MENIMBUN HARTA

Mungkin sedikit berbeda antara menyimpan dan menimbun, meskipun substansinya sama. Jika hal tersbeut dikaitkan dengan harta, maka kesannya akan berbeda. Menimbun harta itu ialah berkonotasi negative, karena akan dapat mempengaruhi perekonomian masyarakat, namun menyimpan harta itu  dapat diartikan secara berbeda, yakni menyimpan untuk  keamanan atau untuk persiapan masa depan dan lainnya, jadi konotasinya positif.  Biasanya orang yang menimbun harta itu disebabkan ada tujuan lain, yakni untuk mendapatkan keuntungan yang besar bagi dirinya denagn merugikan pihak lain.

Secara umum perekonomian akan berjalan lancer jika ada transasksi yang bergairah, karena itu teorinya ialah jika kita dapat menyimpan harta separoh dari yang dimiliki dan separuhnya lagi digulirkan sehingga roda perekonomian akan tetap berjalan dengan normal.  Para ulama fiqh pun juga melarang menimbun harta berdasarkan sebuah riwayat bahwa barang siapa yang menimbun harta maka itu berdosa. Tentu pengertiannya ialah menimbun untuk mkendapatkan keuntungan dnegan merugikan pihak lain. Sedangkan jika  orang menyimpan hartanya untuk keentingan tertentu, tentu tidak masalah.

Kalau diibaratkan pada perekonomian Negara, maka jika para konglomerat dan orang orang kaya, lalu bersepakat untuk meyimpan seluruh hartanya di bank luar negeri dan menguras semua yang ada din negeri sendiri, maka itu sudah pasti akan merugikan perekonomian Negara karena smeua transasksi ekonomi akan macet dan itu berakibat masyarakat  pasti akan mengalamin kesulitan besar. Mungkin para konglomerat akan mendapatkan keuntungan besar dengan menyimpannya di luar negeri.

Jika kita mengikuti apa yang disarankan oleh Bung Hatta, tentu kita tidak akan mungkin mengaliohkan simp[anan uang atau harta ke luar negeri, meskipun beruntung besar, karena sesungguhnya menghidupkan perekonomian  bangsa sendiri jauh l;ebih mulai ketimbanag menyensarakan mereka dengan mengambil utnung sendiri. Untuk itu siapapun boleh menyimpan hartanya, tetapi ingat bahwa  harus ada separuh hartanya yang disebar di masyarakat agar roda perkonomian tetap berjalan dnegan normal menuju kebaikan bersama.

Kita tentu memahami bahwa  ekonomi itu milik bersama dan transasksinya  akan menyertakan smeua masyarakat, dan jiika kemudian dimatyikan melalui pengalihan uang yang ada, maka  secara umum ekonomi akan menjadi lumpuh karena transaksi akan juga mengikuti kelesuan yang terjadi. Masyarakat sesungguhnya tetap akan emmpunyai daya beli danmampu melakukan transaksi dengan normal, akan tetapi omzet yang tidak terlalu significant tentu tidak akan menolong kondisi ekonomi secara umum.

Untuk itulah harus ada kesadaran smeua pihak karena semua membutuhkan pergerakan ekonomi denagn nyaman dan  semua transaski akan sama saama saling menguntungkan. Jika para pedagang kecil selalu akan membeli dan sekaligus menjual dengan mengharapkan keuntungan darinya, maka  wajar jika kita semua membutuhkan  kepastian dan stabilitas harga yang ada di masyarakat. Jika ada  konglomerat yang berusaha untuk menimbun hartanya secara besar besaran dan kemudian menghendaki keuntungan besar dari menimbun tersebut, maka pasti akan mempengaruhi kondisi pasar dan masyarakat secara umum.

Itulah mengapa menimbun itu berdosa dan  tidak seharusnya dilakukan oleh orang beriman. Orang berdagang dan mencari keuntungan itu boleh tetapi jika cara yang digunakannya  justrui dengan mempersulit banyak orang, terutama orang orang kecil, maka itulah yang dilarang. Aakal sehat juga pasti akan membenarkan teori ini, karena bagaimanapun jika kondisi masyarakat labil dan penuh dengan ketidak pastian, akan dapat menyulut ketegangan  dan kekhawatiran banyak orang. Kalau sudah demikian maka mudah saja bagi masyarakat untuk melakukan hal hal yang tidak masuk akal yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat itu sendiri.

