MASIH TERKAIT PEMILU

Kita terkadang dibuat tidak mengerti dnegan ulah dan sikap sebagian kita yang masih berkutat dengan pelaksanaan pemilu, padahal semuanya sudah selesai dan tinggal menunggu hasil akhir penghitungan yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu yakni KPU. Kanapa orang masih suka  berandai andai dan melakukan atau memikirkan sesuatu yang tidak ada guna dan manfaatnya? Mengapa mereka tidak berpikir dan melakukan hal hal yang dapat mengangkat diri mereka menjadi lebih baik, lebih sejahtera dan sejenisnya?

Jika yang berpikkir dan  merenungkan tentang pem,ilu adalah merka yang terkait langsung dnegan pemilu tersbeut mungkin masih dapat dipahami, yakni mereka yang  menjadi caleg, apakah perhitungannya  nyandak atau tidak itulah yang menjadi pemikiran mereka, termasuk modal yang sudah dikeluarkan apakah akan dapat kembali ataukah tidak dan lainnya.  Kenyataannya  masih ada saja caleg yang menurut perhitungan sementara tidak nyandak dan dia bahkan yakin tidak akan jadi, lalu sumbangan yang sudha pernah dikasihkan ke sebuah masjid, lalu diambil kembali atau sejenisnya tetap saja ada.

Ada kasus memang seorang caleg menyumbang jam almari untuk masjid, lalu setelah pelaksanaan pemilu dan kelihatannya dia tidak akan jadi, maka kemudian jam tersebut diambilnya kembali, karena memang sumbangannya tersbeut bukan tulus ingin menyumbang, melainkan ad amaksud di dalamnya yakni ingin mendapatkan sesuatu yakni dukungan suara, dan ketika hal tersbeut tidak didapatkannya, maka wajar dia kemudian mengambil kembnali pemberiannya. Namun hal tersbeut dilihat dari sisi etika memang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Namun masyarakat tetap akan membiarkannya, karena mereka juga sudha tahu bahwa sumbangan etrsebut hanya sebuah kedok semata, yakni ingin mendapatkan dukungan suara. Mungkin sebagaian orang juga sudah menyalurkan suaranya kepada yang bersangkutan, namun mungkin juga banyak diantara masyarakat yang tidak memilihnya. Hanya saja bagi mereka yang sama ekali tidak terlibat dalam pemilu  dan hanya sebagai pengamat dan mungkin hanya  sebagai pendengar saja, lalu kenapa mereka masih harus memikirkan pemilu tersebut, dan bahkan harus bertengkar dnegan saudaranya sendiri hanya  gara gara beda dukungan.

Kalau saat ini ada pihak pihak yang saling mengjklaim sebagai pemenang pemilu, maka pasti nantinya akan terkuak siapa sesungguhnya yang memenangkan pemilu presiden setelah KPU mengumumkannya. Kalau saat ini kaoim yang ada mungkin hanya  dilihat dari versinya sendiri dan hitungan internalnya sedniri, dan itu bisa asaja terjadi, namun tentu  sangat naïf jika hanya dari hitungan swendiri kemudian harus menyatakan diri sebagai pemenang dalam sebuah kontestasi besar sseperti pilpres tersebut.

Seharusnya smeua pihak legowo dan bersabar menunggu pengumuman dari KPU yang resmi dan sambil menunggu tersbeut kiranya dapat terus mengawasi jalannya penghitungan dan tidak melakukan hal hal yang justru dapat mengganggu proses itu sendiri. Kita tentu sangat paham dengan smeua pihak yang ingin segera mengetahui hasil pemilu tersebut dan kemudian  mereka memedomani hasil hitung cepat yamng dilakukan oleh ebrbagainlembaga survey yang ada, namun sekali lagi  itu tidak dapat dijadikan sebagai kata akhir atau keyakinan tentang kemenangan, meskipun sekedar untuk referreference dapat dilakukan, tetapi hasil akhirnya tetap harus menunggu dari KPU.

Akibat dari perseteruan dari para elite dan sekaligus klaim mereka, masyarakat pun akhirnya terpengaruh dnegan hal tersebut. Sebagian diantara mereka yang mendukung salah satu paslon lalu ikut ikutan membuat semacam deklarasi kemenangan dan  hal tersbeut lalu menimbulkan kecemburuan pihak lain dan akibatnya terjadi perseteruan dan mungkin malahan bisa tawuran. Hinaan juga sempat muncul dan bahkan saling melaporkan ke polisisi juga terjadi, padahal kita smeua ingin pemilu akan berjalan dnegqan damai dan tidak terjadi pesoalan yang terkait dengan hokum.

