SULITNYA BERSIKAP NETRAL

Mungkin bagi kita yang tidak mempunyai hubungan apapun dnegan para calon, akan snagat mudah untuk bersikap netral dalam pilpres, sehubungan dengan posisi kita sebagai ASN, namun  bagi sebagian orang yang mempunyai hubungan tertentu dnegan salah satu pasangan calon presiden wakil presiden, tentu utnuk netral yang sebenarnya akan terasa sulit. Bagaimana tidak sulit kalau seseorang terikat dnegan sebuah organisasi kemasyarakatan yang jelas jelas berafiliasi kepada capres tertentu, dapat dipastikan secara moral dia tidak mungkin akan mampu bersikap netral, terkecuali hanya dalam kepura puraan.

Saya memp[unyai seorang sahabat yang kebetulan duia adalah aktifias sebuah organisasi keagamaan tertentu dan ternyata organisasinya  terkait dengan paslon tertentu, lalu bagimana dia dapat bersikap khususnya pada saat dia mengikuti kegiatan organisasinya, padahal dia sendiri sebagai seorang PNS yang harus netral dan bersikap dan memilih capres.  Pada akhirnya dia harus  bersikap yang tidak sesuai dnegan hati nuraninya, karena bagaimana pun keterikatan organisasinya cukup kuat dan kebaradaannya sebagai PNS juga berat.

Lain dengan kasusnya orang lain yang bernama  utomo dimana dia adalah seorang suami yang aktif di partai tertentu dan bahkan menjadi salah seorang pengurusnya, meskip[un tidak ikut nyalon sebagai anggopta legislative. Sedangkan isterinya adalah pendukung setia dan berat kepada salahs atu calon yang berseberangan dengan calion yang didukung partainya. Nah, karena itu dia menjadi sangat sulit untuk bersikap dan menentukan pilihannya. Bagi dia untuk memilih tidak cukup nanti di dalam bilik suiara, melainkans ejak sebelumnya harus juga menginformasikan kepada khalayak masyarakat ramai.

Jika dia mengikuti partainya  dan mendukung calon presiden yang didukung partainya, pasti dia akan emndapatkan support oleh  sahabat sahabatnya separate, namun pasti harus berhadapan dengan isterinya sendiri yang memp[unyai pilihan lain. Jika hal tersbeut dibiarkan, bukan tidak mungkin hbungannya  sebagai suami isteri akan terancam juga.  Jika dia mengikuti isterinya dnegan mendukung calon sebelah yang didukung oleh isterinya, pasti dia akan dijauhi dan bahkan di pecat oleh organisasnya dan bahkan mungkin dicap sebagai kader yang tidak  loyal dan lainnya.

Nah, dengan kondisi demikian terkadang dia sama sekali tidak menjadi aktif dan berdiam diri meskipun hatinya sangat berkeinginan untuk melakukan aksi tertentu. Jadilah dia bukan sebagai dirinya sendiri, melainkan hanya untuk mendapatkan posisinya yang tetap sekaligus  untuk tetap mempertahankan kondisi rumah tangganya. Mungkin kedengarannya sangat lucu dan  sebagiannya mungkin akan menertawakannya, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh sebagian masyarakat kita.

Untuk itu ke depan harus ada mekanisme yang jitu untuk emngatasi ebrbagai masalah yang mungkin timbul sehubungan dnegan pemilu tersebut. Artinya Kita harus mampu menjadikan pemilu sebagai sesuatu yang menyenagkan, bukan malah menyengsarakan.  Biarlah yang  menyelenggaraklan dan yang mendukung  capres atau cagub atau bup dan sejenisnya partai politi saja, sedangkan untuk organisasi kemasyarakatan tidak perlu ikut di dalamnya, meskipun hanya sebagai pendukung semata.

Para pimpinan ormas harus tegas untuk menyatakan bahwa organisasinya netral tidak cenderung kepada pihak tertentu, sehingga orang orang di dalamnya  dengan bebas dapat menentukan pilihannya sendiri sesuai dengan hati nuraninya masing masing. Mungkin saat ini secara formal ormas yang ada juga sudah netral, namun dalam praktyeknya, terutama  di kepengurusan di daerah tentu masih  sangat kental dengan  pilihannya tertentu dan bahkan akan  memberikan sanksi bagi anggota ormasnya yang tidak sejalan dnegan para pengurusnya.

