYAK TANGGAL MERAH PADA HARI RABU

Barangkali bagi sebagian orang tanggal merah tidak menjadi persoalan, namun bagi saya dan mungkin banyak orang yang mempunyai kewajiban di hari Rabu akan menjadi masalah, karena kewajiban yang harus ditunaikan, seperti mengajar dan masuk kelas pada setiap Rabu tentu akan terganggu, sebab kalau dalam kasus saya, ialah Rabu pertama di bulan Maret ialah bertepatan dnegan wisuda sarjana dan pascasarjana sehingga praktis tidak dapat masuk kelas, dan itu semua menjadi sangat maklum.

Lalu Rabu tanggal 3 April juga harus libur karena  hari Isra’ mi’raj nabi Muhammad saw, lalu rabu tanggal 10 April kebetulan pas ada acara di luar kota sehingga tidak dapat masuk kelas, dan ditambah dnegan Rabu tanggal 17 April pas bertepatan dengan pilpres dan pemilu serentak sehingga juga libur. Baru tanggal 24 dapat masuk dan tanggal 1 Mei harus libur lagi karena menjadi hari buruh nasional. Dengan begitu sudah cukup banyak harirabu yang tidak dapat dimanfaatkan untuk menajalankan kewajiban.

Meskipun sebagaimana biasanya  pada menjelang aklhir masa kuliah, nanti saya akan menambah  kuliah di hari lain dan jam lain sehingga setidaknya dapat memenuhi kewajiban masuk kelas dan mengajar kepada mahasiswa, namun tentu bukan merupakan kebiasaan yang baik. Namun tentu smeua mahasiswa masih dapat memakluminya karena memang  tuigas saya yang bukan hanya  menjadi dosen, tetapi juga mendapatkan tugas tambahan sebagai pimpinan di perguruan tinggi yang harus menjalankan tugas tugas luar dan lainnya.

Bahkan  kalau sudah bagini  dosen lain dan juga  orang yang mempunyai tugas pada hari Rabu pun juga pasti akan sedikit  terganggu karena tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, karena tergangu oleh libur yang terjadi. Namun sesungguhnya kita juga menyadari bahwa tidak hanya  saat ini saja karena setiap tahunnya juga akan terjadi libur pada hari hari tertentu dan juga pasti akan sedikit mengganggu tugas dan kewajiban orang yang kebetulan mempunyai kewajiban menjalankan tugasnya di hari libur tersebut.

Pada sisi lain kita memang menghendaki ada pemberian penghargaan kepada umat tertentu dengan menjadikannya sebagai hari libur nasional, namun di sisi lain kita terkadang juga memikirkan bagaimana libu nasional yang terlalu banyak sehingga  mengganggu pekerjaan kita. Namun semua itu tentu sudah dip[ikirkan secara matang dan pasti setiap kebijakan apapun, dapat dipastikan ada  sisi positif dan negatifnya, ada plus dan minusnya sehingga kita memang harus mampu menerimanya dengan lapang dada.

Persoalannya ialah mampukah kita  mencari cara agar kewajiban dan tugas yang kita jalankan tidak akan berkurang secara substantive dan mereka yang seharusnya mendapatkan layanan juga tidak dirugikan.  Dalam kasus pemberian kuliah ekpada mahasiswa, tentu dapat dicarikan solusi dengan menambah kuliah di  hari dan jam yang lain sehingga akan dapat menutup kekurangan yang ada. Namun hal tersbeut tentu juga harus dibicarakan secara  baik dengan para mahasiwwa karena mungkin diantara mereka yang yang berkeberatan karena mengganggu aktifitas mereka yang lain.

Jika memang kesulitan dalam mendapatkan pengganti hari yang hiolang etsebut, juga dapat dicarikan silusi lainnya, semacam kuliah yang berupa tugas  kepada para mahasiswa agar mereka mencari dan mendapatkan materi yang sudah ditugaskan, lalu mereka harus menyusun lapopran dan mungkin juga mempresentasikannya. Dengan demikian  akan dapat dilihat juga kemajuan para mahasiswa dan keaktifamn mereka dalam mengikuti instruksi kuliah yang diberikan oleh dosen.

