BERAGAMA MELALUI MEDIA SOSIAL

Kita tahu saat ini perkembangan teknologi, khususnya melalui media social demikian  pesat sehingga tidak mungkin kita  menyetopnay atau bahkan mungkin melarangnya.  Sebagai sarana untuk berkomunikasi, tentu media social berlaku netral, dan para pengguna dan pengisi konten sajalah yang akan menentukan perjalanan media social etrsebut. Apakah akan menjadi baik bagi masyarakat atau sebaliknya malah menjerumuskan mereka.  Jadi apapun dapat masuik ke dalam media social, termasuk beragam tentunya.

Lalu bagaimana beragama melalui media social, apakah bisa dilakukan. Jawabannya tentu bisa dan bahkan harus. Namun sayangnya belum banyak orang orang baik, khususnya para ulama yang menyadari hal ini dan belum ada upaya nyata untuk mengupayakan mengisi komnten konten pembelajaramn agama  ke dalam media social dengan kemasan yang menarik. Kiranya saat ini kita dapat menyatakan bahwa mengisi konten  media social mengenai beragama bagi masyarakat muslim yang benar sesuai dnegan apa yang diajarkan oleh Nbai Muhammad saw, adalah merupakan  fardlu kifayah bagi umat muslim.

Kita meang dapat menemukan banyak konten  tentang keagamaan  namun justru kandungannya tidak menyeluruh dan tidak sesuai dnegan ajaran para ulama, kebanyakannya ialah hanya menampilkan ayat ayat alquran ataupun hadis dan diterjemahkan begirtu saja  sehingga para pembaca hanya akan memahaminya sebagaimana teks yang ada.  Padahal kita tahu bahwa untuk memahami sebuah teks, dibutuhkan banya prangkat ilmu lainnya sehingga tidak akan keliru.

Untuk masyarakat secara umum sesunguhnya  dapat dilakukan  pemberian informasi tentang agama dari sisi fiqh yang sudah jadi sehingga mereka tinggal memahaminya tanp[a harus mencari ilmu lainnya. Hanya saja untuk menampilkan yang dmeikina belum ada yang memulainya.  Lalu apa yang kita saksikan hari ini ialah banyak masyarakat yang kemudian salah dalam memahami teks, baik itu alquran maupun hadis nabi, sehingga mereka menjadi penganut islam keras dan itu sulit untuk diperingatkan karena mereka mengeahuinya melalui media social yang dianggapnya final dan paling benar.

Sudah saatnya kita membentuk tim yang  khusus mengenai  penyebaran islam yang moderat melalui media social, dan itu membutuhkan banyak pihak, baik ajhli dalam bidang hokum Islam, ahli IT dan sekaliogus ahli komunikasi. Dengan tim semacam itu kita akan dapat emnyuguhkan tampilan yang menarik bagi para pengguna media social yang kebanyakan ialah kaum milenial dan sekaligus dapat meberikan komnten yang benar serta sesaui dnegan keinginan para kaum milenial dan bahklan  semua segmen masyarakat.

Kita benar benar merindukan  kehadiran tim tersebut karena kita menjadi sangat ngeri saat menyaksikan betapa saat ini banyak onten yang dapat mengarahkan para pembacanya untuk menjadi pengikut Islam yang garuis keras, dan bukannya Islam yang ramah dan menyenangkan. Jika kita  mengikuti  konten yang disusun oleh mereka yang tidak peduli terhadap keselamatan umat dan hanya menampilkan sesuatu yang lahiriyah semata, dapat dipastikan  kita juga akan menemukan beberapa kejanggalan yang kalu kita ikuti akan membahayakan umat dan bahkan bangsa ini.

Padahal  dalam menuntut ilmu kita harus mempunyai guru yang jelas, atau dalam bahasa lainnya kita memerlukan guru yang akan mengajarkan ilmu dimana guru tersebut harus dapat diurut hingga sumbernya yang asli.  Istilah lainnya  guru kita harus mempunyai sanad hingga Rasulullah saw.  Di pesantren guru guru tentu akan dapat dirunut hingga sampai kepada Nabi Muhammad saw, karena merka selalu berguru kepada guru yang benar dan mengajarkan ilmua dnegan tulus, bukan memlaui  social media.