Kita harus memberikan apresiasi tinggi kepada pimpinan ormas yang denagn tegas dan secara konsisten memberikan himbauan kepada warganya untuk bebas meentukan [ilihannya sesuai dengan hati nurani mereka, dan mungkin hanya memberikan saran untuk memlih calon yang terbaik menurut hati dan pikiran mereka.  Bagimanapun kita masih tehu bahwa sebagian orang yang saat ini berada di orams tertentu syahwat politiknya masih terlalu tinggi sehingga tidak akan mampu melepsskan politik begitu saja, dan harus memerlukan waktu p[anjang untuk menyesuaikannya.

Mengingat banyak kejadian di masyarakat yang membuat mereka susah pada saat menghadapi pemilu seperti saat ini, kita tentu juga sangat ebrharap kepada partai politik untuk juga konsisten dengan pendirian para petinggi pengurusnya, dan tidak emmbuat bingung anggotanya, sebab jika tidak konsisten, juga berpotensi utnuk meresahkan masyarakat yang ujung ujungnya pasti juga akan embbuat  susah masyarakat. Artinya jika sebuah pastai pollitik sudah menentukan garisnya secara tegas, maka seluruh pengurus dari pusat hingga daerah harus patuh dan megikutinya.

Meskipun kita tahu bahwa memilih calon itu merupakan hak  pribadi yang tidak boleh diin tervesni oleh siapapun, namun kita juga sangat tahu bahwa partai politik emmpunyai kekuatan mengikat kepada warganya untukntaat dan patuh kepada pekutusan pimpinanya.  Harus ada ketegsan dari pimpinan partai karena jika tidak maka akan terjadi kekacauan di dalamnya. Jika ada  kadernya yang mbalelo dengan mengalihkan dukungannya kepada pihak lain, sebaiknya harus ada sanksi tegas terhadap pembangkangan tersbeut, sehingga ini akan menjadi sok terapi bagi yang lainnya.

Dalam paratai ploitik pemberian sanksi demikian tentu snagat wajar karena politimk memang dibangun untuk sebuah kekuasaan, dan kekuasaan itu memerlukan ketegasan dan mkomitmen yang jelas dari para anggotanya. Untuk menjadi sebuah partai pliotik yang kuat tentu harus  disupport dengan para kader yang kuat dan loyal sekligus juga dengan komitmen yang jelas terhadap masa depan mereka. Lain dengan orams yang keanggotaannya suka rela dan  setelah itu punuya terserah kepada masing masing anggota.

Nah, jika kemudian ada kaitannya dengan persoalan politik yang memang bukan dalam bidang dan konsennya, maka anggota boleh ebrbeda dengan yang lain dan menentukan pilihan politiknya. Karena itu sebagaimana himbauan di atas  bahwa pengurus dan pimpinan orma sebaiknya tidak terafiliasi kepada salah satu partai politik dan tidak usah ikutan dalam mendukung calon yang ada, karena kalu itu dilakukan, pasti akan menyulitkan anggota dan warganya.

Sementara itu bagi masyarakat biasa sesungguhnya untuk menjadi netral itu sangat mudah karena tidak ada  satu p[ihak pun yang mampu menghalanginya. Termasuk kalu ingin mendukung salah satu pihak. Karena itu  menjadi orang bebas itu sangat nyaman kaitannya dengan pelaksanaan pemilu. Tetapi terkadang juga  dapat emnjadi susah, karena idak mempunyai nauangan yang akan menjadi persinggahan jika sedang mengalami persoalan tertentu. Hanys aaja sebagai orang bebas itu masih lebih baik ketimbang sebagai bagian dari sebuah oramas tertentu yang mengikatnya.

Sesungguhnya jika kita dapat ebrsikap netral dalam situasi apapun, meskipun kita terikat oleh ikatan tertentu semisal menjadi ASN, tetap saja kita akan mudah berbuat netral. Kita dapat menjalankan peran kita sebagaimana mestinya dan tidak perlu khawatir akan dituduh sebagai tidak taat kepada aturan, karena kita memang mengetahui batas batas aturan yang ada sehingga kita dapat mengeremnya sebelum melanggar aturan etrsebut. Tinggal kita mampu atau tidak untuk bersikap demikian, jawabannya tentu kembali kepada kita masing masing.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.