Namun kenyataannya memang berbalik seratus delapan puluh derajat karena para tokoh dan elit politik ternyata tidka mampu emberikan pendidian politik yang baik secara lsngsung kepada masyarakat. Seandainya mereka mampu menahan diri dan memberikan penjelasan yang masuk akal, tentu kondisinya akan membaik dan tidak semakin memburuk sebagaimana yang saat ini kita alami. Mungkin pada saat pelaksaan pemilu dapat berjalan dengan baik, tetapi kemudian  muncul  gejolak dan  hal yang tidak diinginkan disebabkan oleh tidak adanya kontrold ari para tokoh untuk menyadarkan para pendukungnya agar bersabar.

Kita memang memahami kondisi masa yang mudah terporvokasi oleh masyarakat lain, namun seharusnya para tokoh  sudah mengetahui hal tersbeut dan lalu mengantisip[asinya dnegan sikap dan tindakan yang mendidik, tetapi rupanya mereka lupa dengan aspek edukasi tersebut, sehingga semuanya menjadi berantakan, dan setelah terjadi  huru hara tersbeut, akan semakin susah untuk mengendalikannya. Hoaks sudah mulai9 menyebar kembali, padahal sebelumnya setelah kampanye berakhir kita ebrharap hoaks akan hilang, tetapi kenyataannya justru malah semakin semarak dan memperihatinkan kembali kebaradaannya.

Saat ini kita hanya dapat berharap kepada para elite politik untuk menyadari kondisi di masyarakat agar tidak semakin tidak terkontrol dan  terjadi perpecahan di masyarakat sendiri, kalau itu yang terjadi, maka tanggung jawabnya tentu ada pada kita semua dan khususnya para tokoh politik mempunyai andil yang sangat besar terhadap terciptanya kondisi yang tidak menguntungkan tersebut. Kenapa kita sudha berkali kali menyelenggarakan pemilu, namun selalu saja masih ada pihak yang tidak puas dengan p[elaksanaannya, mungkin disebabkan adanya kekalahan yang sudha mulai dirasakan atau mungkin juga memang ada kelemahan di pihak penyelenggara di daerah dan lainnya.

Mungkin kondisi p[elaksanaan pemilu serentak tersbeut dapat dikaji ulang, karena banuyaknya etrjadi hal hal yang tidak diinginkan, kita dapat membayangkan betapa capeknya mereka yang sedari malam sebelumnya harus  berjaga  dan setelah itu sejak pagi hario harus bertugas, hingga lerut malam bahkan hingga paginya lagi baru selesai. Dalam kondisi yang demikian biasanya emosi akan mudah meledak jika ada pihak yang memulai, seperti menyalahkan atau memprotyes dan lainnya, dan di situlah dimulainya  keruwetan dan  persoalan.

Tentu akan jauh lebih mudah bagi pelaksaan di lapangan jika  hanya pemilihan presiden dan wakilnya, sehingga mungkin sore hari sudah selesai semuanya. Saya menyaksikan sendiri penghitungan surat suara yang dimulai sejak jam 14, baru selesai  sekitar jam 3 pagi, itupun belum merekap seleuruhnya  yang akan dikirimkan ke tingkat desa dan kemudian kecamatan. Para pemilih punuga  menjumpai banyak k3esulitan karena   banyaknya lipatan untuk emmbuka  nama para calon yang akan dipilih dan coblos, bahkan tidak jarang merka yang kemudian hanya membuka sebagiannya saja lalu mencoblos.

Kenyatan tersbeut  kemudian banyak dijumpai kertas rusak karena sobek dan sejenisnya yang  ternyata dianggap rusak dan tidak saha, padahal pemilih tidak menyadarinya, sehingga mereka akan kehilangan suaranya. Bebwrapa kenyataan tertsbeut seharusnya menjadi catatan tersendiri untuk evaluasi pelaksanaan pemilu serentak sebagaimana yang dijalankan saat ini. Bahkan mungkin ke depan sudah ada rencana untuk membarengkan juga pilkada, baik di tingkat propinsi maupun kabuipaten /kota, pasti akan semakin ruwet dan menyusahkan serta melelahkan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.