Apapun alasannya menimbun harta itu pasti   akan merugikan pihak lain, baik banyak maupun sedikit dan karena  akibat buruk tersebut maka pantaslah kalau Islam kemudian melarang perbuatan menimbun harta tersebut. Perbuatan menimbun harta itu biasanya dilakukan oleh para tengkulak yang  berkeinginan untuk mempermainkan harga, karena kalau ada harta yang ditimbun dan kemudian di tengah masyarakat akan tampak berkurang peredaran barang tersebut, lalu dengan leluasanya mereka kemudian menaikkan harga sambil mereka mengeluarkan ba4rang yang ditimbun sedikit demi sedikit untuk memeproleh keuntungan yang besar.  Sementara masyarakat hanya dapar mengikuti keinginan mereka saja.

Biasanya kalau barang menjadi langka, maka permintaan menjadi sangat kuat dan harga pasti akan semakin meningkat, sebaliknya jika barang melimpah, maka  harga akan  menurun. Nah, biasanya mereka yang berduitlah yang akan mampu mengendalikan harga karena mereka akan menimbun barang terlebih dahulu hingga barang menjadi langka dan selanjutnya mereka akan mempermainkan harga. Itulah yang biasa dilakukan oleh para tengkulak nakal yang hanya memikirkan keuntungan pribadinya saja, tanpa memikirkan bagaimana masyarakat menjadi susah, karena kelangkaan barang.

Dalam kaitannya dengan persoalan ini, pemerintah tentunya juga akan melarang penimbunan barang, karena dikhawatirkan akan dapat mempengaruhi kondisi masyarakat secara umum. Hanya saja control pemerintah mungkin sedikit mengalami hambatan. Untuk itulah masyarakat harus peduli terhadap persoalan ini, disamping pemerintah juga diharapkan akan selalu dapat menyusaikan diri dengan mengeluarkan barang dari bulog untuk mengurangi kelangkaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Kita juga paham bahwa kebiasaan menimbun barang atau harta yang dilakukan oleh para tengkulak itu biasanya  terkait dengan hasil para petani yang tentu sangat   mudah untuk dipengaruhi.  Semisal pada saat sedang panen tembakau, mereka kemudian akan menjualnya dengan harga yang relative murahnkepada para tengkulak, lalu para tengkulak akan menyimpannya di dalam gudang sampai beberapa waktu. Baru setelah bartang menjadi langka, mereka mengeluarkannya dari gudang dan menjualnya kepada pabrik dengan harga yang pasti lebih mahal.

Mungkin kalau yang ditimbun ialah barang yang tidak menjadi kebutuhan masyarakat secara umum, seperti tembakau, munngkin tidak terlalu menuyusahkan masyarakat, tetapi kalau semisal yang ditimbun ialah beras atau gula atau kebutuhan pokok masyarakat lainnya, tentu akan dapat berpengaruh langsung kepada masyarakat, sehingga dengan cepat harga akan berbalik arah dan mereka semakin beruntung dengan meninggalkan kesulitan bagi masyarakat.

Sebagai seorang mukmin seharusnya kita justru akan menciptakan kemudahan bagi masyarakat banyak, bukan sebaliknya justru akan membuat kesusahan bagi mereka. Karena itu sepatutnya kita  melarang dan melaporkan praktek yang dmeikian kepada pihak yang berkompetetn agar  masyarakat selalu mendapatkan perlindungan dalam semua hal termasuk dalam hal ketersediaan bahan pokok  bagi masyarakat.  Mereka para tengkulak yang suka mempermainkan harga di tengah masyarakat tentu akan semakin gila jika hal tersbeut dibiarkan dan sama sekali tidak emndapatkan tantangan dari masyarakat dan pemerintah.

Siapapun yang menggunakan akal sehat tentu akan dapat menilai bahwa perbuatan menimbun barang yang dapat mengakibatkan kelangkaan berang tersebut, tentu tidak sesuai dengan akal dan tuntutan manusia. Para pelakunya seharusnya dapat dijatuhi hukuman pidana karena telah emmpermainkan hidup masyarakat, dengan keinginan untuk memperolehnkeuntungan yang besar bagi dirinya. Untuk itu sekali lagi kita harus sepakat danbersatu dalam memberantas praktek penimbunan barang tersebut.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.