Bagaimana mungkin kalau kita hanya berguru dan bertanya tentang agam  melalui google, lalu bagaimana pertanggung jaaban kebenarannya? Karena itu jika ada tim yang nanti akan menyebarkan ajaran islam moderat melalui media social tentunya juga harus diberikan referensi dan  guru yang dapat ditemui dan dipertanggung jawabkan keilmuannya.  Ilmu yang disampaikan melalui media social harus dapat  dirunut sumber aslinya dan dengan mudah didapatkannya.

Nah, bagi para pembaca dan penikmat media social juga harus cermat. Artinya jangan asal mempercauyi smeua hal yang disampaikan melalui media social, melainkan harus mau dan mampu melakukan tabayyun terhadap apa saja yang diterimka melalui media social. Kita tahu bahwa tidak smeua yang disampaikan melaui media social itu benar dan dapat dipertanggung jawabkan, apalagi kalau referensi dan sumbernya tidak disebutkan dan tidak jelas. Jangan sampai justru kita akan mnedapatkan dosa berlipat ganda, yakni dosa kita mengikuti sesuatu yang tidak jelas dan dosa karena kita ikuit menyebarkannya kepada pihak lain.

Mari kita biasakan untuk ceck and receck terhadap apapun yang masuk ke dalam diri kita, terutama jika itu melalui media social. Kita sudah membuktikan betapa  banyaknya  hoak dan fitnah yang dimasukkan ke dalam media social yang terkadang kita anggap sebagai sebuah kebenaran.  Mungkin saja berita dan infromasi yang ada  sepetinya benar, namun setelah dicek ternyata itu hanyalah kebohongan belaka. Untuk itu sekali lagi kita haruys cermat dan tidak boleh sembarangan dalam menerima sebuayh informasi dan berita.

Media social hanyalah media yang jika kita memanfaatkannya untuk kebajikan, maka kita etntu akan memperoleh kebaikan, sebalinya jika kita justru memanfaatkannya untuk keonaran dan menyebar kebohongan, maka itu akan menjadi buruk bagi kita dan orang lain. Jadi manfaatkan teknologi media social ini untuk kebaikan dan sekaliogus untuk berdakwah. Dengan berdakwah yang benar melalui media social ada kemungkinan kita justru akan mendapatkan banyak pahala, karena pengikutnya dan mereka yang mengakses  menjadi lebih banyak ketimbang jika kita melakukan dakwah secra langsung melalui cerqmah dan tulisan.

Pengguna medsia soasial itu sangat ebragam mulai anak kecil hingga orang dewasa, meskipun disinyalir bahwa yang terbanya menggunakannya ialah kaum milenial. Nah karena itu yang terpenting lagi ialah bagaimana kita memahami   keinginan para kaum milenial tersebut dan bagaiman kecenderungan mereka sehingga apapun yang kita sajikan nantinya akan sesuai dengan keinginan mereka. Penting bagi kita untuk menyesuaikan apa yang akan kita berikan kepada para penerimanya. Jika kita tidak emmperhatikan para penerimanya,  yakinlah bahwa apa yang kita suguhkan pastinya akan ditinggalkan tanpa disentuh sedikit pun.

Kita semua seharusnya  mampu memberikan arahan kepada anak anak kita agar mereka berhati hati dalam membukan dan mengunakan media soaial agar mereka tidka terjebak dalam persoalan yang mereka nantinya akan sulit untuk menghindar. Bagi para pelajar dan mahasiswa  sudah seharusnya membuka dan menggunakan media social untuk jkepentingan mendukung perkuliahan atau sekolahnya, dan itu pasti dapat dilakukan dnegan mengunjungi situs situd pendidikan yang ebnar dan memberian banyak informasi mengenai  pendidikan.

Selanjutnya jika masih ada kesempatan juga diharapkan untuk mengunjungi situs  agam yang akan emberiakn pencerahan kepada mereka  dan sekaligus memberikan bekal kuat bagi pengembangan diri mereka dalam mengarungi hidup di dunia.  Namun dmeikian jangan smapai hanay ebrhenti di situ karena ada hal pentinga yang harus diklarifikasi kepada  ulama, dan karena itu belajar secara langsung kepada para guru yang mempunyainkompetensi dalam bidang agam menjadi mutlak dilakukan. Semoga  ke depan akan semakin banyak media soaial yang mampu mengarahkan par penggunakan untuk menjadi orang baik, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.