Kalau mengingat itu smeua tentu tidak selayaknya kita menyalahkan atau mempersoalkan banyaknya hari libur pada Rabu, karena pada tahun yang lain mungkinyang banyakmliburnya hari yang lain. Dengan begitu kita  dapat saling menyadari dan mungkin tetap akan menjalani kewajiban dan tugas kita dengan tenang tanpa harus mempersoalkan waktu yang tersedia. Sebab semakin kita mempersoalkan waktu yang ada, ada kemungkinan kita justru akan terjebak kepada persoalan lahiriyah dan melupakan substansi yang seharusnya kita tuju.

Mungkin bagi orang yang meang suka dengan hari libur, semakin banyak hari liburnya akan semakin menyenangkan, karena dia pasti akan dapat melakukan aktifitas lainnya sebagaimana yang biasa dilakuka pada hari libur. Memang orang itu bermacam macam, ada sebagiannya yang sudak dengan santai dan tidak menjalankan tugas, ada sebagian yang justru menjadi masalah jika tidak menjalankan tugasnya. Lantas bagaimana dengan posisi kita? Sesungguhnya kita dapat menyesuaikan diri dengan apapun yang kita inginkan.

Artinya jika kita menginginkan untuk dapat menikmati apapun, maka hati kta harus disesuaikan dnegan kondisi yang ada. Jika kita banyak menemui hari libnur maka kita sesuaikan diri kita dengan lbi=uran tersbeut, dan jika banyak hari efektif, maka kita juga sesuaikan dengan hari egfektif tersbeut sehingga tidak ada hari yang kita harus jauhi, melainkan justru semua hari akan enjadi menyenangkan bagi kita. Persoalannya ialah bagaimana kita menyesuaikan diri dnegan kondisi tersbeut? Itulah yang harus kita rencanakan dan biasakan agar kita  mampu berdaptasi dengan semua kondisi.

Siapapun yang dengan mudah mampu menyuesuaikan diri dnegan kondisi, maka dia akan menjadi orang yang paling berbahagia dan terjauhkan dari segala hal yang merisaukan. Menyesaikan diri itu artinya mampu  membahagiaakan diri  dengan apa yang dihadapinya dan sekaligus juga akan merasakan kesenangan dengan kondisi yang ada. Lain dengan orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dnegan suasana yang ada, biasanya akan terasa tersiksa dan akan mudah merasakan kebosanan dan kecapekan.

Pada dasarnya kita memang harus ebrbaiks angka kepada Tuhan sang pencipta hari itu sendiri, karena Tuhan pasti sudah membuatnya dnegan sangat baik, dan tidak ada satu hari pun yang  dimaksudkan untuk keburukan. Karena itulah sikap kita harus kita tanamkan sedmikian rupa tentang kebaikan hari tersebut. Lalu kalau kemudian ditentukan oleh manusia mengenai hari hari tersebut; ada sebagiannya yang dijadikan sebagai hari libur dan sebagiannya hari efektif, maka kita juga harus dapat menrimanya sebagai sebuah konsekwensi hidup bersama dnegna banyak orang.  Tentu ini semua diperlukan latihan yang terus menerus tanpa henti dan tanpa merasa boan.

Kalau kita sudah sangat yakin bahwa semua hari itu baik , dan meskipun kemudian  menjadi hari libur, tetapi kita masih dapat memenfaatkannya untuk kebaikan kita melalui aktifitas yang memungkinkan bagi kita, meskipun tidak harus berupa menjalankan kewajiban atau tugas  tertentu. Semua yang kita jalankan pada setiap hari, baik itu sedang libur maupun sedang efektif, harus kita  tujukan untuk  sesuatu yang baik dan memberikan manfaat, baik bagi diri kita maupun bagi pihak lain.

Tahap berikutnya ialah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada dan menjalani hidup dnegan apa adanya tanpa harus menuntut sesuatu yang  disesuaikan dengan ego dan nafsu kita. Jika ini yang terjadi, artinya hidup yang hanya menyahuti keingina ego dan nafsu,  maka yakinlah bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dan ketenangan jiwa yang hakiki. Mari kita mulai diri kita dnegan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada dengan berusaha dnegan sungguh sungguh, semoga berhasil.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.